Chapter 5

2908 Words
Aku merapikan cangkir-cangkir kopi yang sudah aku cuci. Sudah dua minggu dia bekerja di Greco Cafe, Paul pemilik cafe sangatlah baik dan perhatian kepada semua karyawannya. Aku mulai bekerja setelah kelas selesai lalu akan pulang di jam 7 malam ketika cafe tutup. Bibi Sophie tidak mengetahui kalau aku bekerja, Aeneas dan Ricko akan bergantian mengantarku pulang setiap kalinya. “Rie, aku perlu ke toilet, apakah kau bisa menjaga Cashier sebentar?” tanya Amber. Dia adalah teman kerjaku, kami berada di shift yang sama karena harus kuliah terlebih dahulu di pagi harinya. “ Iya, tentu..” jawabku sambil berjalan kemeja Cashier. Beberapa pembeli sudah antri untuk memesan, aku menghitung biaya pesanan mereka setelah mereka membayar aku langsung bergerak untuk membuatkan pesanan mereka dan menyerahkan kepada mereka setelah selesai. “Ternyata kau di sini..” Aku mendongak ke arah datangnya suara, Daniel berdiri di counter pemesanan sambil tersenyum memandangku. “Hi..Ada yang ingin kau pesan?” tanyaku mengacuhkan pernyataannya. “Ya..aku pesan 1 cappuccino dan 1 strawberry smoothies..” Aku memasukan pesanannya ke sistem cashier, lalu membuatkan minuman yang dipesan olehnya dan menyerahkannya setelah selesai. “Ini untukmu..seingatku malam itu kau memesan strawberry smoothies” ucapnya sambil menyodorkan minuman yang tadi dia pesan kepadaku. Ya, ketika makan malam dengan kelas Visual Art Aeneas aku memang memesannya, bagaimana dia masih mengingat kejadian 2 minggu lalu? “Mm..tidak terima kasih” aku mendorong kembali ke arahnya. Daniel tersenyum “selamat menikmati..sampai ketemu nanti..” ucapnya dan meninggalku tanpa mengambil strawberry smoothies pesanannya. “Wow..salah satu penggemar?” tanya Amber setelah kembali lagi di belakang counter. “Minumlah…rejeki jangan kau tolak…” lanjutnya. “Ya..tentu..strawberry smoothies buatanku harusnya enak..” sahutku sekenanya Amber tertawa. “yup..aku janji tak akan bercerita ke Ricko…” bisiknya sambil melirik ke arah pintu masuk.Ricko sudah berdiri di sana dan melambaikan tangan ke arahku lalu duduk di salah satu meja pengunjung yang kosong. Aku melirik jam dan baru sadar kalau shiftku sudah berakhir. Amber menduga aku ada hubungan khusus dengan Ricko, walau aku sudah beberapa kali menjelaskan. “Amber..aku duluan ya..” “ Ya..sampai jumpa besok..” Setelah bersiap diri dan mengambil barang-barangku di loker karyawan aku keluar menghampiri Ricko. "Smoothies?" tanya Ricko melihat minuman yang aku bawa. "Ya, buatanku..kau mau coba?" Tanyaku sambil menyodorkan minuman itu kearahnya. Dia menerima dan meminumnya. "Enak? Apakah kau suka?" Ricko tersenyum "Enak…walaupun cukup manis..tapi aku akan menghabiskannya..thanks." Aku baru ingat Ricko tidak terlalu suka minuman yang manis-manis. Melihat dia meminum buatanku, well walaupun Daniel yang membelikannya, entah kenapa membuat hatiku hangat. "Kau sudah makan?" ucapku memberanikan diri bertanya setelah kami keluar dari cafe. Ricko menatapku "Kau membuatkan aku minuman dan sekarang menanyakan apakah aku sudah makan?" Iya lalu kenapa pikirku. "Kau…tidak sedang mengejarku kan?" lanjutnya "Lupakan!" ucapku kesal sambil pergi meninggalkannya dan berjalan lebih dulu. Ricko berlari kecil dan mengimbangi langkahku. Ricko tertawa "..Baiklah..aku belum makan..tapi biasanya akan aku lakukan setelah mengantarmu pulang dan makan bersama nenek dan kakekku di rumah.." Aku menghentikan langkahku dan menatapnya "Lalu setelah itu kau kembali lagi untuk menjagaku? Apakah kau tidak lelah?" Aku sungguh tidak ingin menjadi beban orang lain. "Berhenti membahas itu..ayo kita makan saja..aku tahu dimana tempat makan yang enak.." lanjutnya seperti menghindar dari pertanyaanku. Kenapa si tidak bilang saja iya aku lelah, iya aku capek, iya aku ingin lepas dari ini semua. "Rick…" "Hmm…" "Aku serius menanyakannya…" "Aku juga serius waktu aku bilang aku menggunakan waktu yang aku miliki dengan tepat..jadi tak perlu membahasnya lagi.." "Aku tidak ingin selalu menempel denganmu seperti ini dan terus merepotkanmu.." Ricko mengernyitkan dahi nya "Bukankah kita sudah sepakat bahwa kau akan terus menempel padaku sampai aku sendiri tidak akan bisa bernafas tanpa kau disisiku?" Tanpa sadar aku menginjak kaki Ricko karena kesal dan pergi meninggalkannya. Apakah dia perlu mengingatkan aku pada ucapanku yang agresif itu?! "Arghh..Rienetta Banes!" seru Ricko dengan nada kesal. Tapi aku tak memperdulikannya dan tetap berjalan ke arah mobilnya terparkir. Well..dia harusnya terbiasa kan..hantaman iblis harusnya lebih kencang dibandingkan pijakan kakiku tadi. Aku menghentikan langkahku, aku melihat bayangan hitam melesat secara tiba-tiba ke hadapanku dan bersiap menggapai tubuhku. Namun aku bisa merasakan Ricko memelukku dari belakang dan dengan mudahnya mengangkat tubuhku dengan satu tangan ke samping untuk menghindari gapaian sosok hitam itu sementara tangan satunya lagi menghantam sosok hitam yang melesat cepat. Untuk sepersekian detik kami berdua terdiam, tidak ada suara apapun yang menandakan adanya gerakan dari kami maupun bayangan hitam tadi. "Apakah dia menghilang?" tanyaku karena aku bisa merasakan nafas Ricko memburu dari balik punggungku, namun aku tetap diam tak bergerak. "Dia pergi, tapi sebaiknya kita tetap waspada.." ucap Ricko sambil melepaskan aku dari pelukannya lalu membimbingku untuk segera memasuki mobilnya dari kursi penumpang dan dia segera berjalan dan duduk di kursi kendali. "Tadi itu apa?" tanyaku "Entahlah..aku belum pernah melihat yang seperti itu.." sahut Ricko sambil menyalakan mesin mobilnya. "Lalu..apakah mungkin dia akan datang lagi? Atau mungkin mengejar kita?.." "Tenanglah…ada aku..kau akan baik-baik saja.." Sepanjang perjalanan aku hanya diam, di kepalaku masih terulang lagi kejadian tadi. Ricko benar, sosok hitam yang tingginya kurang lebih sama dengan Ricko dan bergerak dengan lincah tadi tidak seperti yang pernah ditemuinya. Beberapa iblis yang datang mendekatinya memiliki bentuk yang tak biasa dan memiliki tinggi dua kali lipat orang biasa. Jika terus seperti ini membuatku jadi berpikir kembali kepindahan kami di Vierra. Apakah pilihan tepat aku pindah ke Vierra? Apakah sebaiknya kami kembali ke Middlerea? Selama hampir 3 bulan kami pindah ke Vierra, Bibi Sophie sudah mulai memiliki komunitas sendiri, karena diperkenalkan oleh keluarga Cassey. Apakah dia akan dengan rela mengikuti permintaanku kembali ke Middlerea? === “Ayo kita turun…” ucap Ricko membuat aku tersadar dari lamunanku. “Dimana ini?” tanyaku bingung, Ricko memarkirkan mobilnya di suatu area yang luas, dimana ada rumah besar di bagian depan yang sepertinya merupakan rumah utama, disebelahnya ada jalan setapak menuju rumah yang lebih sederhana, terletak tak jauh dari rumah utama. Namun ada area besar yang kalau aku tak salah lihat seperti hamparan ladang pertanian yang luas dan terlihat bangunan kandang peternakan. “Di rumahku..” jawabnya “Hah?..Kau bilang akan mengantarkanku makan malam di tempat makan yang enak..lalu kenapa kita ada di sini?” “Mm…tadinya aku berpikir mengajakmu keluar untuk makan malam, namun karena kejadian tadi aku berubah pikiran..aku rasa kau akan lebih aman di sini, tapi tenang saja, masakan Leticia sangat enak..kau tidak perlu khawatir..” “Dan siapakah Leticia itu?” tanyaku penuh selidik Ricko tersenyum “ Salah satu orang yang sangat berarti untukku…” jawabnya singkat Ok, kemarin Shakila, lalu sekarang Leticia. Seberapa sering sebenarnya dia bermain dengan wanita? Apakah dia tetap memintaku menempel dengannya karena berpikir bisa mempermainkanku juga? Aku mulai bete dengan sikapnya, dia sepertinya tertular Benjamin Hunt! Aku turun dari mobilnya, perasaanku masih campur aduk. Antara bagaimana dia akan bertemu kakek dan nenek Ricko beserta si Leticia tadi. “Kau baik-baik saja Rie?” tanya Ricko karena aku tidak berjalan satu langkah pun untuk mengikutinya. “Mm…tidakkah sebaiknya kau antar aku pulang saja…” jawabku “Ayolah..bukankah waktu itu kau ingin berkenalan dengan kakek dan nenekku?” “Itu kan persepsimu ketika aku bertanya tentang keluargamu..ayo antar aku pulang Rick..apalagi saat ini sepertinya aku tidak menggunakan pakaian yang proper untuk makan malam bersama keluargamu…” aku benar-benar tidak merasa percaya diri untuk datang, mengingat saat ini aku hanya menggunakan pakaian seadanya, kemeja berwarna navy berlengan panjang yang digulung lengannya sampai ke siku dan celana jeans berwarna putih. Ricko berjalan ke arahku “Kau terlihat cantik Rie..” jawabnya singkat sambil meraih tanganku untuk digandeng, aku masih tercekat dengan kalimatnya, namun nampaknya dia biasa saja. “Ayo..kita sudah di sini..masuklah…setelah makan aku janji akan mengantarmu pulang..” sahutnya lembut. Aku mulai tergoda dengan ajakan lembutnya, dan mengikutinya masuk kedalam rumah utama. Pintu utama di buka, “Richard..kau datang untuk makan malam?” seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan kami. Ricko memeluknya, “Iya..dan aku mengundang seorang tamu..” ucapnya. Wanita itu melirik ke arahku “Hi..selamat datang di rumah keluarga Willem” sapanya. “Hi…terima kasih..mm..aku Rienetta Banes, tapi anda bisa memanggilku Ririe..” ucapku. “Aku Leticia Parera, kau bisa memanggilku Leti seperti halnya Richard memanggilku..” Jadi ini yang namanya Leticia, wanita yang berarti buat Ricko ternyata adalah pengasuhnya yang mengurusnya sejak Ricko di tinggal ibunya, dan merupakan istri kepala pelayan keluarga Wilem, Alland Parera. “Ayo Rie..” Ricko mengajakku memasuki ruang makan keluarga Willem, di sana sudah duduk seorang laki-laki yang berumur sekitar 70an dan disebelahnya duduk wanita yang anggun, walau sudah berumur namun tidak menghilangkan kecantikannya. Wanita cantik itu berdiri ketika melihat kami memasuki ruangan “Siapakah wanita cantik ini?” tanya wanita itu lembut. Aku sempat melihatnya melirik melihat kearah leherku yang mengenakan kalung keluarga Willem. Seketika raut wajahnya berubah dan berjalan menghampiriku. ”Kau pasti Rienetta Banes…” lanjutnya dan membelai tanganku lembut. “Anda tahu namaku, nyonya?” “Tentu Saja..Richard meminta kalung sacred keluarga Willem dan menjelaskan kondisimu…aku senang akhirnya bertemu denganmu..” lalu dia memelukku dengan lembut. “aaah..Aku Rosa by the way dan yang berwajah kaku itu adalah Albert suamiku..kau jangan pedulikan sikap kakunya yang menyebalkan itu ya…” aku tersenyum mendengarkan gurauannya. “Rosa…kau selalu saja seperti itu..kemarilah nona Banes, selamat datang di rumah keluarga Willem dan semoga kau menyukai hidangan yang tersedia.” sapa tuan Albert dengan sikap tenangnya. “Terima kasih tuan Albert…” jawabku dan Ricko menarik kursi untukku, Leticia dengan sigap menyediakan peralatan makan untuk aku dan Ricko. Seperti yang Ricko bilang, masakan Leticia sangat enak, walau aku sedikit gugup namun nyonya Rosa sangatlah membantu dengan sikapnya yang sangat terbuka. Setelah selesai makan malam, nyonya Rosa memelukku dan mengatakan untuk sering datang berkunjung dan aku akan selalu disambut olehnya. Karena sudah terlalu malam maka aku pamit pulang. “Itu rumah siapa? “ tanyaku menunjuk ke rumah yang terletak tidak jauh dari rumah utama ketika berjalan ke arah mobil yang terparkir agak jauh dari rumah utama. “Itu kamarku..” jawab Ricko tenang. “Kamarmu?” bingung karena rumah sebesar itu bagaimana bisa dibilang kamar. “yup..ada dua kamar dengan masing-masing kamar mandi di dalamnya, ruangan perpustakaan, living room dan ada mini bar kecil..kau ingin ke sana?” Kalau boleh jujur aku ingin, entah kenapa rasanya apapun tentang dia aku ingin tahu, aku ingin terlibat..”Tidak saat ini kurasa..mm..sudah terlalu malam” ucapku. Ricko membukakan pintu mobilnya di kursi penumpang agar aku bisa masuk lalu dia berjalan dan duduk di kursi kemudinya, tak lama kemudian menjalankan mobilnya mengantarku pulang. "Mm..Nyonya Rosa sangat menyenangkan.." Ricko tersenyum "Yup..dia memang selalu seperti itu..penuh kasih sayang dan merupakan cahaya keluarga Willem.." jawabnya. "Apakah dia sama denganku? Memiliki energi penerang?" Ricko mengangguk. "Mm..Lalu apakah tuan Albert seperti mu? Yang selalu menjaga nyonya Rosa?" tanyaku pelan, berhati-hati agar Ricko tidak salah sangka dengan pertanyaanku. Well..aku tak mau dia berpikir bahwa mengisyaratkan bahwa hubungan aku dan dia akan berakhir seperti kakek dan neneknya. Namun Ricko hanya diam tak menjawab. Akupun tak berniat bertanya lagi, sepanjang perjalanan ke rumahku kami hanya terdiam sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Tak lama kemudian Ricko memarkirkan mobilnya di tempat biasanya yang tak jauh dari rumahku dan mematikan mesin mobilnya. Awalnya aku sempat bingung, karena biasanya Ricko tidak mematikan mesin mobilnya dan langsung pergi setelah aku turun dari mobilnya serta memastikan aku masuk ke rumah. Ah iya…sudah jam dimana biasanya dia akan menjagaku sampai aku terlelap. Ricko nampak masih sibuk dengan pikirannya sendiri, Apakah dia memikirkan jawaban dari pertanyaanku? Apakah dia sedang mencari kata-kata yang tepat agar tidak menyakitiku? Aku mengerti dia mungkin belum melupakan Shakila seperti yang pernah Benjamin Hunt sampaikan, betapa berartinya wanita itu baginya. Tapi aku tidak peduli, well aku akan berusaha untuk tidak peduli tepatnya. Aku sungguh tidak tahan dengan suasana hening kami ini "Thanks untuk makan malamnya Rick..bye" jawabku berusaha mengontrol nada bicaraku. Namun ketika aku berniat membukakan pintu, Ricko menekan tombol kunci, sehingga semua pintu mobil terkunci. Aku menatap ke arahnya tak mengerti maksudnya itu. Ricko menatapku dengan mata cokelat gelap tajamnya "Iya..jawaban pertanyaanmu tadi adalah iya..hal yang terjadi pada kita, itu juga pernah terjadi kepada kakek dan nenekku..bagaimana kau memanggilku, seperti itulah cara nenekku memanggil kakekku dulu..mereka terhubung dengan takdir, istilah yang biasa kami gunakan adalah lié au destin..jadi…" "Kau berpikir kita terikat takdir?" tanyaku berusaha menebak jalan ceritanya. "Aku tak akan memaksamu mempercayainya Rie.." "Iya tentu..aku bukan orang yang semacam itu..jadi kita lupakan saja pembicaraan ini" sungguh aku tidak tahan untuk mencoba memahami ini semua. Apakah dia hendak mengatakan bahwa mungkin aku dan dia bukan takdir yang tepat? Namun terpaksa jadi harus dijalani. Ricko mengernyitkan dahinya "Aku memang setuju kalau mungkin kau tak percaya dengan semua yang kuceritakan, makanya aku berusaha tidak membicarakannya denganmu tentang ini selama lebih dari dua bulan kita bersama..tapi bukan berarti aku memintamu untuk melupakan ini.." "Jadi apa maumu?" "Mauku? Apakah kita disini hanya membicarakan apa yang aku mau?" "Aku..tak bersedia membaca pikiranmu yang sulit aku mengerti Rick.." "Aku sulit? Aku melakukan ini semua karena aku memilihnya.." "Kau tidak memilih Rick!" potongku, Ricko diam menatapku "..Kau melakukan ini semua karena kau tidak ada pilihan lain! Dan aku benci mengakuinya! Aku tak ingin kau menemaniku lagi, pergilah.." ucapku sambil bergerak ke arahnya untuk menekan tombol kunci yang terletak di setir mobilnya, ketika terdengar suara pintu terbuka akupun turun dari mobilnya secepat yang aku bisa. Ricko turun dan berjalan cepat menghampiriku, ketika dia meraih tanganku aku menghentakannya agar terlepas. "Kita belum selesai bicara.." ucapnya sambil berusaha menghalangi jalanku. "Aku tak berniat untuk bicara denganmu.." "Rienetta please.." Ricko terlihat frustasi, tapi aku saat ini sedang tidak dalam kondisi ingin memperdulikannya. Aku menghentikan langkahku dan menatapnya kesal "Apa yang kau inginkan?" Ricko diam menatapku, berharap aku memahami kefrustasiannya. Namun setelah beberapa saat aku dapat melihat dia berusaha mengendalikan emosinya. "Aku tidak berniat memaksamu memahami ini semua..kau tumbuh dalam dunia yang berbeda dengan kami, sehingga kau tidak pernah mengalami seperti yang selama ini kami alami..tapi bagiku ini sangat penting…Aku serius Rie…" "Ya aku pun serius untuk menghentikan ini semua!" Ricko mengernyitkan dahi "Kau menolakku?" tanyanya. Aku menolak dia yang tidak punya pilihan selain bersamaku. Aku menolak semua sikap dan perhatian yang selama ini karena aku tahu dia harus begitu karena sudah tugasnya sebagai pemburu kegelapan. Aku menolak dia yang terpaksa menemaniku karena aku akan terus memanggilnya sampai dia datang. Aku menolak semua kondisi kami yang seperti ini. Aku memilih tak menjawabnya "Menyingkirlah dan biarkan aku lewat!" Aku tahu seharusnya aku tak sekasar itu dengannya, bukan salahnya jika kondisi kami seperti ini. Bukan salahnya juga kami saling terikat antara satu sama lain. Tapi aku sungguh tak bisa membendung emosiku. Ricko hanya diam menatapku selama beberapa saat kami hanya saling menatap, kemudian dia berjalan ke arah rumahku dan dia menggerakkan tangannya sinar biru keluar dari telapak tangannya. Sinar biru itu berjalan perlahan sampai keatas atap rumahku dan membentuk dinding tinggi lalu menghilang, tak kasat mata tepatnya. Apakah ini yang dia lakukan ketika membentuk dinding pelindung? Setelahnya dia melangkah melewatiku dan pergi meninggalkanku. Aku langsung masuk ke rumah dan berusaha menenangkan diri, agar Bibi Sophie tidak membaca sikapku. Setelah menyapa bibi aku langsung pergi ke kamarku, membersihkan diri dan berusaha tidur. === Aku menguap tanda mengantuk. "Apakah kau tidak tidur lagi semalam?" tanya Aeneas "Hmm…." jawabku sambil membaringkan kepalaku di meja kelas. "Kalian masih bertengkar?" tanya Aeneas Sudah beberapa hari ini aku tak bisa tidur, bukan karena bermimpi buruk, aku masih tidak bisa melupakan pertengkaranku dengan Ricko waktu itu. Aku pun masih kesal dengan kondisi dimana baik aku maupun Ricko tak bisa memilih jalan yang kami inginkan. Meragukan perasaanku sendiri apakah aku benar menyukainya sebagai laki-laki atau sebagai penjagaku saja. Begitupun perasaan Ricko, aku meragukan perasaannya, dia ingin bersamaku karena memang itulah yang sudah menjadi takdir kami, bukan karena dia melihatku sebagai wanita. Ditambah lagi beberapa hari ini Ricko sama sekali tidak datang menungguku seperti biasanya, atau bahkan memang dia tak menungguku, kami sama sekali tidak bertemu atau mungkin dia menghindariku. Well… siapa yang tahan dengan wanita yang mengucapkan kata kasar seperti yang kulakukan waktu itu kepadanya. Bukankah aku yang memintanya untuk menyingkir dan pergi..Entahlah, kepalaku sakit memikirkannya. "Biar bagaimanapun kau harus menjaga kesehatanmu Rie, kau menyibukan diri di siang hari dan tidak istirahat dengan baik di malam hari..” lanjut Aeneas. “Aku butuh kegiatan untuk melupakannya…” sahutku. Memang betul aku berusaha sekeras mungkin mengalihkan pikiranku dari Ricko, mengerjakan tugas kuliah yang bahkan belum tenggat waktu atau mengerjakan pekerjaan di cafe yang tidak akan membuatku hanya duduk diam. “Apa yang membuat kalian bertengkar?" "Mmm..dia bilang hubungan kami sangat penting.. ingin serius denganku.." "Bukankah itu pertanda baik..aku sudah mengenalmu cukup lama, aku yakin kau menyukainya.." Seandainya semudah itu.."Dia tidak bilang menyukaiku.." "Apakah maksudnya dia ingin bersamamu tapi tidak ingin ada perasaan yang terlibat?" "Bukan..mm..mungkin sebenarnya bukan itu yang dia rasa..entahlah.." aku bingung menjelaskannya "Well..kalau seperti itu aku setuju kau tidak perlu bertemu dengannya lagi..kau tahu aku selalu menyayangimu kan Rie…aku tidak ingin kau terluka…hubungan tanpa perasaan kedua belah pihak hanya akan berujung pada penderitaan..dan aku sudah mengalaminya " wajah Aeneas terlihat khawatir. "Hmm..." jawabku enggan mengakui mungkin saja memang hubungan kami tanpa perasaan dari kedua belah pihak, mungkin hanya aku yang merasakan perasaan suka dengan Ricko, sementara dia mungkin hanya merasa terikat karena panggilan-panggilan yang aku berikan. Atau mungkin bukan rasa suka yang aku miliki untuk Ricko..Argh..entahlah seandainya bisa semudah itu situasinya, aku memegang kalung sacred keluarga Willem. Aku lupa mengembalikannya, atau memang tidak berniat mengembalikan. Dengan begini aku masih bisa merasakan Ricko bersamaku. Tapi kondisi lain, jika tidak ada kalung ini aku pun tidak merasa aman. Tidak ada Ricko dan tidak ada kalung apakah aku bisa bertahan dari serangan para iblis.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD