Eps 3. Hancur vs Bahagia

973 Words
Tok! Tok! Tok! “Lala, La,” panggil Vera dari luar pintu. Lala menghapus kasar air mata yang masih saja tak mau berhenti mengalir. Dengan susah payah dia bangun dari tempat tidur. Mengamati ranjangnya yang sudah berantakan dan bau. Ya, milik Levine dan miliknya tumpah di seprai ini, dan mungkin saja selimut tebalnya juga terkena bibit-bibit kecil mereka berdua. Sedikit meringis ketika dia turun dari kasur. Menarik seprai dan selimut itu, lalu membawanya masuk ke kamar mandi. Lala menggigit bibir, menahan rasa yang luar biasa di sekujur tubuhnya. Kedua tangan terkepal mengingat seperti apa ganasnya sang kakak. Brengsekk, benar-benar lelaki brengsekk! Dia mencuci muka, membuat rambutnya sedikit basah dan memaki jubah mandi. Kembali meringis saat berusaha untuk berjalan biasa, tapi begitu kesakitan. Lala berdiri di depan cermin, mengatur rambut agar menutupi bagian yang bercupang di leher. Baru setelah semuanya terlihat biasa, dia membuka pintu kamar. “Ma,” sapanya ketika pintu di buka. Kening Vera berlipat melihat anaknya yang kelihatan sedikit pucat. “Kamu sakit?” Lala menggeleng. “Enggak, Ma.” Vera mengulurkan tangan, menyentuh pipi Lala dengan punggung tangan. “Wajahmu pucat, La.” Lala sedikit menghindar, takut kalau Vera akan menyibakkan rambut panjangnya yang digerai kedepan. “Cuma kurang tidur. Semalam aku tidur jam empat. Gara-gara nonton drama di aplikasi.” Bohongnya. Vera menghela nafas dengan gelengan kecil. “Ada yang mau mama bicarakan sama kamu. Tapi … mending hari ini kamu istirahat dulu. Nanti biar bik Puji antarkan makanan ke kamarmu aja.” Patuh Lala mengangguk, lalu menghela nafas penuh kelegaan melihat mamanya pergi menuruni anak tangga. Dia kembali menutup pintu, mendudukkan p****t di tepi kasur dengan begitu hati-hati. meraih ponsel yang ada di atas mejanya. Pelan jarinya mengusap layar tipis itu. [yaang, jadi liat pameran?] Tangannya bergetar membaca chat yang dikirim dari nomor Algi. Chat yang sudah dari semalam dan belum sempat ia buka. [dah tidur, yaang?] [med malem, sayaang. Jan lupa mimpiin gue. Lov yu] Kedua bulir kembali meluncur dengan bebas melewati kulit pipinya. Lala memeluk ponsel, terisak mengingat kejadian semalam yang telah merubah segalanya. Termasuk semua impiannya akan hilang karna ulah k*****t yang dia lakukan sendiri. Andai saja sore itu dia tak menonton vidio yang dikirim oleh Bianca; sahabatnya. Mungkin saja dia tak akan mempraktekkan, dan pasti Levine tak akan melakukan hal kotor itu, kan? Bener kata Algi, seharusnya dia nggak usah dengerin hasutan dari Bianca soal gadis dewasa. Sungguh dia menyesal. Jadi … akan bagaimana hubungannya dengan Algi setelah ini? Semua teman-temannya menganggapnya gadis baik, gadis pendiam dan paling waras dari beberapa cewek yang ada di sekolahannya. Lalu … apa yang akan dikatakan Algi setelah tau semuanya? Apa Algi masih akan tetap mencintainya? “Aku benci kak Levine! AARGGH! AKU BENCI DIA!!” teriaknya, melemparkan ponsel itu ke lantai. Lalu guguan tangisnya memenuhi kamar. ** “Tapi aku belum bekerja, Bi. Gimana kita bisa hidup nantinya?” Bukan menolak, karena gadis seperti Sabina adalah gadis idaman setiap lelaki. Dia cantik, baik, sopan dan selalu sabar menghadapi Levine salama dua tahun menjalin hubungan. Sabina juga bukan termasuk jajaran gadis matre yang selalu menghubungkan semua dengan harta dan uang. Dia terlahir dari keluarga sederhana. Bapaknya seorang pensiunan, mereka selama ini hidup dengan uang itu. Sementara ibunya sudah meninggal saat Sabina baru masuk di universitas. Sangat beruntung dia mempunyai otak yang cerdas, hingga bisa mendapatkan beasiswa dan melanjutkan kuliah sampai akhir semester ini. Gadis berambut ikal ini tersenyum simpul. “Aku bukan wanita yang suka menuntut, Vin. Selama ini aku juga kerja part time.” Berusaha meyakinkan, karena selama ini memang dia selalu serius dengan hubungan percintaannya dengan Levine. Levine diam, mencoba berpikir tentang semua tanggung jawab seorang lelaki setelah menikah. Ini bukan soal gampang tentunya. Jujur saja, dia mempunyai mimpi menjadi seorang pengusaha. Meneruskan perusahaan milik keluarga mamanya. Lalu dia akan menikahi Sabina setelah dia benar-benar bisa berdiri sendiri dengan kedua kakinya. Memberi kehidupan yang layak untuk wanita tercintanya. “Aku … nggak akan paksa.” Sabina melepaskan genggaman tangan. Menunduk menatap kedua tangannya yang berada di pangkuan. “Nggak apa-apa kalo kamu … belum siap. Aku … aku akan bicara sama bapak.” “Bi,” Levine mencekal lengan Sabina, membuat gadis itu urung membuka pintu mobil. “Hari ini aku nggak ke kampus.” Ngomongnya, menatap Levine yang wajahnya terlihat sangat nggak nyaman. Levine meneguk ludah, mengecewakan gadis yang dia sayang, itu seperti menyakiti diri sendiri. “Aku … aku akan nikahi kamu.” Sempat terkejut mendengar kalimat persediaan ini, tapi itu tak berlangsung lama. Sabina menepuk tangan Levine yang masih mencekal lengannya. “Jangan dipaksakan, Vin. Aku tau, pernikahan itu adalah hal yang sakral. Aku nggak mau kamu menyesal di kemudian hari.” Levine menggeleng. “Aku serius, Bi. Aku sayang kamu dan keinginanku adalah hidup sampai tua sama kamu.” Siapa yang nggak seneng dengar kalimat seperti ini dari lelaki yang begitu dicintai? Sama, Sabina sampai menangis bahagia karna keinginannya untuk berbagi susah senang dengan Levine mendapatkan balasan. Levine memiliki perasaan yang sama dengannya. Walau Levine bukan satu-satunya lelaki tertampan di kampus, bukan lelaki populer dan bukan lelaki paling pintar, dia tetap menyayangi Levine. Dan hanya Levine yang bisa mengerti dirinya sejauh ini. “Kamu nggak bohong, kan, Vin?” tanyanya dengan suara tertahan. Satu tangannya mengusap embun yang menghalangi penglihatannya. Levine mengulas senyum tipis, sangat tampan. Lalu tangannya mengusap bulir yang benar-benar menetes di kedua pipi Sabina. “Kamu kenal aku udah lama, Bi. Dan selama ini, nggak ada cewek lain yang menjalin hubungan sama aku. Aku serius. Bawa aku ketemu sama bapak. Biar aku bicara sama bapak.” Sabina mengangguk setuju, berhambur, masuk ke dalam pelukan Levine. “Makasih, Vin. Makasih banget. Aku akan jadi seperti wanita yang kamu mau.” Levine tersenyum, memeluk Sabina erat, mengelus rambut ikal yang warnanya sedikit merah itu dengan perasaan bahagia. Dengan sangat hati-hati ia mengecup puncak kepala Sabina. “Aku sayang kamu, Bi.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD