Bab 4 Tawaran Rey

1012 Words
Bian berinisiatif untuk ikut membersihkan rumah. Sebuah vacum cleaner dia tenteng dan mulai menyedot debu di setiap inci ruangan itu. Walaupun pelayan yang lain memakai seragam sedangkan dia hanya memakai terusan selutut, tapi tidak menyurutkan semangatnya. "Peduli amat yang punya rumah ini otaknya keruh kaya air comberan, aku tetap harus berpikiran waras," gumam Bian sambil membungkuk dan terus menggerakkan alat penyedot itu ke sana sini. Duk! Ujung penyedot itu bertabrakan dengan ujung sepatu canvas putih. Bian sontak menghentikan gerakannya, lalu tubuhnya dia tegakkan sempurna. Pandangannya mendarat pada senyuman manis yang tersungging di bibir Rey. "Hai, rajin amat. Udah dikasih tugas tambahan sama Kak Danish?" celotehnya dengan wajah manis. Bahu Bian mengendur. "Aku kira si Tuan m***m," ujar Bian. Mendengar itu Rey tertawa renyah. "Apa? Siapa Tuan m***m? Kamu, lagi. Apa yang kamu tertawakan?!" Sebuah pukulan pelan mendarat di kepala belakang Rey. Melihat siapa yang datang, Bian memutar bola mata. "Panjang umurnya, ni, orang," umpat Bian lirih. "Hei, kau masih berani mengumpat di depanku?" Danish berdiri dengan pongah. Bian tersenyum malas. Walaupun ingin Bian akui jika lelaki itu terlihat sangat tampan dengan stelan blazer abu tua dan rambutnya diikat dengan rapi. 'Ya Tuhan, kenapa mahluk m***m ini begitu ganteng?' batinnya. "Maaf, Tuan, saya hanya bercanda. Silakan lewat, saya mau meneruskan membersihkan rumah ini, agar orang-orang di sini berpikiran bersih," pamit Bian berjalan mundur sambil menarik alat penyedot debu. "Hei, Bian, tunggu sebentar!" panggil Rey. Bian yang sudah hampir masuk ke ruang sebelah menghentikan langkahnya. Matanya menatap penuh tanya pada lelaki berkaos putih ditutupi blazer hitam itu. "Hei, kau mau apa sama dia?" teriak Danish dengan kening berkerut. Rey hanya menjawab dengan lambaian tangan. Danish tampak berdecak sebal. "Bian, kamu mau jadi staff di kantorku? Dengan gaji yang kuberikan kau bisa melunasi hutang pada kakakku," ujar Rey. Mata Bian terlihat berbinar bahagia. "Benarkah? Ta-tapi ... aku hanya lulusan SMA. Pekerjaan apa yang bisa aku handle nantinya?" jawab Bian ragu. "Hei, rupanya kau sudah selangkah lebih maju, Rey! Tapi sorry, Bian itu milikku. Jadi, kau harus mendapatkan izin dulu sebelum mempekerjakan dia. Dan sayangnya aku tidak mengizinkan itu!" ucap Danish sambil melangkah maju mendekati Bian. "Dan kau ... giatlah bekerja, karena kau harus membayar hutang itu lengkap dengan bunga yang bertambah setiap harinya," ucap Danish sambil menepuk pundak Bian. Mendengar itu, mata Bian langsung melotot. "Dasar lintah darat m***m tak berperikemanusiaan!" umpat Bian lirih tapi sukses membuat Rey tertawa terpingkal. Sementara Danish tersenyum sinis dan berlalu ke garasi. "Kau gadis pemberani, Bian. Hanya kau yang berani menyebut kakakku seperti itu." Rey mendekat ke arah gadis berkuncir kuda itu. "Tenang, aku akan mencari cara agar Kak Danish mengizinkanmu bekerja padaku." Rey tersenyum manis kemudian berlalu. "Emh ... Rey!" panggil Bian. Lelaki itu membalikkan badannya. Alisnya bertaut. "Ya?" "Apa kau tidak bisa meminjamkan aku uang sebanyak hutangku pada kakakmu?" tanya Bian memelas. Rey tersenyum menggoda. "Bisa saja, sih. Tapi ada syaratnya." Rey mengedipkan mata. "Apa syaratnya?" Bian tampak penasaran. Dia berharap lelaki di hadapannya ini bisa mengeluarkannya dari masalah pelik. Rey semakin mendekat. "Asal kau mau menjadi milikku," bisik Rey di samping telinga Bian. Gadis itu melotot dan mengangkat gagang penyedot