Yuan Shao, laki-laki muda bertubuh kekar masuk menghadap dengan tergesa-gesa. Dia melapor beberapa murid tak bisa melakukan semedi. Ada gangguan dalam tubuh yang menghambat pengerahan tenaga dalam Tapi dia sendiri tidak keracunan.
Xiahou Dun memanggil semua murid berkumpul. Dia menanyakan siapa saja yang kena racun. Sebagian murid melangkah ke depan Hampir separuh dari mereka, keracunan. "Racun itu dicampur dalam makanan dan minuman, bagi murid yang belum keracunan, sekarang ini jangan makan dan minum," tegas Xiahou Dun.
Tadi dia dan Wei Hu telah memeriksa murid pembawa nampan. Dari pengakuannya, seperti biasanya dia masuk gudang bersama empat murid lain, tak ada sesuatu yang mencurigakan. Xiahou Dun memastikan bahwa lima murid tersebut tidak bersalah. Dia berkata pada Wei Hu. "Orang itu tak mungkin dari luar sebab tak mungkin dia bisa menyusup masuk. Pasti dia orang dalam, seorang murid pengkhianat. Tetapi sebaiknya hal ini tak perlu kita bincangkan dengan para murid, aku khawatir akan timbul perpecahan karena saling curiga mencurigai padahal saat ini semua harus bersatupadu."
Situasi kritis itu harus disikapi dengan bijak Xiahou Dun memutuskan murid yang keracunan harus pergi meninggalkan perguruan. Mereka tak mungkin bisa bertarung karena hanya membuang nyawa percuma. Murid yang tidak keracunan, boleh tetap di sini dan bertarung mati hidup. "Aku, Wei Hu dan Yuan Shao tetap di sini, kami masih sanggup bertarung," tegasnya.
Jen Ting, murid Xiahou Dun paling bontot, usia tujuhbelas tahun, jangkung, cantik keibuan dengan kulit putih mulus. Dia menangis ketika kepalanya dielus sang guru "Kamu tak boleh di sini, kamu harus hidup dan ikut menjaga ilmu kita. Kamu cari pamanmu Yu Jin, berlatihlah bersama dia. Adapun pamanmu, Guan Xing, terserah padamu apakah kau maafkan dia atau tidak. Dia tidak pantas menjadi paman gurumu Jen Ting, bawalah pesanku, muridku yang paling layak menggantikan aku sebagai ketua, adalah kakakmu Lu Xun, urutan berikutnya Jiu Shan. Semoga para dewa melindungi dua kakakmu itu. Ingat ini, jika dua kakakmu itu gugur dalam perang, maka kamu lebih layak menjadi ketua dibanding Xun Yu, camkan itu! Karena itu Jen Ting, berlatihlah lebih rajin. Sekarang pergilah, Jen Ting, sebelum terlambat," katanya sambil menghapus airmata di wajah cantik muridnya.
Malam itu menjadi malam perpisahan yang tak mungkin dilupakan para murid, baik mereka yang pergi maupun yang menetap. Jumlah yang memilih bertarung sampai mati, hanya empatpuluhan murid. Dipimpin Yuan Shao, mereka bersiap-siap di beberapa tempat. Para murid yang harus pergi meninggalkan perguruan, pergi dengan isak tangis. Tidak pernah terpikirkan bahwa situasi perguruan bisa seburuk itu. Mereka pergi dengan isak tangis bercampur dendam membara, tetapi masa depan yang gelap menanti sekelam malam yang gulita. Apakah Partai Naga Emas akan sirna dari dataran tengah?
Xiahou Dun teringat pesan gurunya, Zhou t*i, cara unik mengembalikan tenaga yang hilang akibat racun pelemas tulang. Cara itu hanya bisa dilakukan jika yang kena racun adalah dua orang yang tidak terpaut jauh tenaga dalamnya. Kenyataannya dua tokoh murid Zhou t*i itu, tenaga dalamnya sama imbang.
Tidak ayal lagi Xiahou Dun dan Wei Hu lantas memainkan jurus Balaraksha (Seribu Raksasa) dari ilmu Naga Emas yang merupakan ilmu andalan Partai Naga Emas. Selama dua gurunya berlatih, Yuan Shao setia berjaga-jaga
Benturan tapak tangan dua tokoh itu mulanya perlahan, makin lama semakin keras, dan tiada henti. Lama kemudian, keduanya berhenti sejenak. Wei Hu tampak gembira. "Kakak, sebagian besar tenagaku sudah pulih." Dia melanjutkan dengan lirih. "Guru besar Zhou t*i, meski sudah lama mati namun masih bisa juga menolong dua muridnya yang g****k ini."
Malam makin larut, bulan sembunyi di balik awan mendung. Guruh dan kilat bersambung mengiringi hujan gerimis. Xiahou Dun dan Wei Hu tekun bersemedi. Keduanya bersama semua murid mengenakan pakaian warna putih dan ikat kepala warna hitam. Gerimis masih menyiram bumi. Malam makin larut.
Dingin mencekam. Mendadak langit terang benderang, panah api dan obor menyala melayang di udara masuk ke dalam pekarangan perguruan. Lalu terdengar suara gedubrak keras ketika pendekar Himalaya, Takadagawe memukul pintu gerbang. Beberapa kali terdengar bunyi keras, saat berikut pintu hancur. Terdengar suara hiruk pikuk, puluhan orang menyerbu masuk, mereka menggunakan ikat kepala warna putih. Pertarungan satu lawan satu atau keroyokan terjadi di mana-mana. Banyak korban berjatuhan. Ada yang mati, ada yang luka parah. Suara jerit kematian dan kesakitan bercampur dengan makian dan sumpah serapah mewarnai gelapnya malam yang masih disiram gerimis kecil. Kalah dalam jumlah, satu demi satu murid Partai Naga Emas mulai gugur. Di pihak lawan juga banyak yang mati. Murid-murid Partai Naga Emas makin terdesak dan tidak punya peluang untuk mempertahankan tanah perguruannya.
Di suatu sisi pertarungan tampak Xiahou Dun sedang melawan Takadagawe, Wei Hu dikeroyok Pang Tong dan Mi Fang, dan Yuan Shao bertarung mati hidup dengan Ma Chao. Tiga pendekar Partai Naga Emas terdesak mundur sampai ke dekat kamar rahasia.
Takadagawe mendesak, menggunakan jurus-jurus Himalaya yang aneh tapi mumpuni.
"Huh hanya sebegini saja jurus Partai Naga Emas, tak ada apa- apanya yang bisa dibanggakan!"
Xiahou Dun tertawa keras. "Jurus silatmu biasa tapi racun pelemas tulangmu hebat. Tak kusangka pendekar berilmu tinggi macam kamu hanya pengecut yang mahir meracuni lawan dengan diam-diam. Dasar licik, pengecut tidak tahu malu!"
Takadagawe murka. Ia menggeram Tarung makin dahsyat. Pukulan Takadagawe mengena pundak dan perut Xiahou Dun yang kontan terlempar. Takadagawe mengejar. Yuan Shao meninggalkan lawannya, dia mengejar Takadagawe. Dia memotong jalan dan menghadang di depan langkah pendekar Himalaya itu. Yuan Shao berteriak, "Guru, cepat masuk!"
Xiahou Dun ragu-ragu. Takadagawe menggerakkan kaki dan tangan, menyerang Yuan Shao. Tetapi murid Xiahou Dun ini tak mau menghindar dari jalan. Saking kesalnya, Takadagawe menggelar jurus-jurus mematikan. Dalam beberapa jurus berikut, pukulannya menerpa kepala Yuan Shao. Murid setia ini terpelanting dan mati sebelum tubuhnya menyentuh tanah!
Tetapi tidak sia-sia pengorbanannya. Dia telah memberikan waktu yang cukup bagi gurunya untuk berpikir dan mengambil sikap. Kejadian berlangsung cepat. Wei Hu menyaksikan kematian Yuan Shao. Dia berteriak, "Kakak, cepat masuk! Jika terlambat masuk, kamu jadi orang paling berdosa bagi perguruan kita, cepat!"
Xiahou Dun sempat memandang berkeliling. Hampir tak ada lagi murid Partai Naga Emas yang bertarung. Semua mati! Terakhir yang mati, adalah muridnya yang setia, Yuan Shao. Dia melihat Wei Hu bertarung dengan gagah berani. Adiknya itu sudah luka parah tapi tetap berdiri dan bertarung menghadang siapa saja yang ingin mendekati Xiahou Dun.
Tahu dirinya tak lagi bisa berbuat, Xiahou Dun cepat menerobos masuk kamar. Pintu serta merta tertutup. Xiahou Dun muntah darah dan jatuh tertelungkup. Gelap. Semua gelap. Di luar kamar, Pang Tong beserta teman-temannya berupaya membuka pintu, tetapi tak berhasil. Pintu itu tak akan bisa dibuka siapa pun dari luar. Hanya ketua Partai Naga Emas seorang yang tahu rahasia membuka pintu kamar rahasia itu.