‘Dimana aku dan siapa pria ini?’
Aku membuka mataku, melihat ada seorang pria paruh baya membawa diriku.
Aku sama sekali tidak bisa melakukan apapun, aku tidak bisa berteriak dan tidak bisa menggerakkan kaki dan tanganku.
“Sekarang sudah aman, tidak apa apa, jangan takut. Paman akan melindungimu mulai sekarang.”
Orang ini sepertinya baik, dia juga mengerti kegelisahan dihatiku dan dia mencoba menenangkanku.
Aku merasa mengantuk sekali, ada apa ini? Dimana ini? Dan apa yang sebenarnya terjadi, aku sama sekali tidak mengerti.
Akhirnya akupun tertidur di dekapan pria paruh baya ini.
5 tahun kemudian…
Di bawah langit senja, angin berhembus, pohon pohonpun ikut bergoyang. Suasana pegunungan memanglah yang paling mantap, hingga sesuatu terjadi...
“Ella, cepat turun, jangan menaiki pohon itu, itu sangat tinggi jika kau jatuh lagi aku tidak akan merawatmu untuk yang kedua kalinya.”
“Dibawah kan ada guru, tenang saja jika aku jatuh nanti guru bisa menangkapku kan.”
“Dasar murid nakal, cepat turun!! Kau memilih untuk turun atau tidak mendapatkan makan malam.”
“Ck, iya iya, aku turun!!”
Ella Ethelbert, itulah namaku sekarang. Saat kupikir aku telah mati dan semuanya berakhir, tapi Tuhan berkeinginan lain, ia malah membawaku ke dunia lain dan sekarang aku dirawat orang ini di tengah hutan, atas gunung.
Tuhan sepertinya sedang berbaik hati padaku dengan memberikan kesempatan kedua.
Aku memanjat sebuah pohon yang tinggi sore ini dan seperti biasanya orang tua itu muncul dan mengomeliku sekaligus menyuruhku turun, sekarang aku sedang otw untuk turun.
Naik pohon itu sudah menjadi keahlianku, tapi yang paling susahnya adalah untuk turun.
Dah naik malah kagak bisa turun, gimana sih nak nak. Oh ya, ngapain susah susah turun yak, mending gue lompat aja dari sini, toh si kakek juga bisa sihir.
“Hei kakek tua, jangan lupa tangkap aku!!”
“Hah!!Apa!?”
Tanpa pikir panjang lagi, mari kita melompat.
Aku langsung melompat dari pohon yang tingginya 15 meter dari tanah. Guru kelihatan kebingungan dan panik tapi akhirnya dia menangkapku menggunakan sihirnya dan akupun tiba ditanah tanpa lecet sedikitpun.
“Terima kasih, guru. Ayo masuk kedalam dan siapkan makan malamnya.”
Aku berjalan dengan santai ingin masuk ke dalam rumah, tapi tiba tiba aku merasa kakiku tidak berpijak ditanah lagi, AKU MELAYANG!!
“Hei anak tidak tau diri, kau itu muridku panggil aku dengan sebutan guru dan juga, kau sudah membuat jantungku hampir copot dari badannya dan sekarang kau dengan santainya berjalan melewatiku tanpa minta maaf!!”
“Tapi pada akhirnya guru menangkapku kan dan juga kalau jantung guru hampir copot dari badannya maka salahkan guru yang sudah tua, jangan menyalahkanku.”
Aku mengucapkan itu semua dengan santainya.
“Berani kau mengucapkan itu, ya. Kalau begitu sebagai hukumannya tidak ada makan malam untukmu.”
“A-apa!! Jangan begitulah guru, a-aku minta maaf, kan sekarang aku sudah turun.”
“Maaf saja tidak cukup untuk sekarang.”
Bagaimana aku bisa hidup tanpa makan malam, makan malam kali ini pasti sangat enak. Pokoknya aku harus dapat pengampunan dari kakek tua ini.
“Kalau begitu apa yang harus kulakukan agar kau memaafkanku?”
“Kalau begitu, mulai besok kau harus ikut berburu denganku, belajar sihir, dan menuruti segala perkataanku, bagaimana?”
“Hei!! Bukankah itu pemerasan namanya, kau tidak bisa melakukan semua itu pada gadis berusia 5 tahun sepertiku!!"
“Kau boleh menolak tapi tidak akan ada makan malam untukmu hari ini. Padahal aku sudah mendapatkan daging yang banyak hari ini, sepertinya akan mubazir, sungguh sayang sekali."
“Ahhh!! Iya deh iya, aku akan melakukannya. Sekarang turunkan aku, aku mau mandi.”
“Anak yang baik.”
Senyum iblis si kakek akhirnya debut kembali, padahal aku baru lepas darinya satu tahun yang lalu sekarang malah masuk lagi.
Guru menurunkan diriku, akupun langsung berlari kebelakang rumah untuk mandi.
“Jangan lupa tepati janjimu anak muda, hahaha.”
Ughhh, Kakek tua menyebalkan, selalu saja menggunakan makan malamku untuk mengancam.
Setelah selesai mandi, seperti biasanya aku akan mengganti pakaian lalu duduk dimeja makan, menunggu makanannya disajikan.
Tak lama kemudian guru, menghidangkan seluruh makanannya dan akupun memakannya dengan lahap.
“Pelan pelan makannya, seperti aku tidak pernah memberimu makan saja.”
Aku tidak menghiraukan perkataan guru dan lanjut makan daging.
“Rambut yang berwarna putih dengan sepasang mata berwarna biru kehijauan.”
Apakah guru sedang mendiskripsikan diriku? Untuk apa?
Jangan jangan guru sedang ingin membuat novel dengan karakter utamanya adalah aku!
“Kau memiliki warna rambut dan mata yang sangat elegan.”
Tentu saja, aku gituloh, kalau ingin izin untuk menjadikan diriku karakter dalam novel aku oke oke aja kok.
“Tapi kenapa kelakuanmu seperti gorilla, aneh sekali."
Seketika itu, makanan yang ada di mulutku langsung tersembur keluar.
“Hei!! Dasar murid tidak tau diri, belajarlah sopan santun sedikit. Setidaknya jangan semburkan makanan yang ada dimulutmu itu pada gurumu sendiri!!”
“Hahh!! Hei kakek tua kau sendiri yang mengataiku seperti gorilla. Apa maksudmu aku ini seperti gorilla!?"
“Heiii!! Dilihat dari manapun kau itu seperti gorilla, mana ada anak perempuan seumuranmu memanjat pohon sana sini dan juga, kau itu bahkan tidak ada manis manisnya sama sekali, untuk anak seusiamu seharusnya kau lebih manis sedikit, ini malah kayak gorilla.”
"Aku ini sudah besar, wajar saja aku tidak bersikap seperti anak kecil. Lagipula kenapa aku harus bersikap manis didepanmu, dasar kakek kakek pedofilia."
"HAHHH!! Dasar murid tidak tau diuntung, dasar anak kecil yang menolak dibilang anak kecil."
Dan begitulah akhirnya, aku harus berdebat dengan guru lagi. Meskipun guru membentak dan mengataiku seperti itu, sebenarnya dia sangat menyayangiku lebih dari apapun.
Dengan berkelakuan seperti ini entah kenapa aku merasa bahwa aku dengan guru terlihat seperti keluarga, sesekali aku ingin memanggilnya kakek dengan lebih hormat.
Meskipun aku sudah berada di dunia lain dengan identitas yang baru dan kehidupan yang baru, aku tetap bisa mengingat kehidupan lamaku.
Kuharap, dengan hari hari seperti ini aku bisa melupakan masa laluku yang buruk dan memulai hidup baru yang indah.
Biarkan aku bergantung hidup denganmu, guru.