Safiya Dilamar

1565 Words
"Safiya." Lelaki yang selalu sabar itu kini tersenyum kepada gadis cantik itu, lalu dia bangkit dari bangku dari bambu yang sudah renta, "Kamu mau melanjutkan kuliah, kan Fiya?" Safiya mengangguk patuh. "Iya, Ayah." Wajah lelaki paruh baya itu terlihat serius, ia kemudian melengkungkan senyuman lagi, "kamu tahu kan, Fiya. Biaya kuliah itu mahal. Ayah takut tidak sanggup membiayai kamu sampai selesai, uang Ayah sudah habis untuk mengobati Ibu kamu, sampai akhirnya, Ibumu meninggal." "Lalu, apa maksud, Ayah?" Lelaki paruh baya itu hanya diam lalu menarik nafas dalam. "Bukan begitu, Fiya." "Aku bisa bekerja sambil membiayai kuliahku sendiri, Ayah." "Ya, kamu tak usah bekerja, kamu bisa membiayai sendiri kuliahmu.” "Maksud, Ayah?" "Fiya, Ayah mau cerita sedikit, begini keluarga Pak Surya menginginkanmu sebagai menantu mereka, mereka begitu baik dulu sama Ayah. Jadi jangan kecewakan keluarga Bu Wenda, mengerti maksud, Ayah?" "Maksudnya apa sih?" tanya Safiya langsung bergidik takut, saat Ayahnya menjelaskan cukup detail, sungguh pikiran gadis itu menjadi tidak menentu. "Kamu pasti mengerti maksud, Ayah keluarga mereka akan menikahkan kamu dengan putranya? Karena dulu Papa dan mamanya adalah sahabat, Ayah. Dan mereka janji akan membiayai semua biaya kuliah kamu." Mata gadis itu membola kaget. "Ayah tega! Ini namanya Ayah memaksa? Ayah berbohong, Fiya juga masih kecil, Ayah!" Gadis itu begitu shock perkataan Ayahnya, itu benar-benar tidak bisa Safiya terima dengan akal sehat. "Kamu jangan lupa perjuangan Ayah selama ini Ayah banting tulang untuk menyekolahkan kamu, menafkahi kamu dan membiayai Ibu kamu yang dulu sakit-sakitan itu." Hati Safiya itu begitu sakit, Ayahnya begitu tega mengucapkan hal-hal seperti itu. "Aku mau kuliah, tapi bukan dengan cara seperti ini, Ayah." "Jangan egois, Fiya." "Tapi, Ayah." "Tidak ada tapi-tapi, Ayah hanya ingin melihat kamu bahagia." Safiya merasa ada ribuan ton benda berat runtuh tepat menimpahi kepalanya. Jelas saja gadis itu memberontak dan menolak semuanya, ini tentang hidupnya namun Ayahnya pun murka, mengungkit-ungkit semuanya. *** Keesokan harinya Safiya di panggil ke ruangan guru, karena Bu Nadia ingin berbicara dengan Safiya. "Safiya! Sayang sekali kalau kamu tak bisa kuliah! Ambil jalur bidik misi agar kamu bisa melanjutkan ke perguruan tinggi. Nilai kamu paling bagus lo." "Ya, Bu." "Ibu tahu kamu mampu, Safiya." Safiya terdiam. Berharap agar ia bisa melanjutkan kuliah namun karena perjodohan itu membuat Safiya tak bersemangat hari ini. "Ya pikirkan lagi, Safiya." Safiya hanya mengangguk membalasnya. "Ya, Bu terima kasih buat wejangannya." "Ya ibu bicara begini karena sayang sama kamu." "Ya, Bu. Saya permisi." Kata Safiya seraya bangkit dan berjalan keluar ruangan gurunya. Bruk! Safiya menjatuhkan diri ke atas kursi sekolah dengan kesal sampai si Rara sahabatnya berbalik kepo. "Kenapa lagi, Fiya? Lo kena tegur lagi, ya?" Rara menatap Safiya penasaran. "Hu um. Heran, itu soal kuliah ... fiuh!" keluh Safiya sambil mengacak rambut yang udah kayak kena angin ribut. "Ya udah sabar, namanya juga Bu Nadia pengen liat kamu berhasil." Safiya terdiam. "Fiya! Jadi lo mau kuliah dimana?'' Safiya mendengus pelan. "Tahu ah."p Penderitaan Safiya terus berlanjut. Semenjak rencana ayahnya bicara soal perjodohan kemarin, semua kondisi otak dan batin Safiya kacau. Tidur tak nyenyak, makan tak berselera sampai ia keluar masuk kamar mandi terus menerus karena diare. Safiya stres. Benar-benar setres. Simple bukan tapi Safiya kayaknya berasa paling kacau mikirin perjodohan itu. Kuliah meskipun dapat jalur gratis namun sama saja biaya hidup udah mahal dan tempat tinggal makan juga biayanya gede, cukup buat Safiya pusing jika memikirkan itu. Kali-kali aja ada solusinya. "Makan yuk?" tanya Rara. Safiya malas sambil menguap. "Malas." "Aku traktir deh. Kemarin kan laki-laki tampan itu yang traktir yuk." "Enggak, laper." Rutuk Safiya kesal. "Nolak rejeki. Besok hari kelulusan kita, lo." "Emm. Ra, aku mau beli obat migren ada?" tanya Safiya pada Rara. Siang ini kepala Safiya mendadak keliyengan. Kata orang, jika memendam kekesalan atau masalah dan tidak keluar bisa jadi itulah pemicu migren dan sakit kepala. Yang pasti stress. "Beli obat migren buat siapa?" tanya Rara penasaran melihat Safiya yang sedang memegang kepala sebelah kiri. "Buat guelah emang buat siapa lagi," jawabnya malas. "Kenapa sih lo akhir-akhir ini rada-rada aneh." Safiya hanya mengangkat kedua bahunya. "Lo nggak lagi kesambet kan?" "Rara." "Ye orang lo berubah aneh dari kemarin. Pulang yuk." Safiya dan Rara pulang, kali ini Safiya menurunkan Rara dipasar dimana ibunya jualan sembako di salah satu kios pasar. Safiya merasa jika ia sangat kehausan, siang ini panas matahari begitu garang membuat Safiya ingin minum yang seger-seger. Matanya melirik ke arah kanan kiri berharap ada yang jualan es kelapa langganannya. Nah benar es kepala kesukaan Safiya jualan juga. Safiya memarkirkan motornya lalu berjalan ke arah penjual es itu lalu memesannya. "Es, Mbak satu." "Oke tambah gula gak?" Safiya tersenyum. "Iya deh." "Tumben biasanya ngak tambah pake gula Mbak." Goda penjualnya. Safiya tersenyum lagi. "Lagi mau yang manis-manis saja, Mbak." "Ok." Safiya duduk menunggu pesanan es. "Sekalian aku satu, Mbak." "Siap." Kata penjualnya. "Kayak anak kecil saja suka es manis." Kata seseorang di belakang Safiya. Eh, bentar! Kok, dia tahu kalau Safiya suka membeli es. Safiya sontak menolehkan kepala ke arah samping dan ia temukan laki-laki itu lagi sedang memainkan ponsel sambil menunduk dengan wajah datarnya. "Astaghfirullah! Anda ngapain di sini?" tanya Safiya kaget. Hampir saja Safiya terlihat kaget melihat siapa yang ada di sampingnya sekitar tempat tinggal Safiya tersebut. Seingat Safiya jika laki-laki itu horang kaya kenapa ada di pasar? Why? Laki-laki itu mengangkat kepalanya seraya menyeringai. "Kenapa ini umumkan bebas mau beli dimana saja. Kenapa ada masalah?" Setelah mendengar perkataan itu, seketika mata Safiya membelalak, kelakuan laki-laki itu membuat Safiya jengkel setengah mati. Ia lalu terdiam malas meladeni ucapan laki-laki aneh itu. "Ya, ampun! kau berkeringat. Grogi ketemu sama aku." Safiya tak menyerah, dia semakin bersikap biasa saja sambil menikmati es kelapa muda yang segar di tenggorokan. "Apa kau masih marah kepadaku? Setelah kita berdamai?" Safiya diam saja, meneliti setiap ekspresi laki-laki di depannya. Perasaannya, dia tak pernah menyetujui untuk berteman dengan laki-laki itu, karena sedikit pun Safiya tak pernah merasa bersalah atas segala perbuatannya. "Aku sudah mempersiapkan mentraktir kamu, karena setelah kupikir, ada baiknya kita merayakan hari sebagai seorang teman." Safiya yang sebenarnya sangat malas dengan laki-laki itu. Mendadak ingin langsung pergi. Bukankah urusan mereka sudah selesai. "Duduklah! aku sudah pesan baso untukmu." "Aku sudah duduk dari tadi." Kesalnya. "Yakinlah aku tak akan menaruh racun di baso ini?" Safiya terlihat agak kesal tapi mencoba menguasai dirinya dengan memasang senyum di wajahnya. "Tuan Abram, sudah siap." Kata salah seorang pada laki-laki itu. Safiya masih diam, mengawasi gerak- gerik laki-laki itu ternyata namanya Abram. Ia telah berbisik kepada laki-laki paruh baya itu. "Ayolah! makan! kau pasti lapar." Abram memberikan satu porsi baso jumbo di depannya, menyodorkan baso itu. Safiya memandang baso itu dengan perut keroncongan. Ia lapar tapi uangnya tadi hanya cukup untuk beli es kelapa muda. Walaupun ragu, tangannya tetap meraih mangkuk itu lalu memakannya. Beberapa detik kemudian Safiya mulai kepedesan. Dia mengambil beberapa lembar tisu, untuk mengusap keringatnya, pasti Safiya merasakan kepanasan sekarang. Abram tersenyum licik, kali ini dia tahu jika gadis seusia Safiya jika marah pasti luluhnya dengan berburu kuliner. *** Saat pulang, Safiya dikejutkan dengan beberapa mobil di halaman rumahnya. Safiya pelan-pelan masuk mengetuk pintu samping dengan jantung berdegup kencang. Tangan dan kakinya mulai terasa dingin. "Fiya, sudah pulang, Nak?" Ayahnya membuka pintu. "Bersih-bersih dulu baru temui tamunya." "Siapa tamunya, Ayah?" "Yang kemarin ayah bilang. Ada keluarga yang melamar kamu." Deg! Safiya segera masuk lewat pintu samping. Safiya mandi lalu masuk kamar saat mendengar suara sebuah mobil lagi memasuki halaman. Sayup-sayup terdengar obrolan hangat dari ruang tamu. Sesekali mereka tertawa. Entah membicarakan apa. Safiya masih mencoba menenangkan irama jantung yang bertalu-talu sejak tadi. Bahkan senyum di bibirpun tak bisa Safiya tahan. Begini rasanya akan dijodohkan. Sekali lagi Safiya mematut diri di cermin, saat itulah suara ketukan pintu terdengar disusul suara Ayah. "Calon mertuamu ingin bertemu denganmu. Ayah sudah membicarakan tanggal acara resminya. Nanti, akan menyusul tanggal pernikahan," ucapan sang Ayah semakin membuat jantungnya kembang kempis. Safiya berjalan di sisi Ayah menuju ruang tamu. Rasanya Safiya tak mampu mendongak saking malunya. Akhirnya kepala Safiya terangkat saat mendengar suara mobil memasuki halaman. Dan sontak Safiya kaget melihat siapa yang berada di ruang tamu keluarga besar dari mempelai laki-laki dan siapa yang berdiri di ruang tamu. Wanita cantik yang mungkin saja ibunya. Seketika tenggorokan Safiya sakit untuk berkata-kata. Safiya mendengar ayahnya masih mengobrol hangat saat Safiya mengantarkan kopi juga teh hangat ke ruang tamu. "Sini Fiya, ayo salim sama calon mama mertuamu." Ayah menyikut lengannya. Safiya pun menyalami wanita cantik itu. "Wah cantik, kalem. Cocok untuk putraku yang duda?" Jatung Safiya berdetak. Apa Safiya tak salah dengar ia duda? "Safiya, Tante." "Nama yang cantik sama seperti orangnya aku suka." Dengan bahasa yang sangat santun, ayah menanggapi semua perkataan beberapa tamu. "Anak saya ini baik, tapi masih belia mohon bimbingannya." Ayahnya tak menemukan kata lagi. Pinangan pun diterima, meski hati Safiya terasa berat. "Sudah, Nduk, insyaa Allah ini yang terbaik." Bisik ayahnya. Safiya terdiam. Kerongkongannya tercekat. Tapi, melihat Ayahnya yang begitu semringah, membuat Safiya hanya menunduk setuju. Rombongan yang melamar Safiya. Ingin menjadikan Safiya menantu, ayahnya langsung setuju tanpa diminta. Bahkan tanpa persetujuan Safiya. Safiya melirik wajah ayahnya tidak bisa menyembunyikan bahagia. "Alhamdulillah, semua sesuai rencana." Suara Ayah terdengar getir. "Kami kesini hanya ingin menyambung tali harinya kita majukan saja. Rasanya tak sabar aku pingin melihat mereka menikah," lanjutnya. Safiya hanya diam sembari meremas jemarinya. Sejujurnya hatinya pilu. Bukankah ini perjodohan yang fatal. Safiya kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk. "Sekarang, aku harus apa ya Allah?" "Ibu! Ini kiamat untukku!" bisik Safiya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD