"Mas Reyndra meneleponku?" tanya Lenny sambil memegang ponselnya dan menaruhnya di telinga.
"Iya, aku mengkhawatirkan keadaanmu, soalnya tadi malam aku mimpi buruk yang membuatku takut," jawab Reyndra di seberang telepon.
"Mimpi apa, Mas?"
"Bagaimana kalau kita ketemu? Aku kebetulan lagi muter-muter di wilayah sekitar perumahan tempat kamu tinggal."
"Aku heran, tadi aku telepon langsung Mas angkat, apa Mas memang nunggu teleponku?"
"Iya, aku serius khawatir tentang dirimu. Entahlah, aku semalam tidak tenang tidurku."
"Apa semua karena aku?"
"Iya," jawab Reyndra.
Lenny terdiam, ia merasa tak enak hati karena Reyndra gelisah gara-gara dirinya, tapi mau gimana lagi, sekarang Reyndra sudah tahu keadaannya.
"Dik, kok diam?" tanya Reyndra karena Lenny yang diam tanpa kata.
"Gak apa-apa, tapi aku disuruh belanja ke pasar oleh mertuaku, apa Mas Reyndra bisa antar?"
"Bisa banget!"
"Kalau bisa aku gak jadi pesan gocar."
"Bisa kok, tenang aku dah ada di sekitar perumahan, share lokasi kamu, Dik!"
"Ok, siap. Aku share lokasi"
"Ok, aku tutup teleponnya ya?"
"Iya Mas!"
Sambungan telepon dimatikan. Lenny mengucap syukur saat dirinya sendiri tanpa teman, Reyndra datang memberikan semangat hidup.
"Di saat hubunganku tak jelas dengan Mas Ghiyan, Mas Reyndra memberiku semangat hidup, aku kini tak lagi bersedih."
Lenny lalu mencari tempat duduk sambil menunggu Reyndra datang, ia duduk di pinggir trotoar, ia duduk begitu saja tanpa alas apa pun. Pandangan matanya menyisir area jalan perumahan yang masih sepi.
"Masih pagi, jadi tak ada orang yang ke luar dari rumah."
Lenny menaruh kepalanya di atas lututnya, tangannya lalu merangkul lutut dengan eratnya, hawa dingin di pagi itu membuat Lenny kedinginan karena bajunya yang tipis.
"Kenapa tadi aku tak pakai switer? Aku sekarang jadi kedinginan."
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil mendekat, Lenny mengangkat kepalanya, tapi mobil itu berjalan pelan melewati dirinya, lalu mobil itu berhenti sedikit jauh darinya, ia menaruh lagi kepalanya di atas lututnya.
"Aaah, itu bukan Mas Reyndra, karena mobilnya tak berhenti dekat aku," gumamnya.
Tapi dugaan Lenny salah, mobil yang berhenti agak jauh itu ternyata adalah Reyndra. Pria tampan dengan tubuh proporsional itu turun dari mobil dan segera mendekati Lenny.
"Sedang apa kamu duduk di tepi trotoar?" sapanya sambil membuka jaket yang ia kenakan lalu meletakkan di atas bahu Lenny.
Spontan Lenny menatap Reyndra berdiri di depannya, Lenny tadi duduk tanpa menyadari kedatangan Reyndra karena langkah kaki Reyndra begitu pelan, lagi pula dirinya menghadap berlainan arah dengan kedatangan Reyndra.
"Eh, Mas Reyndra."
"Iya. Lenny, kenapa kamu duduk di sini? Aku kira kamu tadi pengemis."
"Mas Reyndra jahat amat bilang aku pengemis."
"Maaf, tapi penampilan kamu yang lusuh dan tas rajutan dari tali plastik ini membuat aku berpikir begitu. Aku pikir kau akan berpenampilan seperti seorang nyonya besar karena kamu tinggal di lingkungan elit."
"Mas, yang kaya itu suamiku, bukan aku!"
"Bukankah, harta suami juga harta milik istri?"
"Itu bagimu, tapi bagi suamiku beda pemikirannya."
Reyndra duduk di sebelah Lenny, ia lalu memandang Lenny dengan seksama.
"Dik, sebenarnya apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu berpenampilan seperti ini? Lalu kenapa kamu terlihat sedih."
Lenny berdiri dari duduknya, melihat Lenny berdiri, Reyndra pun ikutan berdiri. Mereka lalu saling pandang sejenak.
"Aku barusan duduk, malah kamu berdiri."
"Aku harus cepat berangkat ke pasar." Lenny memberi alasan.
"Wajahmu kusam dan matamu bengkak. Dik, kamu habis menangis?" tanya Reyndra sambil memandang Lenny.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Lenny buru-buru memalingkan wajahnya, ia berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Aku tidak apa-apa. Maaf, bisa kita berangkat ke pasar?"
"Baiklah, tapi pakai jaketnya, aku lihat kamu kedinginan," jawab Reyndra.
Dengan lembut tangan Reyndra merangkul pundak Lenny dan memintanya untuk berjalan ke arah mobilnya.
"Masuklah!" ucap Reyndra sambil membukakan pintu mobil.
Perlakuan istimewa Reyndra membuat Lenny tersanjung, seumur-umur baru kali ini dirinya diperlukan seperti itu, bahkan suaminya pun tak pernah seperti itu.
'Ya Allah, aku sadar di antara aku dan Mas Ghiyan seperti bumi dan langit hingga aku takut untuk berharap padanya, terlebih sekarang dia bersama Desi, lalu aku harus bagaimana? Andai saja suamiku seperti Mas Reyndra yang perhatian seperti ini,' batin Lenny.
"Kita ke pasar mana?" tanya Reyndra setelah duduk di depan kemudi.
"Pasar Sukolilo saja Mas."
"Kenapa tidak ke swalayan atau super market saja yang bersih dan terjamin kualitasnya, atau pasar modern."
"Mas, kalau ke tempat seperti itu harganya mahal, padahal aku mencari selisih harga buat aku tabung."
"Hah! Kenapa begitu?"
"Maaf, aku tidak bisa bilang saat ini."
"Dik, jangan membuat aku semakin bingung."
Setelah bicara seperti itu, Reyndra memarkir kendaraannya di tepi jalan, sedangkan Lenny memandang ke arah Reyndra dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa berhenti? Kita belum sampai, Mas?"
Raut wajah Reyndra terlihat tidak bahagia, ia memandang Lenny dengan pandangan penuh tanya.
"Dik, kita sudah lama tidak bertemu dan kamu sekarang berpenampilan seperti gembel padahal kata keluarga kamu, kalau kamu menikah dengan orang kaya. Dik, sekarang jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?"
Lenny bungkam seribu bahasa, tenggorokannya serasa kering kerontang, ia beberapa kali menelan ludahnya untuk membasahi tenggorokannya.
"Dik, kenapa diam?"
"Aku-" Lenny tak sanggup bicara, ia bingung mau bicara dari mana.
"Katakan padaku, apa yang terjadi padamu?"
Lenny menggigit bibirnya, ia meneteskan air mata. Rasa sedih dan terluka hati selama ini ia pendam, kini rasanya ingin tumpah ruah saat Reyndra bertanya tentang keadaannya.
"Tenangkan hatimu, setelah itu, ceritakan semua dari awal sampai akhir."
Lenny mengangguk perlahan, ia lalu menghapus air matanya dengan punggung tangannya, ia mencoba untuk menenangkan hatinya yang bergejolak. Setelah tenang dirinya lalu bercerita pada Reyndra dari awal bertemu Ghiyan di cafe hingga menikah dan semua perlakuan kasar mertuanya serta perlakuan Ghiyan yang cuek dan acuh tak acuh.
"Jadi kau menikah dengan dia dan meninggalkan aku hanya untuk menderita seperti ini? Ya salam."
Reyndra tersenyum sinis dan menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tak percaya mendengar semua cerita Lenny.
"Aku tak meninggalkan dirimu, tapi kamu yang menghilang tanpa jejak." Lenny membantah perkataan Reyndra.
"Aku selalu mengirim surat padamu setiap bulan, tapi kau tak pernah membalas suratku."
"Mas, aku tak pernah menerima suratmu, lagi pula aku tak ada di rumah saat itu, aku merantau ke Surabaya untuk kerja di cafe."
"Jadi surat yang aku kirim tak pernah kamu terima?"
"Tidak! Aku tak pernah menerima suratmu, dan kedua orang tuaku juga tak pernah bilang ada surat darimu."
"Oh, aku sekarang paham, jadi kedua orang tuamu menerima suratku dan tak bilang padamu."
"Aku tak tahu Mas. Sungguh aku tak tahu."
"Sudahlah, lagi pula bapakmu sudah meninggal dan sekarang ibumu sakit, jadi biarkan saja, semua sudah berlalu."
"Maafkan aku Mas."
"Tidak Dik, aku yang harus minta maaf, kamu pasti dalam kesulitan waktu bapakmu meninggal dan ibumu sakit sampai sekarang, dan aku tidak bisa membantumu."
"Mungkin kita bukan jodoh Mas."
"Mungkin, tapi nasib orang siapa yang tahu Dik!"
"Iya juga sih! Semua itu apa kata yang di atas, Mas.'
"Ngomong-ngomong, kamu tambah subur Dik."
"Bilang saja aku tambah gembrot!" sinis Lenny.
"Hehehe. Terus terang kamu masih cantik seperti dulu, cuman sekarang sedikit kurang terawat."
"Mas, kalau kamu mau bilang aku gembrot dan jelek, aku tidak apa-apa kok!"
Reyndra tertawa ringan, ia lalu menatap Lenny dengan tatapan mata yang berbinar penuh cinta. Lenny seperti silau terkena pandangan mata Reyndra, ia lalu memalingkan wajahnya.
"Kenapa kamu tidak mau memandangku?"
"Mas, aku tidak bisa memandang kamu, aku malu."
"Kenapa malu? Kita sudah kenal lama dan kita bertemu lagi setelah sekian lama berpisah, lalu kenapa kamu menghindar?"
"Mas, aku sudah menikah."
"Lalu kenapa?"
"Kenapa katamu? Ya tentu saja kita terlarang untuk saling pandang Mas!"
Mendengar ucapan Lenny, Reyndra lalu menatap ke depan mobilnya, pandangan matanya tak bersemangat sambil menghembuskan nafas berat.
"Aku menyesal meninggalkan kamu tanpa kabar."
"Sudahlah, jangan terlalu menyesali masa lalu, Mas."
"Tapi kalau aku tak merantau dan sekolah sampai jadi sarjana teknik seperti ini, mungkin aku masih jadi gembel di kampung."
"Mas, semua sudah ada jalannya, jadi jangan menyesali masa lalu, sekarang yang terpenting kita bicara masa depan yang lebih baik dari masa lalu."
"Aku masih mencintaimu," ucap Reyndra lirih.
Lenny memandang Reyndra, sedangkan Reyndra sedang memandang jalan raya yang ramai dengan lalu-lalang kendaraan bermotor. Tiba-tiba Lenny teringat sesuatu.
"Mati aku Mas!"
"Ada apa sih! Bikin kaget aja, ada apa?"
"Mas, ini sudah jam berapa?"
Reyndra memandang arloji mewah yang dia kenakan, arloji bermerk terkenal dengan desain klasik dan elegan.
"Jam tujuh lebih sepuluh menit. Kenapa?"
"Ya Allah, aku bisa di hukum Ibu mertuaku, Ibu tadi bilang jam delapan harus sampai rumah, Mas!"
"Kita masih ada waktu, Dik."
"Waktu kita mepet, tapi kita belum sampai di pasar, lalu belanjanya kapan? Belum nanti perjalanan pulang, ya Allah, Mas!"
"Tenang Dik!"
"Ini betul-betul gawat, Mas!"
Lenny panik, sedangkan Reyndra bingung harus bagaimana untuk menolong Lenny agar terhindar dari hukuman mertuanya.