debu itu tinggi-tinggi hingga sejajar dengan kepala Rey. "Dasar! Kakak dan adik sama saja mesumnya. Sini aku bersihkan kotoran yang menempel di otakmu!" teriak Bian. Rey terkikik dan berlari menuju garasi. Sepeninggal dua lelaki itu Bian kembali melanjutkan pekerjaannya. Dia terlihat memaju mundurkan gagang penyedot debu itu sambil menggerutu kesal karena kelakuan kakak beradik itu. Semakin lama gerutuan itu menghilang, berganti nyayian indah dari bibir mungilnya. Beres satu ruangan, Bian hendak berpindah pada sebuah ruangan. Namun, seorang lelaki tua yang tampak duduk dengan tenang sambil menatap ke luar jendela menarik perhatiannya. Bian mendekat dan menyapanya. "Maaf, Tuan, saya mau membersihkan ruangan ini. Tapi ... jika saya mengganggu, saya bisa melakukannya lain kali," ucap Bian seraya berbalik. "Hei, tunggu. Kemarilah!" panggilnya seraya melambaikan tangan. Bian kembali membalikkan badannya lalu membungkuk memberi hormat pada lelaki itu. "Sini! Duduk di sini denganku," ucapnya sambil menepuk sebuah sofa kecil di sampingnya. Bian mengangguk kemudian duduk di samping lelaki itu. "Kamu pelayan di sini?" tanyanya dan menatap Bian lekat. Gadis itu mengangguk. Bian menatap lelaki di sampingnya yang kembali menatap ke luar sambil menghela napas perlahan. "Kamu ada di sini setiap hari 'kan? Apakah kamu bisa melihat anak-anakku bahagia?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangannya. "Jadi, anda adalah ayahnya Tuan Danish dan Rey?" Bian balik bertanya. Lelaki itu tersenyum lalu mengangguk pelan. "Mungkin karena dosa-dosa yang telah aku perbuat hingga mereka makin menjauh dariku. Bahkan mereka tidak mau melihatku saat aku sakit." Bian merasa serba salah untu menanggapinya. Mereka baru bertemu tapi lelaki itu dengan enteng mencurahkan keluh kesahnya. "Ma-maaf Tuan. Mungkin Anda bisa mengatakannya pada mereka. Sepertinya Anda begitu merindukan kehadiran putra Anda. Tunggulah sampai mereka kembali dari bekerja, lalu kalian bisa makan malam bersama." Bian coba menghibur. Namun, lelaki jangkung itu menggeleng pelan. "Mereka, terutama Danish tidak mengharapkan kehadiranku. Melihat kedatanganku saja mereka segera pergi," ucapnya lagi. Bian bisa melihat kesedihan di wajah tua itu. Akan tetapi dia tidak mengetahui seluk-beluk permasalahan di antara ayah dan anak itu. "Danish menjadi seperti itu ... dan Rey juga berubah," ujarnya lagi. Bian kembali menatap lelaki di sampjngnya. "Menjadi seperti itu, maksudnya?" Bian dengan lancang bertanya. Sudah kepalang tanggung dia mengetahui tentang Danish juga Rey. "Danish jadi suka main perempuan. Di usianya yang sekarang dia tidak mau menikah. Hanya berpindah dari satu perempuan ke perempuan lainnya. Sebagai orang beragama, aku takut dia terjerumus makin dalam." Lelaki itu menjeda dan membuang napas kasar. Sebuah dering dari ponsel mengalihkan perhatian ĺelaki tua itu. Dia merogoh sakunya melihat layar ponsel itu sekilas lalu menempelkan di telinga kirinya. "Ya? Ok, sebentar lagi aku ke situ." Klik! Lelaki itu mematikan ponselnya lalu bangkit. "Terima kasih sudah mau mendengarkan aku. Aku menceritakan ini semua karena tadi saat ke sini, sekilas aku bisa melihat pandangan Danish padamu. Dia memperhatikanmu dari jauh. Aku pikir dia menyukaimu," ucapnya sambil mengelus puncak kepala Bian. Mata gadis itu membulat tak percaya. Beberapa langkah berjalan, lelaki itu membalikkan tubuhnya. "Namaku Demian, sampai ketemu lain waktu," ucapnya . Seulas senyum tersungging di bibirnya. Bian pun mengangguk hormat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD