Terkejut dengan keberadaan Wira yang berada depan pintu kamar mandi, menatap penuh selidik membuat Wira mendengus melihat sikap Naila. “Aku hanya bertanya, Nay?” “Lalu aku harus jawab?” “Setidaknya ketika aku bertemu dengan Benny bisa menjawab kalau itu memang dia,” ucap Wira memberikan alasan membuat Naila mengangguk pelan “sudah aku duga.” Naila mengangkat alisnya “apa yang kamu duga?” “Benny dari dulu nggak pernah percaya atas apa yang keluarganya lakukan ke kamu terutama kakak perempuannya, terkadang aku sering bertanya – tanya kamu melakukan kesalahan apa sama kakaknya?” “Aku bertemu dua kali sebelum akhirnya kata – kata tidak enak itu keluar dan meminta Benny memutuskan hubungan denganku.” Wira menghembuskan nafas “aku tahu jika hal itu hanya saja merasa sangat aneh sehingga

