Devan mulai merasa lega, sebab Warda sudah tidak begitu marah dan bisa menerima kenyataan mengenai masa lalunya yang penuh noda. "Warda, kalau begitu ayo kita pulang sekarang. Rumah jika tanpa kamu tidak bisa disebut rumah lagi. Tempat ternyaman untuk aku pulang adalah kamu, istriku, " bujuk Devan memegang wajah Warda dengan kedua tangan nya. Warda terpana, sosok Devan memang sangat tampan. Selain tampan kaya raya, gagah dan juga pandai merayu dengan kata - kata manis. "Dev, biarkan aku sendiri untuk saat ini. Aku butuh waktu menenangkan diri. Aku butuh waktu untuk berpikir mengenai apa yang akan aku lakukan ke depannya, " jawab Warda melepaskan kedua tangan suaminya dari wajahnya secara perlahan. "Apa maksud kamu? Kamu tidak akan setega ini meninggalkan aku kan? Warda, aku harus ba

