BUNUH DIRI

1639 Words
Cynthia tersenyum dan mengatakan tidak apa-apa, lalu memeluk anak kecil yang tanpa sengaja menjatuhkan dirinya. "Tidak apa-apa, mami tidak sakit kok. Adi, tidak sakit kan?' Adi menangis ketakutan lalu menggeleng kecil dan memeluk maminya. Sementara kembarannya hendak memukul Kinara. "ARI!" Tubuh Kinara tersentak, dia mengenali suara itu dan menoleh. Adit terkejut sesaat ketika melihat sosok Kinara lalu mengabaikannya dan menggendong anak kecil bernama Ari. Ari menangis lalu menunjuk Kinara. "Dia jahat sama mami, dia dorong mami sampai jatuh!" Kinara menatap bingung anak kecil yang sudah menuduh dirinya, jelas-jelas ibu mereka jatuh karena anak kecil tapi ada yang lebih penting dari sekedar tuduhan- dia melihat punggung pria yang paling dicintai di dunia ini. Adit balik badan dan menatap balik Kinara. "Kenapa kamu di sini?" Hanya? Hanya itu yang akan kamu ucapkan padaku, setelah bekerja keras? Air mata Kinara mengalir ketika melihat Adit menatap tidak suka dirinya. "Mas." "Papi, dia jahat sama mami. Papi hukum dia, pecat dia!" "Ari jangan begitu," tegur Adit dengan lembut. Benak Kinara berkecamuk. "Kenapa-" "Pulanglah, Kinara." Kinara hendak menyentuh suaminya tapi ditepis Adit. "Mas-" Adit membelakangi Kinara lalu bertanya pada Cynthia. "Kamu baik-baik saja?" Cynthia berdiri dengan bantuan orang lain dan tersenyum. "Aku tidak apa-apa." "Hati-hati dengan anak di perut kamu." Cynthia mengangguk kecil lalu menatap cemas Kinara. Kinara tidak salah dengar, Cynthia hamil. "Hamil? Dia hamil anak kamu, mas?" "Pulanglah, Kinara. Tidak ada yang perlu dibahas lagi." "Mas yang pulang, aku istri mas." "Istri harus tunduk kepada suami, kenapa aku harus mengikuti kamu? Pulang dan urus anak-anak, jika kamu ingin mempertahankan pernikahan ini. Reputasi kamu sudah buruk di depan umum, jangan menambah lagi." Bibir Kinara bergetar lalu menatap sekeliling, orang-orang hanya menatap diam bahkan ada yang mencemooh dirinya. Dia berjalan mundur dua langkah lalu berlari menuju taxi. Aku sudah berjuang keras mendapatkan kamu, Aku sudah berjuang keras membantu keluarga kamu, Aku sudah berjuang keras mengorbankan segalanya demi kamu, Dan inikah hasilnya? Hasil yang harus aku dapatkan setelah dua belas tahun. Di sore hari, kedua anak Kinara sudah pulang sekolah dan mengerjakan tugas rumah dari sekolah di depan TV supaya tidak sepi. Para pelayan mengerjakan tugas sendiri tanpa mengganggu mereka berdua. Bella mendengar suara sepatu dan mendongak. "Mama?" Edward mengerutkan kening lalu menoleh. "Mama?" Kinara berjalan dengan limbung sambil membawa sesuatu di dalam kantong plastik lalu masuk ke dalam kamarnya dengan membanting pintu. Bella dan Edward saling menatap heran. 'Artis terkenal Cynthia tertangkap keluar dari hotel bersama Adit, mantan aktor sekaligus pengusaha hotel. Perut sang artis terlihat besar. Apakah Cynthia hamil dan menjalin hubungan kembali bersama Adit?' Kinara melempar tv kamarnya yang mati dengan remote ac, tidak peduli suara yang keluar adalah tv ruang keluarga. Dia menenggak satu botol alkohol dan duduk di atas tempat tidur berhadapan dengan depan cermin satu badan, dekat meja rias. Dimana letak kesalahanku? Aku cantik, bisa bekerja, punya anak-anak lucu. Tapi kenapa suami aku selingkuh dengan mantannya? Kinara berteriak kencang lalu melempar botol alkoholnya ke cermin itu. Aku lelah, lelah, lelah. "Mama!" Mama? Jangan panggil aku mama! "Mama, tolong buka!" Lalu apa? Kalian tidak bisa apa-apa dan menyuruh aku membuka pintu? Kinara membuka sebuah bungkusan dan menelan banyak pil bersamaan dengan alkohol baru. Lebih baik aku merasakan sakit untuk mati, daripada sakit untuk bertahan hidup! BRAK! "NARA!" Siapa? "NARA! INI KAKAK! JANGAN MATI!" "MAMA! MAMA!" Edward memeluk adiknya yang menangis dan berontak, untuk mendekati ibu mereka. Kakak? Ah, kalau tidak salah- aku memang punya kakak, kakak yang menyayangi aku dan aku khianati demi Adit. Maaf, kakak. Jangan cari aku, lebih baik aku mati daripada melihat suamiku bersama wanita lain. ----------- Kinara membuka mata perlahan dan melihat langit-langit kamar yang dulu diingatnya. "Apakah ini neraka?" "Biasanya orang bertanya, apakah ini surga? Kenapa kamu malah bertanya ini neraka?" KInara menoleh dan terkejut begitu melihat wajah kakaknya berdiri tepat di depan, dia mengangkat tangan dan melihat selang infus di tangannya. "Kamu bodoh atau gimana? Hanya karena satu pria lalu bunuh diri? Lalu bagaimana dengan mama dan papa yang sudah mengurus kita dari bayi?" Dimas mengomel kepada adiknya. "Untung saja Fumiko mengajak aku ke sana, sehingga melihat kamu bertengkar dengan Adit, sudah kakak bilang bukan? Jangan mengejar pria b******k i-" Dimas terdiam begitu melihat adik satu-satunya menangis dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. "Mama, kenapa mama menangis?" Bella berjinjit di depan Dimas. "Om dokter, mama kenapa dibuat menangis?" Edward menatap cemas Kinara. "Ma?" Tangisan Kinara semakin besar ketika mendengar suara kedua anaknya, Dimas menjadi panik lalu menyuruh istrinya menarik Edward dan Bella keluar." "Bella mau lihat mama," tolak Bella sambil memegang erat tempat tidur. "Tapikan kalian belum sarapan, biar mama istirahat dulu." Edward menarik tangan Bella dengan lembut. "Ayo." Bella menatap enggan tempat tidur lalu mengikuti kakaknya. Setelah mereka bertiga keluar, Dimas mulai mengomeli adiknya. "Apakah kamu ingin mati? Kamu tidak kasihan dengan anak-anak?" "Aku mencintainya." "Lalu bagaimana dengan anak-anak? Kamu tidak mencintainya?" "Aku-" "Saat istriku melihat kamu di lokasi syuting Cynthia, kami segera membuntuti kamu. Dan benar saja, kamu berupaya bunuh diri. Nara, aku kakak kamu, kenapa kamu tidak bicara pada kakak?" Kinara menggeleng. "Aku ingin menjaga rumah tanggaku, aku tidak mau aib tersebar luar." "Suami kamu yang membuat aib, kenapa kamu harus melindunginya?" "Kakak, aku sudah menjadi istri sekarang. Aku harus menjaga nama baik suami aku." "Kamu menjaga suami baik sementara kamu sendiri hancur dan bunuh diri!" bentak Dimas yang semakin marah dengan kelakuan adiknya. "Kamu punya keluarga, kenapa kamu tidak lari ke kami?" "Seorang wanita yang sudah menikah, adalah milik suaminya. Aku-" Kinara menjadi bingung, dia merasakan sakit hati karena penghianatan Adit, tapi juga tanpa sadar membelanya. "Demi mengejar seorang pria, kamu meninggalkan keluarga sendiri. Apakah kamu merasa malu kembali kepada kami?" "Bukan begitu-" Kinara tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Waktu itu benar-benar di luar dugaannya. Dia terlalu lelah bekerja dan ingin istirahat, lalu begitu mendengar nama Cynthia yang disebut, entah kenapa kakinya harus mengejar wanita itu, lalu- hatinya hancur ketika melihat suami yang dia cintai bersama wanita itu. "Aku- mencintainya kak." Dimas memeluk adiknya. "Kakak tahu kamu cinta dia, tapi kenapa harus sampai bunuh diri? Kenapa kamu harus merasa hancur? Perasaan yang kamu rasakan sekarang, sama dengan kami waktu itu." Kinara yang tidak berani menyentuh kakaknya, terkejut. "Apa?" "Kami hancur karena kamu memilih pergi meninggalkan kami." Isak Dimas. Kinara tidak tahu itu, waktu itu dia berpikir keluarganya sudah memiliki semua jadi kehilangan dia tidak akan begitu berarti. Tapi ternyata- "Mama sama papa masih mengharapkan kamu kembali," kata Dimas. "Tanpa Adit." Tambahnya. Sementara di tempat Edward, Bella dan Fumiko. Sarapan dengan makanan kantin rumah sakit. "Tante, mama gak kenapa-kenapakan?" tanya Edward. Fumiko yang sedang menyuapi perempuan kecil menggemaskan itu sontak menatap laki-laki kecil yang duduk di berseberangan dengannya tanpa menyentuh jatah makan. "Siapa nama kamu?" tanya Fumiko dengan nada gemas. "Edward, mama biasanya panggil saya Ed dan adik saya namanya Bella." Fumiko mengangguk singkat. "Ah, mama kamu fansnya novel vampire itu. Dulu kecilnya, dia suka menjadi putri terus ada anak tetangga kompleks yang menjadi pangeran. Sayangnya anak itu sudah pindah rumah." "Mama suka princess, di kamarnya banyak buku princess," kata Bella yang membanggakan mamanya lalu mendadak cemberut. Fumiko yang melihat itu menjadi sakit hati. "Kenapa sedih sayang?" Bella menggeleng sedih. "Mama jarang pulang, terus gak mau bicara sama kami." "Itu karena mama dan papa sibuk," kata Edward. "Tapi papa sering bawa temannya ke rumah sama bawa teman buat kakak." "Bella." Nada bicara Edward berubah. Fumiko yang menyadarinya, mencoba mengorek secara halus sambil membelai rambut panjang bergelombang dan lembut Bella. "Bella tahu siapa nama temannya papa?" Bella menggeleng. "Papa sering bilang tapi Bella lupa, jadinya Bella disuruh panggil mami." "Mami?" tanya Fumiko lalu melirik Edward. Edward mengalihkan pandangannya. Ia merasa kesal begitu mengingatnya. "Tante apanya mama?" tanya Bella dengan mata berbinar dan mulut belepotan es krim dan cokelat. "Jadi, mama kalian punya kakak dan kakaknya itu suami tante." Fumiko mengelap wajah Bella dengan lembut. Bella bingung. "Bella gak ngerti." Fumiko tertawa kecil. "Nanti Bella tahu sendiri." Edward menyipitkan matanya. "Tante bukan temannya papa?" Fumiko tersenyum lalu menggeleng. "Tante tidak pernah bertemu papa kalian." "Papa itu ganteng lho, tante. Tapi, jangan ambil papa ya, papa itu punyanya mama sama Bella sama kak Ed," kata Bella. Fumiko mencubit gemas hidung mungil Bella. "Tante 'kan sudah punya suami." "Bella juga punya pangeran suami." Fumiko tertawa renyah. Edward menatap cemas Fumiko. "Tante belum jawab pertanyaan saya." Fumiko mengalihkan pandangannya ke Edward. "Wah, maaf ya. Mama kalian baik-baik saja kok, sebentar lagi masa pemulihan jadi kalian harus bisa jaga mama." "Tapi nanti mama marah." Cemberut Bella Edward mengangguk. "Setiap pulang kerja, mama selalu mengurung diri di kamar atau ruang kerja. Kalau kami dekati, mama menjauh. Kalau kami bertanya, mama melemparnya ke papa atau mbak di rumah. Kalau kami berisik, mama pergi." Fumiko tidak menyangka adik iparnya separah itu. "Mama kalian sangat lelah, jadi mungkin minta waktu sendiri. Sekarang 'kan kalian bisa sekolah bagus, beli mainan banyak berkat kerja sama papa dan mama." "Jadi, mama tidak benci kami?" tanya Bella. "Tentu saja tidak, nanti coba saja tanya ke mama kalian." Fumiko sangat yakin Kinara mencintai kedua anaknya, hanya saja anak itu terlalu canggung menghadapi kedua anaknya. Edward menatap makanannya dengan sedih. "Bagaimana dengan papa?" Fumiko tidak bisa menjawab. "Tante tidak tahu. Oh ya, soal mami itu-" Edward menghela napas panjang. "Papa bilang kami harus menghormatinya tapi gak bilang siapa dia, cuma mbak di rumah bilang kalau itu temannya papa." "Teman tapi panggil mami ya?" curiga Fumiko. "Kalian tidak pernah cerita ke mama?" Bella dan Edward sama-sama menggeleng. "Papa bilang, mama tidak boleh tahu. Soalnya mama sibuk dan tidak boleh direpotkan hal kecil," kata Edward yang disambut anggukan setuju Bella. "Mama sibuk kerja," kata Bella. Fumiko tersadar, Bella dan Edward tidak mungkin cerita karena Kinara bersikap menjauh terhadap anak-anaknya, mungkin itulah kesempatan yang diambil Adit. Manipulasi anak-anaknya dengan dalih tidak boleh mengganggu Kinara, licik juga pria ini. Tidak pernah berubah! "Mama tidak suka kalau kami dekat," kata Bella. Edward mengangguk setuju. Fumiko mengambil handphone dan menghubungi suaminya ketika anak-anak sibuk makan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD