“Apa??” Lyssa yang sudah melangkah beberapa meter berbalik, melihati Tante Vania yang masih mengunyah steik dengan tenang. “Duduklah. Tante ada sesuatu serius yang ingin dibicarakan.” Lyssa sebenarnya enggan untuk kembali duduk, tapi mendengar Tante Vania menyebut-nyebut tentang Rainier, ia pun kembali duduk di kursinya. Tante Vania anggun mengelap sudut bibirnya dengan serbet. Ia dengan santai memutar-mutar gelas wine, meminumnya dengan saksama. “Rainier Bhimantara ck ck.. Sebelumnya, Evan Ageng Sanjaya. Kamu pinter banget sih nyari cowok. Persis seperti mamamu.” Seperti kata Tante Vania sebelumnya, Lyssa mencoba untuk tidak terpancing emosi. Tante Vania sekali lagi meneguk anggur, matanya lembut tersenyum palsu untuk Lyssa. “Dulu Tante pikir kamu bakalan pacaran lama sama putra Sa

