Apa Aku Boleh Berharap Lagi?

1307 Words
  Keesokan harinya Guru PKL yang bernama Hani itu berniat menyelidiki siapa pemilik kertas yang berisikan tentang bunuh-membunuh yang ia temukan di dekat mejaku, nama beliau sangat indah. Hani dalam bahasa Arab adalah happy/delighted artinya senang dan gembira. Nama yang sangat indah, bukan? Berbanding terbalik dengan namaku yang berarti pahit, jauh, sangat jauh. Ibu Hani terus berpikir tentang perihal kertas itu, dan ternyata beliau lagi yang mengawasi ujian di kelasku untuk hari ini. Melihat kelas yang sudah ramai karena jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan dan bel tanda ujian akan segera dimulai, Ibu Hani langsung menyuruh semua peserta ujian untuk mempersiapkan semua peralatan untuk mengerjakan ujian, setelah itu beliau pun segera membagikan lembar soal dan lembar jawaban kepada seluruh peserta ujian. Aku masih belum menyadari tentang keberadaan kertas itu di tangan Ibu Hani, bahkan meletakkannya di bawah meja pun aku sudah tidak ingat. Ibu Hani membagikan lembar soal dan jawaban satu-persatu kepada peserta ujian. Ibu Hani mendekatiku dan mengatakan, “Mara … nanti ke kantor Ibu, ya, selesai ujian,” ucapnya sambil berbisik kepadaku dan memberikan aku lembar soal dan jawaban ujian. Aku masih merasa tidak ada yang aneh, aku rasa Ibu Hani hanya akan menyuruhku untuk mengulang ujian yang kemarin karena aku sangat tidak bisa konsentrasi dan malah mengerjakan hal lain, mana diburu waktu lagi. Aku teringat kertas yang kemarin kubuang di bawah meja, aku pun mencarinya. Tidak ada. Tidak ada? Hah? Bagaimana kalau ada yang membacanya?! Tapi tidak ada yang menanyaiku dari tadi perihal apa pun. Apa mungkin …. Ibu Hani? Apakah itu alasan Ibu Hani jadi ingin bertemu denganku ssaat ujian selesai. Kacau, benar-benar kacau! Ibu Hani pasti akan banyak bertanya dan aku tidak tahu jika aku bercerita apakah Ibu Hani akan menolong atau tidak, Ibu Hani juga pasti tidak akan mampu karena musuhku ini adalah iblis di dunia nyata yang berwujud sebagai ayah tiriku sekaligus laki-laki yang b***t. Hari ini aku lagi-lagi tidak fokus dan tidak bisa konsentrasi dengan ujianku. Satu orang bertambah dalam pikiranku yaitu Ibu Hani seorang Guru PKL di sekolahku. Aku berpikir sejenak apakah sehabis ujian ini aku sebaiknya kabur atau menceritakan semuanya kepadanya, kata teman-temanku Ibu Hani adalah seorang Guru yang baik. Nah, karena Ibu Hani itu orang yang baik aku tidak ingin menceritakan semua kepadanya karena aku takut dia terluka atau apa pun sesuatu yang kejam terjadi kepadanya sepertiku dan Nenek. Baiklah, aku memutuskan untuk menemui Ibu Hani setelah selesai ujian ini, bukan untuk menceritakan semua masalah yang besar ini tapi untuk membuatnya segera sadar bahwa masalah ini terlalu berbahaya untuk dia yang bisa saja ingin membantuku. Untuk saat ini aku harus benar-benar fokus dan konsentrasi agar hasil ujianku tidak membuat Ibu marah nantinya, akhir-akhir ini aku tidak mengerti ibu, dia hanya menyuruhku untuk terus pergi bersekolah dan menyemangati agar aku semangat untuk ujian. Padahal yang aku perlukan bukan itu, yang aku perlu adalah Ibu yang dulu, Ibu yang selalu menyayangi dan membantuku dalam hal apa pun, Ibu yang sebelum ada laki-laki b***t itu di kehidupannya. Ujian berakhir, dan semua peserta ujian mengumpulkan lembar jawaban kepada Ibu Hani, termasuk aku. Ibu Hani menatap mataku dan tersenyum seperti kemarin, senyumannya sangat indah dan membahagiakan. Apa semua itu karena nama Ibu Hani adalah Hani, ya? Tentu saja sepertinya, karena kata orang dulu nama itu adalah do'a. Do'a yang dipanjatkan orang tua untuk anaknya yang baru lahir sampai anaknya meninggal kelak. Apa aku harus menerima penderitaan dan kepahitan seumur hidup karena namaku Mara? “Aku tidak mengerti lagi,” gumamku saat berjalan menuju kantor tempat Ibu Hani menyuruhku ke sana, aku tidak tahu apa yang ingin Ibu Hani bicarakan tapi sudah jelas … pasti tentang aku. Aku masuk ke kantor dan melihat Ibu Hani sedang menyeduh teh hangat dan berkata, “Mara … mau teh juga?” ucapnya sambil mengambil satu gelas lagi yang sepertinya untukku, aku pun menjawab tawaran Ibu Hani, “Iya, Bu. Boleh, tapi gulanya sedikit saja, ya.” “Kenapa gulanya sedikit saja, Mara?” tanyanya padaku, karena biasanya anak-anak yang seumuran denganku suka dengan yang manis-manis. “Mara tidak suka manis, Bu. Mungkin rasa manis tidak cocok untuk Mara,” jawabku, Ibu membulatkan matanya dan menatapku dengan penuh perhatian dan bertanya lagi, “Kenapa tidak cocok untuk Mara?” Aku pun menjawab pertanyaan Ibu Hani lagi, “Karena nama Mara adalah Mara yang berarti pahit, Bu.” Ibu Hani pun berjalan ke arahku dan memberikan gelas teh yang sudah berisikan teh buatannya, Ibu Hani bicara lagi padaku, “Tidak ada nama yang buruk, semuanya baik tergantung si pemakai nama,” ucapnya sambil tersenyum kepadaku. Aku hanya terdiam dan memikirkan apa yang Ibu katakan tadi ada benarnya juga, nama hanyalah nama tidak ada hal lebih dari itu. “Jadi, aku menderita karena aku adalah aku,” gumamku. Ah, aku keceplosan, semoga Ibu Hani tidak mendengar. Ibu Hani diam dan meneteskan air matanya seolah dia benar-benar merasakan kesedihan dan kepedihan yang aku rasakan, padahal aku belum bercerita apa pun padanya selain arti dari namaku. Aku ingin bertanya padanya, ‘Kenapa?’ tapi Ibu Hani segera mengambil tisu untuk menyeka serta menghapus air matanya, dan Ibu Hani kembali berbicara kepadaku, kami duduk berhadapan dan Ibu Hani hanya menatapku dengan hangat. “Ibu kemarin menemukan kertas dekat meja Mara, apa kertas itu milik Mara?” ucapnya pelan. Matanya begitu indah seperti namanya, Hani yang berarti gembira, melihat matanya membuat aku tenang. Aku tidak bisa lagi berpikir untuk menolak atau bahkan berbohong kepadanya, matanya mengisyaratkan kepadaku bahwa aku memang harus menceritakan hal ini padanya, padahal aku benar-benar tidak ingin bercerita apa pun, tapi aku merasa bahwa Ibu Hani harus tahu ini. Beberapa menit aku berpikir dengan semua perdebatan dalam pikiranku, dan beliau hanya menatapku dan sesekali tersenyum. Tuhan … baik sekali orang ini, dia bisa terus menungguku yang belum tentu mau bercerita dengannya. “Mara … bercerita masalah kamu kepada orang lain itu memang kadang tidak dapat menyelesaikan masalah kamu, tapi dengan kamu mau bercerita dengan orang lain itu sedikit dari derita yang kamu rasakan akan berkurang,” ucap Ibu Hani pelan sambil mengusap rambutku, lagi-lagi perasaan hangat ini ada di hatiku sama seperti aku bertemu dengan Nenek. Apa aku boleh berharap lagi? Tapi aku takut harapan ini akan menyakitiku kembali. Ibu Hani yang duduk berseberangan denganku mulai menggenggam kedua belah tanganku dan berkata, “Mara … Ibu siap jika harus mengemban setengah dari apa yang Mara derita. Ibu akan membantu Mara dengan semua yang Ibu miliki, mau itu waktu, kehadiran Ibu untuk Mara atau bahkan dengan materi sekalipun. Ibu akan membantu semuanya,” ucap Ibu Hani lagi dengan tulus, tangan Ibu Hani juga begitu hangat, dan semua kata-katanya juga benar adanya. Aku akan berharap sekali lagi. Ibu Hani … aku berharap kepadamu. Tanpa panjang lebar aku pun mulai menceritakan semua masalah besar yang aku derita sejak aku berumur sepuluh tahun. Aku bercerita tentang laki-laki b***t yang sudah menjadi iblis tingkat tertinggi di rumah yang selalu melakukan hal yang tak senonoh kepadaku, tentang Ibu yang hanya memikirkan bagaimana nilaiku di sekolah, tentang Ibu yang selalu menganggap apa yang aku katakan padanya tentang laki-laki b***t itu adalah salah paham dan terakhir tentunya adalah tentang Nenek yang memberi aku kehangatan tapi dibalas dengan perbuatan k**i laki-laki b***t itu kepadanya. Aku bercerita kepada Ibu Hani hingga siang, aku menangis, aku gemetar dan aku hampir hilang kesadaran saat bercerita kepadanya karena semua tubuhku seperti telah rusak jika aku menceritakan semua hal yang aku alami kepada orang lain, tapi Ibu Hani selalu dapat menenangkanku dengan pelukannya dan dengan senyumannya sejurus dengan mengatakan, “Pelangi akan segera datang, Mara.” Beban di dadaku dan pikiranku seakan berkurang setelah bercerita kepada Ibu Hani, seakan-akan baban itu ditarik paksa oleh Ibu Hani dan ia buang entah ke mana. Ibu Hani juga ikut mengeluarkan bulir-bulir air mata, tapi dia selalu cepat menyekanya agar aku tidak melihatnya menangis katanya, padahal tampak jelas di mataku kau itu benar-benar orang yang baik Ibu.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD