Pilihan terakhir

1321 Words
  Aku yang masih gemetar setelah membaca pesan itu, kemudian ada satu pesan lagi yang masuk. “Jika tidak ingin semua itu terjadi, pulang hari ini.” Aku marah melihat pesan itu, aku marah kepada diriku sendiri yang tidak berdaya ini, marah pada takdir yang selalu membuat aku terjatuh sedalam ini dan marah kepada Tuhan yang hanya diam saat aku berada di situasi seperti ini. Sudah tidak ada harapan lagi. Aku tidak mungkin membuat Ibu Hani juga menderita sama sepertiku. Tapi aku tidak ingin pulang. Aku tidak ingin tinggal di rumah itu lagi selama masih ada iblis itu di sana. Tapi aku juga harus pulang, kalau tidak … aku tidak akan bisa membayangkan apa yang akan dilakukan laki-laki b***t itu kepada Ibu Hani. Aku tidak ingin Ibu Hani terluka, apalagi jika yang menyebabkan luka itu adalah laki-laki b***t yang juga melukaiku. Aku tidak ingin itu terjadi, aku benar-benar tidak ingin. Aku yang panik karena pesan itu, langsung membereskan semua perlengkapanku dan beranjak pergi dari rumah hangatnya Ibu Hani. Aku menulis satu surat untuk Ibu Hani agar dia tidak khawatir padaku yang menghilang secara tiba-tiba. Aku pun pulang ke rumah di siang hari disambut dengan Ibu yang sudah menungguku di teras depan rumah, lagi-lagi Ibu banyak bertanya kepadaku dan sepertinya Ibu juga sudah mengetahui semua jawaban dari pertanyaannya, tapi kenapa dia bertanya? Aku hanya bisa diam mendengar semua perkataannya karena kepalaku benar-benar sudah pening dan Ibu dari sejak aku datang sampai sekarang masih terus-terusan berbicara. Ibu yang melihat aku tidak banyak bicara langsung menyuruhku masuk agar segera makan kemudian mandi lalu istirahat. “Mara, kalau sakit jangan keluar rumah dulu, ya,” ucap Ibu kepadaku. Kadang-kadang Ibu sangat perhatian kepadaku, tapi itu hanya kadang-kadang saja. Kamar segera kukunci seperti biasanya karena aku masih belum mengetahui keberadaan iblis itu sekarang ada atau tidak, karena semenjak masuk ke rumah aku benar-benar tidak melihat tanda-tanda keberadaanya di sini. Sangat bagus jika dia tidak ada di rumah ini, kuharap ini akan terjadi selamanya. Rumah ini sangat tenang dan aku juga sudah makan, aku ingin istirahat karena telah lelah berjalan dari rumah Ibu Hani hingga ke rumahku ini yang cukup jauh. Aku berbaring ke kasur dan melihat langit-langit kamar. Tuhan … apa bisa langit-langit di rumah ini sama seperti langit-langit di rumah Ibu Hani yang menenangkan jiwa, bahkan rumahnya saja sudah bisa sangat membuat aku tenang bagaimana dengan pemilik rumahnya, sudah tentu sangat hangat dan menenangkan juga. Di kepalaku terus terbayang wajah tersenyumnya Ibu Hani yang sudah seperti cahaya di kegelapan, dan suaranya juga terus terdengar di telingaku seperti menuntun aku ke tempat tertenang di dasar bumi. Aku mulai mengantuk, memikirkan Ibu Hani adalah obat tidur yang paling nikmat daripada obat pahit yang dibeli di puskesmas malam kemarin, tapi ketika meminum obat itu kemarin tidak begitu pahit karena aku meminumnya bersamaan dengan melihat sosok ceria yang wajahnya adalah seperti matahari bagiku. Aku pun tertidur begitu lelap malam itu sampai akhirnya suara itu mulai terdengar lagi. “Mara … sudah pulang? Ayah kangen banget sama Mara,” ucap laki-laki b***t itu dari luar pintu yang sudah aku kunci dengan sangat hati-hati. DEG! Suara itu segera membangunkanku dari tidur yang sudah begitu lelap, membuat sekujur tubuhku seketika langsung dingin dan gemetar ketakutan, padahal seperti biasa ini hanya suaranya yang aku dengar. Laki-laki itu terdengar tengah memegang gagang pintu dan hendak membukanya, karena terkejut aku spontan memasukkan seluruh badanku ke dalam selimut karena aku pikir bahwa aku lupa mengunci pintu, tapi … untung saja sudah terkunci dengan benar. “Oh, dikunci lagi? Hari ini Ayah akan mengalah dulu karena Ibu sedang tidur dan Ayah tidak mau dia bangun,” ucapnya pelan dengan napas beratnya dari luar kamarku. Tubuhku semakin gemetar mendengar suaranya yang begitu mengerikan dan mencekam. Dia pun pergi dari depan kamarku entah ke mana, aku masih gemetar dan tak mampu melakukan apa pun, aku menggenggam kedua tanganku dan mengatakan kepada diriku sendiri, “Membunuhnya itu sepertinya adalah hal yang mustahil, dengan hanya mendengar suaranya saja aku sudah tidak bisa melakukan apa pun selain gemetar dan menangis, bagaimana dengan membunuhnya? Mustahil,” lirihku kepada diri sendiri. Aku tidak bisa tidur malam itu, suasana yang tadinya hangat karena memikirkan Ibu Hani menjadi sangat mencekam dan pastinya mengerikan karena laki-laki b***t dan suaranya itu. Di pagi hari perutku begitu lapar, biasanya pagi-pagi minggu seperti ini laki-laki b***t itu sudah tidak ada di rumah, aku bisa keluar masuk kamar tanpa melihat wajahnya dan mendengar suaranya yang sama-sama menakutkan. Syukurlah hari ini dia benar-benar tidak ada di rumah, cuma ada Ibu di rumah yang sedang memasak di dapur, itulah hasil dari menelusuri seluruh isi rumah, Ibu menyapaku seperti biasa dengan senyumannya dan menyuruhku cepat makan. Akhirnya aku bisa berduaan dengan Ibu tanpa ada laki-laki b***t itu di sini. Ibu menyuruhku cepat duduk dan makan. Tiba-tiba Ibu duduk di sebelahku dan mengatakan sesuatu yang sangat tidak ingin aku dengar sekarang. “Mara … Ibu mau kamu masuk PTN, ya,” ucap Ibu sambil menatap mataku. Ibu sangat berharap aku masuk PTN (Perguruan Tinggi Negeri) di dekat rumah kami, jujur saja aku tidak ingin berkuliah di sini karena jika aku berkuliah di sini aku juga akan pulang ke rumah ini setiap hari, dan jika aku pulang maka aku akan bertemu laki-laki b***t yang siap melakukan hal yang tidak senonoh kepadaku. Tidak, aku tidak akan masuk PTN di sini. “Maaf, Ibu …,” ucapku lirih, karena aku sangat ingin pergi dari rumah ini walaupun itu tanpa Ibu. “Mara!” ketus Ibu. Aku terkejut karena akhir-akhir ini Ibu sangat sering berbicara dengan nada tinggi kepadaku, padahal dulu dia berbicara dengan suara halus dan menenangkan. Ada apa denganmu Ibu? Aku bertanya kepada diriku sendiri. Aku segera berhenti menyuap nasi yang Ibu siapkan untukku makan dengan banyak pagi itu, dan aku langsung berlari menuju kamar karena kesal dengan Ibu yang hanya memikirkan pendidikanku tanpa memikirkan sedikit pun tentang apa yang sedang terjadi denganku semenjak Ibu membawa laki-laki b***t itu ke rumah ini. Aku benci laki-laki itu. Aku benci Ibu. Apakah tidak bisa laki-laki itu mati saja? Mati? Dengan pikiran yang sangat kacau ada satu pilihan terakhir bagiku, menurut aku pilihan itu sangat cocok untukku. Kenapa aku baru kepikiran sekarang? Kalau aku tidak bisa membuatnya mati, kenapa bukan aku saja yang mati? Jadi iblis itu dan aku tidak akan pernah bisa bertemu lagi jika aku mati, ini adalah pilihan terakhir untukku jika dia tidak mati maka aku saja yang mati. Saat itu aku hanya terpikir obat tidurku yang rasanya sangat pahit itu, aku berpikir jika aku menelan semua obat itu maka akan overdosis dan pastinya akan cepat membawa aku pada kematiaan. Dengan cepat aku mengunci seluruh akses masuk ke kamar, dan mengambil obat tidur itu dari dalam tas. Aku pun berbaring di kasur dan menelan semua obat itu, tidak lama berselang tiba-tiba tubuhku mati rasa dan dalam waktu beberapa detik aku kehilangan kesadaran. Laki-laki itu masuk ke kamarku dan mulai melakukan hal yang tak senonoh kepadaku, dia menggunakan satu tangannya untuk menutup mulutku dan satu tangannya lagi untuk menjamah seluruh tubuhku, aku hanya bisa menangis dan memberontak tapi semuanya sia-sia karena dia tidak menghiraukanku, dan terus melakukan hal-hal b***t kepadaku, saat itu aku melihat ke arah jam dinding yang menunjukkan jam 21:12, aku terus mencoba berteriak hingga akhirnya aku terbangun dari mimpi buruk itu. Ternyata obat itu tidak bisa membunuh diriku sendiri, aku melihat jam di dinding yang baru menunjukkan jam 21:10, detak jantungku masih tidak beraturan dan aku menyeka semua bulir-bulir air mata yang berjatuhan ke pipi. Tiba-tiba suara itu memanggilku dari bawah kasur tempat tidurku. “Mara ….” Tuhan ini hanya mimpi buruk lagi, kan? Sayangnya tidak, aku berteriak-teriak memanggil Ibu, karena seluruh tubuhku mati rasa dan aku tidak bisa menggerakkan satu pun jariku. “Ibu sedang pergi dinas, malam ini adalah malamnya kita, Mara,” ucapnya sejurus dengan keluar dari bawah kasur dengan menunjukkan senyuman menyeringainya kepadaku. Dan hal itu terjadi lagi padaku dan aku kehilangan kesadaran karena obat tidur itu kembali bereaksi.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD