Bab 5

1031 Words
Akhirnya setelah melakukan pekerjaan yang cukup melelahkan sekaligus menguras otaknya. Memang hal yang paling menyenangkan dalam hidup adalah menyeruput segelas es teh manis sambil merebahkan tubuhnya di atas sofa yang empuk. Sungguh semuanya terbayar berkat kerja kerasnya dalam menulis membuatnya harus membutuhkan lebih banyak imun dengan cara yang berbeda-beda. “Apakah kamu masih melakukan pekerjaan itu anakku sayang,” sindir ibunya Cassandra yang baru saja pulang dari tempat kerjanya. Cassandra tampaknya acuh tak acuh mendengarkan sindiran dari ibunya ini yang sudah bosan melihat rutinitas yang dilakukan oleh dirinya setiap hari. Apakah ibunya tidak tahu bahwa ia harus bekerja lembur bagaikan kuda setelah harus menulis untuk si Rosa yang terus menerornya berulang-ulang kali. Cassandra pun pada akhirnya lebih memilih untuk masuk ke dalam kamarnya agar tidak diceramahi oleh Ibunya. Itulah yang harus di tempuh oleh Cassandra sebagai seorang ghost writer, di omelin oleh orang terdekat karena terlalu banyak melakukan pekerjaan yang tidak pasti. Beberapa menit kemudian, gadis itu sudah berganti pakaian dan ingin segera keluar dari tempat ini mencari suasana yang menyenangkan. Ibunya yang melihat itu langsung jengkel setengah mati akibat perlakuan anaknya yang sama sekali membuat dirinya pusing. “Siang bolong begini mau pergi dimana kamu, ibu heran kenapa kamu sama sekali tidak betah tinggal di rumah ini,” ucap ibunya yang ingin sekali menceramahinya tetapi malah di abaikan karena sudah jelas anaknya akan menutup kupingnya. “Aku mau pergi mencari udara segar, apakah tidak bisa. Lagi pula aku ini sudah dewasa, sudah saatnya aku melakukan sebuah pekerjaan agar bisa mendapatkan rumah yang aku tempati. Karena sekarang untuk saat ini aku sudah tak enakan tinggal bersama dengan ibu,” ucap Cassandra tiba-tiba yang membuat anaknya merasa sedang tersindir. Sungguh, ingin rasanya dia menampar mulut lancang milik anaknya tapi apa daya hal hanya akan membuat gula darahnya tambah naik. “Baiklah, sepertinya ibu hanya akan diam dan melihat perkembanganmu,” ucap ibu Cassandra menyeruput kopi yang belum diminumnya. Cassandra pun akhirnya keluar dari rumahnya. Saat keluar, Laura yang sedari tadi menunggunya sudah siap untuk mengantarkan dirinya di tempat yang nyaman karena Laura tahu bahwa saat ini temannya ini hanya bisa bertengkar dengan ibunya. Lagi pula di umurnya Cassandra sekarang sudah cukup mapan untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan mencari pacar yang sudah siap menemaninya. Kalau itu yang terjadi biarlah, karena ini adalah pilihan hidup yang dijalani oleh temannya ini. Laura berpikir, apakah ini di sebabkan oleh Mantan pacarnya Cassandra yang pernah mencampakkan hatinya sehingga membuat temannya ini lebih mirip orang stres. “Sepertinya ada sesuatu yang sedang kamu pikirkan,” ucap Laura memecah keheningan selama dalam perjalanan. “Tidak ada sesuatu yang aku pikirkan,” ucap Cassandra dengan wajah yang mengerut. “Sepertinya kamu tertarik dengan dengan klien yang aku kenalkan itu,” ucap Laura. “Kamu gila, ya. Buat apa aku tertarik sama klienku. Aku ini profesional, jadi aku tidak suka mengesampingkan hubungan pribadi,” ucap Cassandra. “Astaga, kamu melakukan hal yang klise yang sering terjadi di novel romantis. Palingan kamu bakalan suka sama dia,” Goda Laura yang membuat Cassandra mual. Karena hal ini sering terjadi, Cassandra pun lebih memilih untuk menutup telinganya dengan headset. *** Setelah pulang dari rutinitas harian yang cukup melelahkan. Sebastian merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil melorotkan kancing kemejanya memperlihatkan d**a bidangnya yang cukup kekar di lengkapi dengan keringat di d**a yang sudah menemani sepanjang hari. Hari ini Sebastian merasa cukup capai dengan pekerjaannya karena sepanjang hari ini ibunya terus menerus menelpon dirinya cuma hanya untuk membantunya berkencan. Sungguh, dirinya merasa risih karena ibunya yang suka menjodohkan-jodohkan dia dengan anak orang lain yang belum di kenalnya. Itulah sebabnya mengapa ponselnya di mute. Hal yang paling diinginkan oleh Sebastian setelah sepanjang hari melakukan pekerjaan adalah bisa membersihkan badannya dari bau keringat dengan cara mandi. Oleh karena itu, Sebastian pun mulai membuka bajunya satu persatu memperlihatkan kemolekan tubuhnya yang atletis serta uratnya yang semuanya penuh dengan peluh sebagai hasil dari olahraganya. Setelah dirinya membuka seluruh tubuhnya dirinya bergegas ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dengan shower yang akan membuat tubuhnya bersih kembali. Setelah tubuhnya segar karena mandi, dirinya pun melingkarkan handuk ke punggungnya dan berjalan keluar kamar mandi setelah itu dia pun mendengarkan sebuah suara bel rumahnya yang menandakan bahwa ada tamu yang sedang datang berkunjung ke rumahnya. Dia pun bergegas ke arah pintu depannya dan mulai membukanya, sebuah hal yang mengejutkan karena tamu yang datang ke rumahnya tidak lain dan tidak bukan adalah Laura yang merupakan sepupunya dan tidak lupa dia mengajak seorang wanita yang merupakan ghost writernya. “Astaga, kenapa kamu mengajakku ke rumahnya dan parahnya kamu malah mengajakku ke rumahnya dan parahnya kamu kita datang di saat dirinya baru saja menyelesaikan ritual mandinya,” ucap Cassandra dengan wajah yang memerah karena melihat keseluruhan bentuk tubuhnya yang begitu sempurna. “Sebastian, kamu memang pria yang kurang sopan, seharusnya kamu bilang saja kalau kamu masih memakai pakaian, tetapi karena kekepoanmu membuat temanku ini merasa malu,” ucap Laura sambil mendorong d**a lebar kepunyaan miliknya itu. Laura dan Cassandra pun di persilahkan masuk oleh Sebastian, Sebastian pun mohon izin untuk masuk ke kamarnya untuk mengenakan pakaian agar bisa menutup tubuhnya. Tak disangka wajah Sebastian memerah seusai dirinya masuk ke kamarnya. Dia sama sekali tidak menyangka akan ada wanita yang tersipu malu melihat dirinya yang setengah telanjang. Sebastian pun memukul kepalanya karena dia tahu hal ini sama sekali tidak sopan dan enak untuk di pandang. Maka dirinya pun lebih memilih untuk merenungi kebodohan dirinya daripada harus keluar menunjukan raut wajah yang kurang bersalah di hadapan mereka berdua. Jika Sebastian punya indra keenam mungkin hal ini tidak akan terjadi. *** Cassandra sangat kesal dengan Laura karena temannya ini malah membawanya ke tempat yang ternyata adalah rumah kliennya. Cassandra tidak tahu apa maksud dan tujuan temannya ini, karena dia merasa dunia yang dia pijaki semakin sempit. Cassandra pun ingin menanyakan hal ini kepada Laura agar semua rasa penasarannya terjawab. Tetapi dirinya merasa tidak enak karena hal ini cukup menyangkut privasi orang lain. Daripada pusing, Cassandra lebih memilih untuk membaca buku agar kepalanya tidak berasap karena pusing dengan hal ini. Sesaat kemudian, seorang pria yang telah membuat wajahnya memerah akhirnya datang. Cassandra pun harus berusaha semaksimal mungkin untuk terlihat biasa di depan kliennya yang sudah membuat dirinya melayang selama beberapa saat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD