4. Perangkap Devan

1251 Words
Warda tidak menyangka bisa bertemu lagi dengan Devan di sebuah restoran. Entah kenapa setiap melihat pemuda itu dia merasa takut seolah sudah melakukan kesalahan besar. Warda memang gadis polos, dia selama ini selalu merasa hutang budi jika ada orang yang baik padanya. Terlebih lagi dia sudah nekat menjual cincin yang harganya ratusan juta itu. "Tadi kenapa kamu lari seperti melihat hantu saja? Bukankah yang kamu tabrak itu pemuda tampan?" tanya Vanya heran. "Tidak apa-apa, Kak. Aku hanya takut telat soalnya tadi pas kita makan keasyikan ngobrol jadi lupa waktu," elak Warda. "Oalah, kalau begitu ayo cepat kita kembali ke konter. Aku juga mau segera pulang dan tidur," balas Vanya. Untung saja temannya itu tidak menanyakan lebih lanjut, sebab Warda memang takut jika suatu saat nanti cincin itu ditanyakan kembali. Sampai di konter, Vanya berpamitan pulang. Sedangkan Warda masuk ke ruangan bosnya untuk menyerahkan pesanan tadi. "Bos, ini pesanan Anda," ucap Warda sopan. "Iya, terima kasih banyak. Warda, kamu betah kan di sini?" "Iya," jawab Warda tersenyum ramah. "Syukurlah, semangat bekerja ya. Nanti setelah 3 bulan gaji kamu akan aku naikkan seperti yang lain," balas Ardi. "Terima kasih banyak, Bos." Warda kemudian membungkuk dengan sopan lalu berpamitan keluar. Sebagai pelayan Warda memang memiliki pembawaan yang ceria dan ramah, membuat semua orang suka dilayaninya. Terlebih lagi Warda juga sopan dan memperlakukan mereka semua dengan baik. Di tempat kerjanya juga ada satu lagi teman yang tampan, pemuda tersebut bekerja sebagai petugas IT yang khusus service ponsel dan juga memeriksa Ponsel jika ada yang mau jual ponsel di konter tersebut. Meskipun sangat cerdas tapi pemuda itu sangat cuek dan kadang terkesan angkuh. "Selamat siang, Mbak. Aku mau tukar tambah dengan dengan ponsel baru apa bisa?" tanya salah satu pelanggan. "Tentu saja bisa, mau ditukar dengan yang mana?" "Yang itu, kira-kira nanti aku menambah uang berapa?" "Sebentar ya, saya tanya dulu ke bagian IT. Soalnya harus dicek terlebih dahulu ponsel Anda. Silahkan duduk terlebih dahulu, dan ini bonusan minuman." Warda sekali ramah, wajahnya yang imut memang tidak bisa berhenti tersenyum ketika berbicara dengan orang lain. Makanya membuat semua orang begitu Suak mengobrol dengannya. "Kak Bian, ini ponselnya kira-kira dihargai berapa?" tanya Warda ramah. "Aku cek dulu," jawab Bian dingin. Bian memiliki wajah tampan, sayangnya cueknya itu kebangetan sehingga membuat rekan kerja lain merasa takut untuk mengobrol jika bukan karena hal yang penting. Dan Bian sendiri juga tidak pernah peduli dengan hal itu. Tak berapa lama kemudian Bian menyerahkan kembali ponsel tersebut pada Warda. "Dua juta, karena kondisinya masih bagus dan mulus," "Baiklah," jawab Warda. Warda segera menemui pelanggan, pada saat itu Bian sekilas menatap Warda. Di Konter yang berisi 6 karyawan itu hanya Warda yang tidak pernah keberatan dengan sikap Bian. Terkadang justru Bian yang merasa aneh, kenapa Warda masih saja bersikap ramah padanya meskipun dicuekin. Setelah selesai dengan transaksinya, Warda terus bekerja melayani pelanggan. Dia sangat menyukai pekerjaanya itu, selain tidak terlalu berat juga karena gajinya lumayan dibanding konter yang lain. Makanya Warda tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini. Konter yang cukup besar itu buka 24 jam, ada shif pagi, sore dan malam. Dengan durasi bekerja 8 jam seperti kebanyakan. Karena saat ini Warda bekerja di shif sore maka jam 9 malam sudah saatnya baginya untuk pulang. Namun, sayangnya hujan begitu lebat. Ke empat yang lainnya sudah pulang bersama, sebab mereka adalah dua pasang kekasih korban cinta lokasi. Sedangkan kini hanya tinggal Warda dan Bian saja. "Warda, bagaimana kalau aku antarkan kamu pulang sampai halte?" tawar Bian. Warga dengan cepat langsung menggeleng sambil tersenyum, bukan karena tidak mau menerima niat baik pemuda tersebut akan tetapi dia takut naik motor. "Aku mau menunggu sampai hujan reda saja, Kak." "Oh, baiklah kalau begitu aku duluan," balas Bian langsung menuju garansi tempat parkir khusus karyawan. Sedangkan Warda duduk di kursi depan konter, dia menunggu di sana sambil melihat hujan yang tak kunjung reda. ******************************* Devan malam ini mengajak Jeni untuk membeli cincin agar kakaknya percaya jika dia sudah memiliki tunangan, dan betapa terkejutnya jika di toko perhiasan dia melihat cincin yang sama persis dengan cincin yang dulu dibelinya. Devan ingat, jika cincin itu keluaran terbaru yang hanya ada satu. "Apa gadis yang selalu ketakutan saat melihatku itu disebabkan oleh cincin ini ya? Jadi saat aku mabuk dia mencuri cincinku kemudian menjualnya," batin Devan. "Dev, yang ini bagus dan cocok degan jariku," sela Jeni memperlihatkan sebuah cincin. "Baiklah, aku beli ini dan ini," pinta Devan pada pelayan sambil menyerahkan kartu debitnya. "Dev, kok kamu beli cincin dua sih?" tanya Jeni heran. "Kenapa? Kamu cemburu?" goda Devan. "Bukan begitu, terus yang satunya buat apa? Kan tidak muat dengan jariku," sergah Jeni. "Ya aku pengen beli saja," balas Devan menyeringai. Jeni hanya bersikap cuek, sebab dia ingat jika Devan pemuda playboy uang memiliki banyak wanita. "Jen, aku pulang duluan ya. Besok kamu lakukan apa yang sudah aku rencanakan," pinta Devan. "Iya," jawab Jeni langsung menuju mobilnya sendiri. Sedangkan Devan bergegas menuju konter dimana Warda bekerja, dia berharap jika gadis remaja itu masih berada di sana. Entah kenapa Devan begitu bersemangat ingin mengerjai gadis yang tampak imut dan lucu itu. Dan apa yang diharapkan Devan terwujud juga, Warda masih berada di depan Konter sambil tangannya bermain hujan. "Dasar anak kecil, tapi kok bikin aku penasaran ya?" batin Devan girang. Devan segera parkir di depan konter, kemudian segera mendekati Warda. "Permisi," sapa Devan. Warda tampak terkejut melihat kedatangan Devan yang tiba-tiba, gadis itu ingin berlari akan tetapi Devan langsung menarik lengannya. "Tunggu, aku mau bertanya. Aku sudah menghilangkan cincin milik tunangan aku, itu merupakan desain terbaru yang hanya ada satu. Kemarin tanpa sengaja aku melihat kamu memakai cincin yang sama dengan milik tunanganku. Bisakah aku melihat cincin itu lagi?" tanya Devan berlagak polos. Warda terdiam, sebab apa yang dia takutkan terjadi juga. "Tunangan aku marah, jika aku tidak segera menemukan cincin itu maka aku akan diputus. Sedangkan undangan pernikahan kami sudah disebar," balas Devan dengan wajah memelas. Warda semakin takut, hatinya yang murni tidak bisa untuk memungkiri apa yang sudah dia lakukan. "Maafkan saya, saya sudah menjual cincin itu untuk menebus Panti Asuhan. Tapi saya berani bersumpah jika saya tidak mencurinya, malam itu Anda memberikan cincinnya kepada saya saat Anda mabuk," ucap Warda menundukkan kepalanya. Devan sangat menikmati wajah cemas dan tubuh gadis kecil di depannya yang gemetar. Entah kenapa Devan begitu sangat penasaran dan semakin ingin menggodanya. "Astaga... Bagaimana ini? Jika pernikahan aku gagal aku bisa membuat seluruh keluargaku malu. Itu merupakan cincin yang sudah di pesan khusus oleh tunangan aku. Dan dia tidak mau memakai cincin lainnya," ungkap Devan memelas. "Maafkan saya, tapi jika untuk menggantinya saya belum bisa," ucap Warda mulai menangis. Devan menjadi tidak tega sudah mengerjai Warda. Akan tetapi ada perasaan tidak ingin melepaskan gadis di depannya begitu saja. "Bagaimana kalau sekarang kita ke tempat dimana kamu menjual cincin itu. Semoga cincin itu masih ada,soal uang bagiku tidak masalah," ajak Devan. "Kalau sudah terjual bagaimana?" tanya Warda takut. "Ya sudah pasti tunangan aku marah dan membatalkan pernikahan, dan seluruh keluarga aku akan merasa malu. Dan mereka menyalahkan aku," balas Devan. "Maafkan saya, saya sungguh menyesal telah menjual cincin itu. Tapi saya waktu itu sangat terpaksa," ucap Warda sambil menghapus air matanya yang berlinang. "Sudahlah, semoga saja cincin itu masih ada. Jika tidak maka aku harus minta bantuan darimu," bujuk Devan. "Bantuan apa?" tanya Warda penasaran. "Kamu menggantikan posisi mempelai wanitanya," jawab Devan serius. "Apa? Saya baru saja berusia 17 tahun. Bahkan baru sebulan ini mendapat KTP," pekik Warda. "Itu hanya pura-pura saja, yang penting nama baik keluarga aku terselamatkan. Setelah setahun atau dua tahun kamu bisa meninggalkanku," bujuk Devan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD