Permintaan Aneh CEO

1590 Words
Menemui Priska di ruangannya, Mila menanyakan keberadaan CEO baru mereka itu. Priska menganggukkan kepala sembari mengelus-ngelus perut buncitnya yang terasa kram mulai tadi. Bayi di dalam kandungnya juga terus-terusan bergerak. "Dia itu baik gak sih, Pris?" tanya Mila lagi. Ia takut kalau Nico akan bersikap tidak baik karena kepergok berselancar di dunia maya saat jam kerja. "Yang jelas masih lebih baik dan ramah Pak Prio," sahut Priska. Mendengar sahutan Priska yang seperti itu, Mila sudah bisa menyimpulkan bahwa Nico adalah orang yang tidak baik. Sejak kejadian tadi pagi di aula, sudah jelas bahwa Nico bukan orang baik, karena orang baik tidak akan mempermalukan orang lain di depan umum. Jantungnya berdetak cepat menunggu respons dari dalam. Ia mencoba mengetuk pintu lagi sambil menempelkan telinga di daun pintu. "Masuk!" Pintu terbuka secara tiba-tiba. Nico mengerutkan kening sejenak melihat gestur tubuh Mila saat membuka pintu tadi. Sedikit membungkuk dengan badan yang condong ke arah pintu. Ia kemudian mengikuti Nico berjalan masuk ke dalam ruangan. "Ini laporannya ya, Pak." Mila meletakkan laporan itu atas meja Nico. Saat Nico sudah mulai membuka dan membaca isi laporan itu, Mila pamit hendak kembali ke ruangannya tapi segera dicegah oleh Nico. Gadis itu menghentikan langkahnya kemudian kembali berdiri menghadap Nico. Ia memperhatikan raut wajah Nico yang terlibat serius dengan kening yang sesekali berkerut. Terdengar ketukan pintu diiringi Priska yang masuk membawa beberapa laporan di tangannya. Baru beberapa langkah, secara tiba-tiba Priska mengaduh dengan posisi tangan memegangi perut lalu terduduk di lantai, membuat Mila dan Nico cepat mendekat. Mila segera merapikan laporan yang berserakan di lantai kemudian meletakkan di atas meja. Ia berteriak kecil saat melihat ada air mengalir dari kedua kaki Priska. Nico yang berdiri di dekat mereka, terlihat bingung harus ngapain. Ia tidak pernah berada dalam situasi seperti ini. "Tanggalnya sudah dekat ya, Pris?" tanya Mila panik. "HPL-nya masih agak lama lo, Mil," sahut Priska gusar dengan wajah yang sedikit pucat. Ia takut terjadi apa-apa dengan kandungan, pasalnya ia juga belum siap kalau harus melahirkan sebelum waktunya. Mila lalu meminta Nico untuk memegangi badan Priska yang terkulai di lantai karena takut banyak bergerak, sementara Mila meminta bantuan keluar. Beruntung ada dua karyawan pria berdiri di depan ruangan Priska yang bisa dimintai tolong untuk membawa Priska ke rumah sakit. Dengan keadaan yang mulai melemah, Priska masih sempat meminta Mila untuk membawakan barang-barangnya yang ada di ruangan. Padahal posisinya tengah dipapah oleh dua karyawan tadi berjalan menuju lift. Setelah membereskan barang-barang Priska, Mila hendak menyusul ke bawah dan ingin ikut mengantarkannya ke rumah sakit. Namun, lagi-lagi entah apes atau apa, Nico malah menyuruhnya untuk satu mobil dengannya. Ia tidak ada pilihan lagi, selain mobil yang membawa Priska sudah lebih dulu berangkat, kalau mau menyusul dengan mobil sendiri, ia harus naik lagi ke atas untuk mengambil kunci mobilnya. Begitu tiba di rumah sakit, Priska langsung ditangani oleh petugas rumah sakit. Dua karyawan yang mengantarkan Priska ke rumah sakit, langsung pamit balik ke kantor pada Mila. Sedang duduk menunggu di depan ruangan, seorang suster menghampiri Mila dan memintanya untuk masuk atas permintaan Priska. Dengan santai dan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu, Nico membuntuti Mila masuk ke dalam ruangan. Gadis itu sempat melirik