Menatap gedung yang ada dihadapannya saat ini dengan berbagai macam perasaan, diminta datang setelah kedatangan dirinya beberapa hari yang lalu. Kenyataan bahwa dirinya mendengar pembicaraan kembar bersaudara saat itu semakin menguatkan tekadnya untuk menjauh dari semunya. “Permisi saya ingin bertemu dengan Bapak Wijaya Hadinata?” Resepsionis yang menerima Naila beberapa waktu lalu tersenyum “anda sudah ditunggu dan mari saya antar ke lantai dua belas.” Mengikuti langkah resepsionis menuju lantai yang dimaksud, saat sampai berada disana suasana sepi memenuhinya dimana tidak ada orang sama sekali. Naila hanya diam sambil mengikuti langkah dari resepsionis sampai akhirnya berhenti didepan seorang wanita cantik yang secara kebetulan keluar dari ruangan. “Siapa?” “Mbak Naila ingin bertemu

