Sejak kecil, Amanda Roos Marilena cuma dibesarkan oleh Delima, ibu kandungnya. Kelahirannya dianggap keluarga ibunya sebagai aib dan ‘kecelakaan’. Delima tak sengaja mengandung Amanda saat dia masih duduk di bangku sekolah menengah atas.
Ayahnya menolak tanggungjawab. Apalagi, menurut pengakuan Delima, ayah kandung Amanda berasal dari keluarga terpandang. Dari keluarga elit.
Saat tahu kalau putra kesayangan mereka menghamili putri orang pun, mereka bukannya menyalahkan putranya karena tak bisa menjaga nafsunya, tapi malah menyalahkan Delima seutuhnya dan menganggapnya sebagai perempuan murahan.
Padahal itu salah keduanya. Karena yang namanya manusia, tak akan lahir tanpa adanya bantuan spermaa dan sel telur, bukan?
Begitu tahu kabar kehamilan yang tak diinginkan itu, keluarga ayah kandung Amanda langsung bertindak cepat dan tegas. Mereka langsung memberikan Delima uang sebesar lima puluh juta untuk menggugurkan kandungannya. Mereka bahkan juga bersedia mencarikan Delima dokter penggugur kandungan terbaik.
Tetapi Delima menolak mentah-mentah. Apapun yang terjadi, dia harus melindungi putrinya. Darah dagingnya.
Dan sebagai konsekuensinya, Delima harus membesarkan anak itu, yaitu Amanda, seorang diri. Dia harus menanggung semuanya sendirian. Dia juga dipaksa menandatangani perjanjian hitam di atas putih, yang isinya bilang bahwa Delima tak boleh mengungkit masalah ini lagi pada siapapun, tidak ada yang boleh tahu siapa ayah kandung putrinya, dan dia tak boleh meminta dana sepeser pun untuk membesarkan anak itu.
Delima menandatangani surat itu dengan perasaan getir. Dia terikat kontrak seumur hidup. Kalau dia buka suara, maka denda uang dan hukum penjara lah yang jadi taruhannya. Orang yang punya uang dan kuasa lebih memang suka bertindak semena-mena. Tapi apa daya Delima yang tak bisa melawan.
Untungnya, hidup masih berbaik hati. Walaupun ayah kandungnya tak menyayanginya dan malah menganggapnya tak pernah ada, Amanda juga dicintai oleh keluarga dari pihak ibu kandungnya. Begitu Amanda lahir, orangtua Delima sangat menyayangi cucunya.
Mereka juga paham dan ikut menandatangani kontrak itu. Dan pada saat mereka tahu kalau Delima hamil di luar nikah, meskipun awalnya merasa sangat kecewa, tapi mereka tetap menunjukkan dukungan yang luar biasa.
Maka dari itu, sampai kini, Amanda tak pernah tahu bagaimana wajah ayah kandungnya. Toh dia juga sudah menganggap ayah kandungnya telah meninggal.
Tak lama setelah kakek dan neneknya dipanggil menghadap Yang Maha Kuasa, Amanda bertemu dengan Caesar Maximilian. Amanda yang saat itu masih polos pun berhasil masuk ke dalam perangkap Caesar yang berbisa.
Apalagi pada saat itu, karena harta peninggalan kakek dan neneknya sudah hampir habis demi membiayai pendidikannya, Caesar-lah yang banyak membantu ibu kandung Amanda. Berkat dia pula, Amanda dan ibunya bisa tidur di atas kasur yang empuk. Pada saat awal-awal menjalin hubungan pun, Caesar belum menunjukkan perangai aslinya.
Caesar baru berani melepas topengnya dan menunjukkan borok di wajahnya begitu dia telah berhasil menggaet semua yang Amanda punya. Kuasa atas tempat tinggalnya, perhatian ibunya, termasuk keperawanannya.
Ditambah lagi, Caesar juga punya kuasa dan punya banyak uang. Dia putra penerus Auraware Sinergi, perusahaan sukses yang pabriknya tersebar di seluruh penjuru negeri. Sama seperti ibunya dulu, lagi-lagi dia ikut terjerat dalam permainan pria-pria kaya yang suka bertindak seenak jidat.
Dan tidak banyak yang tahu saja, kalau salah satu alasan Amanda tetap bertahan dengan Caesar adalah karena dia takut sendiri. Ya, benar, dia takut tak bisa menemukan pria lain yang akan mencintainya selain Caesar. Caesar lah cinta pertamanya. Tapi cinta pertamanya itu juga yang banyak menorehkan luka di hatinya.
Bodohh memang. Buat apa minum dari sumur yang airnya sudah terkontaminasi oleh limbah?
Namun Amanda bertekad, kalau suatu hari nanti, dia harus benar-benar lepas dari jerat Caesar. Tak peduli walaupun Caesar memaksa. Tak peduli walaupun dia harus kehilangan tempat tinggal dan sebagian harta yang dia miliki.
**Keesokan harinya**
“Hari ini kamu yakin mau makan siang sama teman-temanmu?” tanya Delima yang lagi memindahkan bekal yang tadinya mau dia bawakan untuk Amanda.
Dia kerja di toko bunga, membantu sang pemilik mengurus dan mengepak pesanan bunga, dan sesekali membantu mengurus pembukuan juga. Dari pagi sampai kira-kira pukul empat petang, rumahnya kosong. Tapi Delima selalu pulang lebih dulu dibanding Amanda, yang kerja kantoran di PT. Brisco Sejahtera.
“Iya, bu. Bekalnya buat ibu saja.” Saat hendak mengambil high hels dari rak sepatu, pandangan Amanda tiba-tiba saja teralihkan pada payung warna hitam pemberian sopir pribadi Matthew, yang masih tergeletak di samping rak sepatu.
Usai memakai high heels-nya, Amanda menghabiskan sejenak waktunya untuk memperhatikan payung tersebut. Seolah-olah dia terhipnotis, dan benaknya terpaku seutuhnya pada senyum manis Matthew. Yang entah akankah bisa dilihatnya lagi atau tidak.
“Kenapa melamun, sayang?”
Suara ibunya sontak menyadarkan Amanda dari lamunan di pagi harinya. “Tidak apa-apa, bu,” ujarnya agak salah tingkah. Dia lanjut pamitan, “Aku pergi dulu.”
Setibanya di gedung kantor PT yang punya dua ratus orang karyawan itu, Amanda tidak meletakkan payungnya di tempat penitipan barang. Padahal biasanya barang-barang pribadi karyawan seperti helm, payung, sandal ganti, semuanya ditaruh di loker penitipan barang.
Amanda malah membawa payung itu ke cubicle kerjanya, dan jadilah dia lebih banyak melamun sambil menatapi payung itu dibanding kerja. Dia sampai jadi bahan candaan dua orang kolega kerjanya, si pasangan kekasih yang baru sebulan pacaran, Boy dan Moesha.
“Awas kerasukan setann,” gumam Moesha, yang seketika membuat Amanda tersentak kaget.
“Kok melamun begitu? Ada masalah apa?” tanya Boy. Dia tersenyum heran sambil menatapi payung hitam yang disandarkan Amanda di meja kerjanya, “Terus kenapa bawa-bawa payung ke sini? Warnanya hitam pula. Seperti orang yang lagi berduka saja.”
“Tidak apa-apa kok. Ini payung aku bawa buat jaga-jaga saja. Siapa tahu hujan seperti kemarin,” dalih Amanda.
“Andaikata hujan pun,” kata Moesha seraya menarik kursi di samping Amanda. “Masa iya kamu mau pakai payung ini di dalam gedung?”
Boy memperhatikan wajah Amanda sambil berpangku tangan, “Kamu kelihatan linglung. Apa karena … pacarmu?”
Boy dan Moesha sama-sama sudah tahu soal Caesar. Mereka sering dijadikan Amanda sebagai tempat curhat. Bukan sekali dua kali pula mereka meminta supaya Amanda buru-buru mengakhiri hubungan asmaranya yang tak sehat itu dengan Caesar.
Moesha menatap Amanda iba, “Berhentilah menyiksa dirimu sendiri, Amanda.”
“Kemarin aku sudah bilang putus. Sampai detik ini dia juga belum menelepon atau chat lagi,” ucap Amanda.
“Terus? Yakin dia tak akan mengejar-ngejarmu lagi?” ucap Boy skeptis. “Yakin dia tak akan menunggu di depan rumahmu sambil gelar tikar seperti seorang tunawisma?”
Amanda menghela nafas panjang. “Kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Sana, balik kerja lagi,” tuturnya lembut.
“Aku mau kasih ini,” ujar Moesha seraya meletakkan segelas es kopi gula aren ke atas meja kerja Amanda. Sangkinan tidak fokusnya, Amanda sampai baru sadar kalau dari tadi Moesha sedang memegang segelas es kopi gula aren.
“Kalau aku mau minta sticky notes,” timpal Boy.
“Terima kasih,” ucap Amanda pada Moesha. Diberikannya satu pak sticky notes warna biru pada Boy. “Ini. Jangan kebanyakan pacaran sama Moesha,” candanya.
Siang menjelang sorenya, tepatnya pukul setengah empat, Amanda sungguh tak menyangka kalau Caesar akan mendatanginya langsung ke tempat kerjanya. Dia datang dan membuat kegaduhan. Memaksa masuk sambil marah-marah, seolah-olah dirinya bukan sarjana lulusan salah satu kampus terbaik di dunia.
Sangkin arogannya, Caesar bahkan berani memarahi bos pemilik PT. Brisco Sejahtera. Boy dan seorang security lah yang pertama kali melihat kegaduhan itu. Boy langsung mengadu pada Amanda dan Moesha.
“Aku mau bertemu dengan karyawanmu yang bernama Amanda Roos Marilena!” pinta Caesar memaksa. Suaranya menggelegar sampai ke penjuru lobby.
“Amanda lagi tidak bisa diganggu! Ini ‘kan masih jam kerja! Kalau mau bertemu juga ada etikanya dong! Anda siapa sih?!” bentak si bapak bos. Dia sudah memerintahkan dua orang security buat mengusir Caesar, tapi Caesar malah semakin menantang.
“Halah, aku tidak peduli soal etika!” cetus Caesar seraya bertolak pinggang. “Di mana Amanda? Dia pasti sembunyi di sini, kan? Suruh dia keluar dan bertemu denganku sekarang juga!”
“Caesar!!!” panggil Amanda. Malu, jengkel, khawatir akan dipecat, semuanya berkumpul jadi satu dalam dadanya. Dengan cepat dia meraih pergelangan tangan kiri Caesar. Ditariknya Caesar keluar gedung. Diajaknya bicara di depan gedung. “Kamu mau aku dipecat, hah?! Mau apa sih datang ke sini?!”
“Ck, mau apa? Aku ini kekasihmu!”
“Setelah aku berkali-kali memutuskanmu, kamu masih belum mau menyerah?” Amanda nyaris saja kehilangan akal sehatnya, “Aku masih ada kerjaan. Jadi tolong, kumohon sekali padamu, pergilah dari sini. Sudah cukup kamu berbuat keributan di tempat golf!”
Ah, tempat golf. Caesar masih ingat kejadian kemarin. Tak akan dia lupakan bagaimana rupa wajah Matthew. “Aku akan menemuimu lagi nanti.” Dengan kesal dia meninggalkan Amanda.
Karena Caesar, Amanda sampai diomeli bosnya. Tapi untungnya, bosnya masih berbaik hati dengan tidak memberikan Amanda sanksi ataupun surat peringatan. Namun kelakuan Caesar itu makinlah membuat Amanda gondok.
Dan demi menghibur hatinya sedikit, sepulang kerja, Amanda memutuskan untuk balik ke Green Hill Golf House. Dia naik bus ke sana seorang diri, meskipun jaraknya jauh dan mungkin saja tempat golf itu sudah tutup. Apalagi sudah sore begini.
Benar saja dugaannya. Saat dia sampai di sana, tadinya bapak-bapak penjaga tidak mengizinkannya masuk. Sudah tidak boleh ada pengunjung yang masuk. Pengunjung yang masih ada di dalam saja sudah siap-siap untuk pulang.
Namun karena bapak-bapak penjaga itu merasa kasihan melihat Amanda yang sudah jauh-jauh datang ke sana, akhirnya Amanda tetap diizinkan masuk walau cuma sebentar.
Amanda langsung melangkah menuju kafetaria. Sepi. Cuma ada dua orang pengunjung, seorang karyawan arena golf yang lagi merokok, serta ibu-ibu penjaga kafetaria yang waktu itu juga Amanda temui. Amanda terduduk dengan lemas. Dipandanginya payung pemberian Matthew itu dengan murung.
Ibu-ibu kafetaria menghampirinya. “Sudah mau tutup, Nona,” katanya, yang mengira kalau Amanda mau pesan makanan.
Amanda tersenyum tipis, “Tidak apa-apa, bu. Saya tidak mau pesan kok. Saya … saya cuma mau mampir sebentar.”
“Mau saya temani? Orang-orang sudah pada mau pulang loh.”
“Tidak usah, bu. Terima kasih.”
“Saya lanjut beres-beres dulu, ya.”
Amanda hanya mengangguk. Ditatapnya lagi payung hitam itu. Dia menghela nafas. “Kamu memang bodohh. Sudahlah, lupakan saja dia. Kamu juga tak akan bertemu dengannya lagi, Amanda. Mungkin juga dia sudah ada yang punya,” gumamnya dalam hati.
Diletakkannya payung hitam itu di atas salah satu meja kafetaria. “Saya permisi dulu, bu,” pamit Amanda.
“Hati-hati, Nona.”
Dengan langkah berat Amanda meninggalkan kafetaria. Sesudah keluar dari pintu gerbang masuk Green Hill Golf House, Amanda sempat dua kali menoleh ke belakang. Berharap kalau dia berjumpa kembali dengan pemilik mobil audi hitam yang kemarin mengantarnya pulang …
Sesungguhnya harapan Amanda terwujud. Namun sayang, waktunya saja yang tidak tepat.
Sepuluh menit berselang sesudah Amanda pergi dari arena golf itu, Matthew datang dengan tergesa-gesa bersama dengan Ragnar Valbe, rekan kerjanya yang lagi kebakaran jenggot mencari kartu kreditnya yang hilang. Walaupun kartu kredit itu sudah ditutup nomor rekeningnya, tapi kalau jatuh ke tangan orang yang tidak tepat, bisa gawat, bukan?
Karena Ragnar yakin kalau dia tak sengaja menjatuhkan kartu kreditnya di kafetaria atau arena golf, maka dari itu Matthew bersedia ikut menemaninya. Bukan cuma karena dia mau membantu Ragnar, tapi juga karena dia berharap bisa bertemu kembali dengan Amanda.
“Saya kasih kelonggaran karena Tuan-Tuan sekalian mau mencari barang hilang, tapi lain kali, kalau Tuan datang ke sini setelah jam operasional habis, saya tidak akan mengizinkan Tuan masuk apapun alasannya,” ucap seorang bapak-bapak penjaga dengan tegas. “Soalnya tadi sebelum Tuan-Tuan datang ke sini, ada juga wanita yang katanya sudah datang jauh-jauh, makanya saya izinkan masuk sebentar.”
“Seorang wanita?” tanya Matthew.
“Iya, masih muda. Pekerja kantoran. Saya juga heran mau apa dia sore-sore datang ke sini. Tidak lama juga dia langsung balik. Mungkin mau cari barang ketinggalan juga.”
“Tadi dia ngobrol sama saya kok sebentar,” imbuh ibu-ibu penjaga kafetaria yang membantu Matthew dan Ragnar mencari kartu kredit yang warnanya hitam itu. Dia membuka kunci lacinya lalu memberikan kartu itu pada Ragnar, “Ini, kemarin saya ketemu kartu atas nama Ragnar Valbe. Jatuh di kolong meja. Ini punya Tuan atau bukan?”
Ragnar begitu berseri-seri, “Aduh, benar ini punya saya! Terima kasih banyak, bu! Kemarin saya buru-buru karena hujan, sampai tidak sadar kalau kartu ini keselip dan belum masuk dompet.”
“Untunglah, nak. Saya selalu simpan kalau ada barang jatuh di sini. Siapa tahu pemiliknya balik buat mencarinya.”
Matthew tidak terlalu memperhatikan itu semua. Matanya sibuk menggeledah sekelilingnya. Dan penglihatannya yang tajam berhasil menemukan payung hitam yang kemarin dia berikan pada Amanda. Payung itu masih tergeletak di atas meja kafetaria.
Diambilnya payung hitam itu. “Amanda?” gumam Matthew.
♥♥TO BE CONTINUED♥♥