Biru berdehem, “Cieee … kayaknya ada yang lagi jatuh cinta pada pandangan pertama, nih?” ledeknya kemudian.
Mungkin boleh dikatakan ini pertama kalinya, bagi Gray terjebak lamunan di pinggir jalan seperti ini. Jika bukan karena Biru yang telah menyikut lengannya, mungkin ia akan melamun hingga sampai sore nanti. Padahal Aruna sudah pergi dengan mobilnya beberapa menit yang lalu. Pesona kecantikan gadis itu yang membuatnya jadi seperti ini.
Gray menoleh dan menatap Biru. “Kalau tahu akan berakhir indah kayak gini, aku rela masuk penjara lagi, Ru.”
Biru tergelak. “Ngawur kamu! Udah, simpan saja kasmaranmu itu. Sekarang, kita pulang. Nenekmu pasti sudah lama menunggumu. Nanti aku bisa disemprot nenekmu itu kalau tidak membawamu sampai rumah tepat waktu.”
Gray mengangguk. Mereka berjalan beriringin menuju ke angkotnya. Sementara Gray benaknya sudah tidak berada di tempat ini. Melainkan sudah melayang membayangkan pertemuannya dengan sang nenek tercinta. Satu-satunya keluarga yang Gray miliki.
Mobil angkot mereka melaju lambat saat memasuki jalan dua arah menuju ke sebuah perkampungan yang padat penduduk. Tampak rumah berjejer rapi di kanan dan kiri. Tidak ada satu pun ruang hanya sekadar untuk memisahkan rumah-rumah tersebut. Sempat terpikirkan oleh Gray jika terjadi kebakaran di salah satu rumah. Sudah pasti, api tersebut akan dengan cepat merambat ke seluruh rumah-rumah yang lain. Aish … membayangkannya saja sungguh membuat Gray bergedik ngeri.
Mobil memasuki sebuah gapura yang hanya bisa dilalui oleh satu kendaraan roda empat dan satu kendaraan roda dua. Rumah-rumah mungil berjejer di kanan dan kiri. Tipikal rumah kontrakan yang biasa dihuni oleh orang-orang sepertinya. Biru tampak menyapa setiap orang yang ditemuinya.
Pada sebuah rumah bercat hijau cerah, angkot itu berhenti. Gray turun dari mobil. Menyelempangkan ranselnya, lalu menutup kembali pintu mobil. “Thank’s,” ucapnya.
“Salam buat nek Jingga, maaf nggak bisa mampir,” kata Biru.
“Oke, hati-hati, Anjing—Eh, sorry, maksudku Biru.”
Biru berdecak. Ia melambaikan tangan pada sahabatnya. Lalu, menginjak pedal gas. Angkot biru itu berjalan pelan, sepelan kaca jendela yang terangkat. Banyak makna untuk kebebasan Gray hari ini. Yang mungkin dengan mengucapkan kata ‘terima kasih’ saja masih belum cukup untuk membalas kebaikan Gray selama dua tahun, lima bulan ini. Gray, lelaki itu rela menanggung hukumannya di jeruji besi hanya seorang diri. Padahal, saat itu mereka sedang mencopet dompet seorang polisi bersama-sama. Aish … memang cari mati mereka! Polisi, kok, dicopet!
******
Kedatangan Gray disambut mesra oleh sang nenek. Jingga memeluk cucunya itu dengan erat, sampai Gray sesak napas. Mengalungkan kedua tangan pada leher Gray, serta membasahi tengkuknya dengan air mata kebahagiaan. Gray membiarkan wanita itu memeluknya. Dua tahun tidak bertemu, rambut neneknya itu sudah dipenuhi oleh uban putih, yang di mata Gray malah tampak kece.
Haru biru di rumah itu sangatlah nyata. Namun, hati Gray telah mengeras terlalu lama di dalam penjara. Tidak ada tangis walau sesak hatinya. Bahkan, di dalam otak gilanya, Gray telah berniat untuk mengecat rambutnya itu menjadi abu-abu, supaya bisa menyaingi rambut kece wanita itu.
“Nenek baik-baik saja, kan?” Gray memeluk wanita terpenting dalam hidupnya.
Dua tahun terlalu lama. Pelukan dan tangisan itu tidak akan berakhir begitu saja. Mungkin lima menit kemudian. Atau keduanya bisa berpelukan sampai seharian.
Mendadak haru biru itu pudar saat tiba-tiba saja Jingga melepas pelukan dan memukul bahu Gray bertubi-tubi. “Sudah nenek bilang berkali-kali, huh? Tinggalkan hobimu itu, Gray! Hobi, kok, nyopet!” omelnya.
Gray berusaha melindungi tubuhnya dari amukan sang nenek dengan mengangkat kedua tangannya. Namun, pukulan itu berhasil mendarat sempurna di tubuhnya. “A-ampun, Nek. Aduh, sakit. I-iya, Gray nggak akan ulangi lagi.” Ia pun hanya bisa memohon dan merintih tanpa lagi dipedulikan.
Jingga menghentikan aksinya. Ia mengembuskan napas seraya mengelus d**a. “Dasar anak nakal!” omelnya lagi, sembari menatap cucu kesayangan. Kemudian, terbitlah senyum samar di bibirnya. Membuat Gray ikut tersenyum dan kembali mendekap tubuh mungil sang nenek. Mencoba kembali mencari kehangatan yang sempat hilang selama dua tahun lamanya.
****
Kepulangan Gray dari Lapas sudah sampai di meja makan yang juga dialih fungsikan sebagai meja ruang tamu. Gray melihat banyak perubahan pada rumahnya ini. Ia menyantap habis nasi goreng kebebasan seraya mendengarkan Nek Jingga bercerita banyak hal. Salah satunya, tentang uang sewa kontrakan yang sudah menunggak selama tiga bulan. Di mana Daisy—pemilik kontrakan—terus saja menagih uang tersebut.
TV menyala. Menyiarkan berbagai berita kriminal dan ekonomi. Tidak ada yang mendengarkan. TV hanya jadi sumber keributan yang disengaja untuk mengusir sepi dan canggungnya makan bersama. Jujur saja Gray juga tidak tahu dari mana harus memulai pembicaraan dengan neneknya. Dua tahun, dan mereka sudah seperti orang asing.
“Apa nggak bisa minta waktu lagi sama bu Daisy, Nek?” tanya Gray memulai pembicaraan. Matanya menatap wajah tua sang nenek.
Jingga menggeleng. “Dia sudah nggak mau ngasih kita waktu lagi, Gray. Kalau kita nggak bisa bayar minggu depan, dia menyuruh kita pergi dari rumah ini,” jawabnya sendu.
Jingga sudah berkepala enam. Enam puluh dua tahun. Jingga sudah menjanda sejak sepuluh tahun yang lalu. Mengurus Gray seorang diri sejak menantunya—Rosa—meninggal dunia karena sakit. Meninggalkan Gray yang saat itu usianya masih lima tahun. Sementara, Seta—putra semata wayangnya—pergi meninggalkan istri yang sedang mengandung delapan bulan dengan alasan mencari pekerjaan. Namun, entah ke mana lelaki itu pergi, hingga sampai saat ini belum juga kembali.
“Kamu mau teh, Gray?” Jingga menawarkan.
Melihat hanya nasi goreng saja yang tersaji, menyadarkan Gray jika hidup nenek kesusahan. Pasti sudah lama sekali Nek Jingga tidak makan enak. Tubuhnya saja kurus. Senyumnya melukis lelah, neneknya itu terpaksa bahagia di hari kepulangan cucu semata wayangnya. Dua tahun wanita itu mungkin mengabaikan gizi asal kenyang. Berbagi jatah perut untuk kucuran air dan juga listrik. Dari balik jeruji besi pun keluhan tarif listrik dan air tetap terdengar. Malah di sana Gray bebas dari tagihan itu. Gray jadi bertanya-tanya, sebenarnya siapa yang sedang di penjara?
Gray mengiyakan tawaran neneknya. Ia menyeruput teh tawar. Keluarga ini terlalu miskin untuk membeli rasa manis.
“Besok aku akan cari pekerjaan, Nek,” kata Gray.
“Di mana?”
Gray mencebik dengan bahu yang terangkat ke atas. “Di mana saja, yang mau menerima lulusan STM kayak aku.” Ia menjeda ucapannya. “Dan mantan narapidana,” lirihnya kemudian.
“Mungkin aku akan mencoba narik angkotnya bang Tohar,” lanjut Gray lagi.
Terbitlah senyum samar di bibir Jingga. Semangat Gray memercik hangat ke wajahnya. Bukan bermaksud bergantung dan jadi beban, ia hanya lega karena akhirnya memiliki sandaran. Ia akan melakukan apapun agar sandaran itu kokoh. Saling menyokong dan menguatkan. Keluarga itu pernah melewati yang lebih buruk di belakang. Mereka hanya menunggu hal indah di depan yang saat ini mulai di perjuangkan.