bingung ke arah Nico yang membuntutinya. Terbaring lemah dengan wajah yang sedikit pucat, Priska mengucapkan terima kasih pada Mila yang sigap menolongnya tadi. "Sama-sama, Pris. Jadi ini mau melahirkan?" tanya Mila memastikan. "Kata suster tadi sih belum, tapi emang rembes air ketubannya jadi harus bedrest," kata Priska mengalihkan pandangannya pada Nico. "Maaf saya cuti melahirkannya mendadak ya, Pak," lanjut Priska sambil menahan mules perutnya. "Gak apa-apa, tapi siapa yang jadi pengganti kamu nanti? Minggu ini jadwal pertemuan saya sama klien kan banyak, saya gak mau ke depannya malah jadi keteteran," ucap Nico yang membuat baik Mila dan Priska terdiam. Di saat begini Nico malah membahas masalah kerjaan, seperti tidak ada rasa empatinya pada kondisi karyawan. Namun, secara spontan Nico melayangkan pandangannya ke arah Mila dan menyuruh gadis itu untuk menggantikan Priska sebagai sekretarisnya. Mendengar apa yang pria itu katakan, seketika tubuhnya langsung membeku dan bibir terasa kelu. Ia tidak bisa berkata-kata, bingung harus bersikap bagaimana. Beberapa detik kemudian pria itu pamit dan mengajak Mila untuk balik ke kantor. "Nanti aku bantuin, Mil," ucap Priska tak enak pada Mila yang memasang ekspresi wajah hendak menangis. Dengan berat hati ia melangkah keluar dan mengikuti Nico yang sudah jauh berjalan di depannya. Ia masih syok mendengar ucapan Nico barusan, dalam hatinya berharap bahwa omongan itu adalah asal yang tidak akan direalisasikan olehnya. *** Masih dalam kondisi mengantuk, Mila berjalan menuju lift yang akan mengantarkan ke lantai dua belas. Akhir-akhir ini ia merasa selalu kurang tidur dan capek saat bangun. Ia sempat ragu untuk masuk ke dalam lift karena melihat Nico telah lebih dulu berada di sana, tapi ia tetap saja masuk untuk menjaga kelangsungan hidupnya di perusahaan ini. "Makanya kalau waktunya tidur itu ya tidur," celetuk Nico membuat telinga Mila meninggi saat melihat gadis itu terus-terusan menguap. Mila memilih untuk diam dan tak menggubris ucapan Nico tadi. Sikap Mila itu membuat Nico menatap ngeri ke arahnya, beruntung pintu lift segera terbuka hingga ia dengan cepat pamit keluar terlebih dulu sebelum bosnya itu bertanya hal-hal lain. Nico masih berdiri di depan lift melihat Mila yang berjalan setengah berlari ke arah ruangannya. Ia memasang senyum kemenangan melihat gadis itu masuk ke ruangan yang sebentar lagi akan berpindah. Entah mengapa ia merasa ada sesuatu dalam diri gadis itu yang membuatnya tertarik, sejak pertemuan pertama yang tidak disadari oleh gadis cantik berambut coklat itu. Sambil mendengar musik yang ia pasang dari ponselnya, Mila menyelesaikan laporan yang Pak Irwan berikan. Saking asyiknya, ia sampai tak memperhatikan kalau Pak Irwan sudah berdiri di hadapannya lalu menyodorkan map putih ke hadapan anak buahnya itu. "Ya ampun, Pak. Ini juga belum selesai udah dikasih kerjaan baru aja," sungut Mila sembari memanyunkan bibirnya menatap Pak Irwan. Pak Irwan yang merasa serba salah hanya memasang senyum kecil dengan ekspresi wajah yang sedikit tak enak. "Maaf ya, Mil," ucap Pak Irwan tak enak hati menyuruh Mila membuka map putih itu. Melihat gelagat yang tak biasa dari Pak Irwan, tentu saja membuat gadis itu menjadi was-was. Takut kalau isi map putih itu adalah surat pemecatan dirinya karena sudah bersikap acuh pada bos barunya. Namun, apa yang ia pikirkan salah saat membuka dan membaca kertas yang ada dalam map putih itu. Bukan surat pemecatan dirinya, tapi surat tugas khusus sebagai sekretaris pengganti. "Hah!" seru Mila kaget membuat seisi ruangan menoleh padanya, tak terkecuali Dea. Ia langsung meraih map putih itu dan membacanya sendiri. "Yang bener nih, Mil? Kamu dapat tugas gantiin Priska?" Dea merangkum isi dari surat tugas itu. Mendengar ucapan Dea barusan, teman seruangannya langsung mendekat dan bergantian membaca surat tugas itu. Mila mengangguk sedih dan menceritakan kejadian kemarin pada saat Priska pecah ketuban di ruangan Nico. Sebagai atasan langsungnya, Pak Irwan berkali-kali meminta maaf karena tidak bisa mempertahankan Mila tetap menjadi anak buahnya sebab semua ini adalah permintaan langsung dari CEO mereka. Masih terdiam dengan wajah yang tak bersemangat, ia mengira omongan Nico kemarin cuma asal, tapi kalau sudah ada surat tugas begini ia juga tak bisa berkutik. Mau protes juga gak bisa. Yang lain mulai menerka-nerka alasan kenapa Mila dipilih untuk menjadi pengganti Priska. Mulai dari Mila yang kepergok main sosmed sampai ia yang menerima teguran pada saat acara perkenalkan Nico waktu itu. Ucapan teman seruangannya semakin membuatnya putus asa. "Jangan diambil pusing, Mil. Priska kan cuti melahirkan cuma tiga bulan, setelah itu kamu bebas dan balik lagi ke sini," ucap Pak Irwan mencoba menenangkan kekhawatiran gadis itu. "Tapi tiga bulan itu lama, Pak. Apalagi harus jadi sekretaris Pak Nico, saya kan gak ada pengalaman. Kenapa harus saya sih, Pak?" tanya Mila masih tidak mengerti dengan semua ini. Ia mengambil lagi map putih itu dan membaca dengan lebih seksama. Ia tambah kaget saat melihat tanggal efektif ia bekerja sebagai sekretaris adalah hari ini. Biasanya akan ada jeda satu atau dua hari untuk beres-beres sebelum menempati posisi yang baru. Namun, reaksi yang diberikan teman yang ada di ruangannya termasuk Dea, malah berbanding terbalik dengan perasaan Mila yang sedih. Dengan santainya mereka malah memberikan ucapan selamat, menambah rasa kesal yang ia rasakan. "Tenang aja, Mil. Nanti Bapak coba bicara sama Pak Fikar buat revisi surat tugas kamu itu, sekalian ngasih nama karyawan lain yang lebih berpengalaman untuk jadi sekretaris, tapi sementara waktu kamu harus jadi sekretaris Pak Nico dulu ya. Kamu jalanin dulu surat tugas ini," pinta Pak Irwan dengan segala kerendahan hatinya. Sebagai atasan ia ingin memberikan suasana tenang dan nyaman pada anak buahnya, walau kenyataannya sekarang sedang masa sulit. "Makasih ya, Pak," sahut Mila tersenyum kecut. Ia meraih surat tugas itu kemudian meremas kuat-kuat lalu melemparkannya pada bak sampah yang ada di samping mejanya. Sepanjang ia bekerja di perusahaan ini, setahunya tidak pernah ada pengganti yang diambil dari divisi lain. Perusahaan biasanya akan mencari pengganti dari jasa pihak ketiga. Dengan berat hati setelah jam makan siang, Mila membawa beberapa barang-barangnya ke ruangan Priska. Baru saja selesai merapikan meja, telepon di mejanya berdering. "Baru juga sebentar," omel Mila meletakkan kembali gagang telepon itu di tempatnya kemudian menghampiri Nico di ruangan. Setibanya di ruangan, pria itu menatap Mila dari atas sampai bawah. "Kamu gak bawa apa-apa? Tablet yang ada di meja Priska itu harus kamu bawa ke mana-mana, karena disana semua jadwal saya ada di sana," ucap Nico mengomel. Namun pada saat Mila membalikan badannya hendak mengambil tablet yang di maksud Nico tadi, langkahnya terhenti karena Nico memintanya untuk mengecek laporan yang ada di meja. Mila benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya, ia merasa dipermainkan. Baru akan mengerjakan tugas ia malah diminta mengerjakan yang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD