Seperti yang di inginkan oleh Arabelle, agar Andrico mengatur semuanya agar ia bisa dengan mudah ikut dalam pesta ulang tahun dari karyawan di kantornya itu, kini gadis itu telah mendapatkan apa yang di inginkannya itu. Sekarang ia telah berbaur dengan para karyawan kantor perempuan dan berbincang-bincang, setelah tadi Andrico memperkenalkannya sebagai karyawan baru, yang akan mulai bekerja besok. Dan juga selain itu, Arabelle merupakan keponakan dari ibunya, yang itu artinya ia dan Arabelle merupakan sepupu. Pernyataan itu membuat Arabelle sempat menatap Andrico kesal, tapi pria itu hanya tersenyum tipis menanggapi kekesalan dari sahabatnya itu.
Saat sedang asyik-asyiknya bercengkrama, tiba-tiba Andrico menghampiri Arabelle, dan meminta gadis itu untuk mengikutinya, dan setelah itu, pria itu langsung pergi tanpa menunggu jawaban yang akan di berikan oleh Arabelle.
"Duh maaf ya semuanya. Padahal lagi asik banget ngobrol sama kalian. Tapi Pak Bos kita malah manggil," ucap Arabelle menunjukkan raut wajah menyesal.
"Udah santai. Mending kamu ikuti perintah Pak Bos. Itu orangnya galak tau, mana nggak mandang bulu lagi kalo marah-marah. Semoga aja kamu tetap aman deh, masa dia udah mau omelin kamu, sedangkan kerja aja belum," ujar salah satu perempuan yang sedang bercengkrama dengannya, yang langsung di setujui oleh para perempuan lainnya.
"Ya udah, saya ke Pak Bos dulu ya," ucap Arabelle dan setelah di angguki oleh para perempuan-perempuan tersebut, gadis itu kini melangkah menuju ke Andrico yang sedang berdiri di salah satu meja sambil menatap ke arahnya.
"Ke rooftop rumah ini. Nanti disana kamu bakal ketemu sama Aksa," ucap Andrico ketika Arabelle sampai di depannya.
"Ogah, kalo dia lagi sama tunangannya," jawab Arabelle ogah-ogahan.
"Ya nggak mungkinlah, aku nyuruh kamu ke atas, kalo Aksa lagi sama tunangannya," balas Andrico yang membuat Arabelle mengerutkan keningnya bingung.
"Lah terus? Dari tadi juga aku nggak lihat Chalondra disini. Ya udah pasti dia lagi sama, Aksa dong. Nggak mungkin, mereka datangnya bareng, terus nggak barengan kan pas disini," ucap Arabelle yang membuat Andrico mengangkat satu sudut bibirnya ke atas.
"Sebelum kamu berhasil masuk ke hubungan Aksa dan Chalondra, aku udah duluan baby girl," ucap Andrico dengan pelan, yang membuat mata Arabelle seketika melotot, karena kaget dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya barusan.
"Maksud kamu?" Tanya Arabelle, masih belum ingin terlalu percaya, karena biasanya Andrico orangnya suka bercanda.
"Nanti aja jelasinnya. Sekarang waktunya kamu ke Aksa, aku juga harus menjinakkan istrinya, biar nggak bakal ganggu kamu sementara lagi sama Aksa," ucap Andrico dan setelah itu pergi meninggalkan Arabelle yang kini melongo.
Ternyata apa yang di katakan oleh pria itu, nyatanya memang benar. Karena sekarang Arabelle bisa melihat sendiri jika sahabatnya itu berjalan bersama dengan Chalondra entah mau kemana, dengan tangan wanita itu yang melingkar di lengan sahabatnya.
"Ternyata, kamu memang serakah orangnya Chalondra. Sebentar lagi, kamu udah punya Aksa, tapi malah masih tergoda dengan sahabat aku," gumam Arabelle dan setelah itu melangkah ke arah balkon berada, sesuai petunjuk yang sudah Andrico kirimkan lewat pesan singkat.
Sementara itu, Andrico dan juga Chalondra kini telah berada di salah satu kamar tamu di rumah Dio. Tanpa permisi mereka berdua telah masuk ke dalam kamar tersebut, dan menguncinya dari dalam.
"Kamu sangat cantik, malam ini sayang," ucap Andrico sambil meremas lembut pinggang Chalondra.
"Tadi siapa?" Tanya Chalondra.
"Oh itu karyawan baru aku, sayang." jawab Andrico.
"Kok keliatan dekat sama kamu?" Tanya Chalondra, seakan tidak percaya dengan apa yang di katakan oleh Andrico padanya.
"Dia itu keponakannya Mama. Terus Mama juga minta aku buat awasi dia, jadinya aku harus dekat sama dia. Lagian, dia itu udah sepupu aku kok. Kan kekasih aku cuma kamu," ucap Andrico sambil tersenyum.
"Oh gitu," ucap Chalondra sambil ber'o'ria.
"Jadi, kamu pengen kita ketemu kenapa sayang?" Tanya Andrico, karena memang Chalondra sendiri yang mengirimkan pesan padanya agar mereka bertemu malam ini.
Cup
Satu buah kecupan, Chalondra daratkan di bibir Andrico.
"Aku kangen," ujar Chalondra yang sudah di ketahui oleh Andrico maksud dari kalimat singkat tersebut.
"Kita bukan di apartemen aku loh, Sayang. Apalagi disini ada tunangan kamu. Kalo dia sampai tau, gimana?" Tanya Andrico berpura-pura takut.
"Ya nggak apa-apa. Lagian ini kamarnya kedap suara kok, nggak bakal ada yang bisa dengerin kita. Karena aku sama Aksa, udah pernah nginap disini, dan Dio sendiri yang ngomong kek gitu," ucap Chalondra sambil memainkan kerah kemeja milik Andrico.
"Kamu sendiri, yang minta sayang," ucap Andrico dan setelah itu langsung mencium Chalondra yang langsung di balas oleh wanita itu.
Mereka berdua terus berciuman, sambil melepaskan satu persatu pakaian di tubuh mereka, hingga kini tubuh mereka berdua sama-sama polos tak berbalut apa-apa. Tanpa melepaskan ciuman mereka, Andrico mengangkat tubuh Chalondra dan membawanya ke tempat tidur. Andrico tahu, jika apa yang ia lakukan ini terdengar gila, karena ia malah meniduri wanita yang merupakan tunangan orang. Tapi, jika tidak begini, rencana yang di susun oleh Arabelle tidak akan berjalan dengan baik.
Tapi Andrico sama sekali tidak pernah merasa bersalah ketika beberapa bulan yang lalu, ia berhasil meniduri Chalondra. Karena nyatanya wanita itu sudah bukan seorang gadis lagi, bahkan Chalondra sendiri yang mengaku padanya. Jika di pikir-pikir lagi, kasihan sekali Aksa yang menjadi calon suami dari Chalondra. Karena wanita itu sudah lebih dari sekali mengkhianati Aksa, tanpa di ketahui oleh pria itu.
Di lain tempat, Arabelle kini berdiri di samping Aksa yang sejak tadi hanya terus diam, di saat ia mencoba mengajak pria itu untuk bicara. Jika tidak mengingat rencananya, mungkin Arabelle sudah menjambak pria yang sekarang berpura-pura bisu itu.
"Kamu punya mulut kan? Kok dari diam aja sih. Aku ajak bicara juga, malah nggak di jawab. Nggak sopan tau, kalo orang lagi bicara tapi nggak di tanggapi," ucap Arabelle yang entah sudah ke berapa kalinya.
"Bisa diam nggak?" Tanya Aksa, akhirnya membuka suara, karena merasa terganggu dengan ocehan gadis yang entah siapa yang sedari tadi terus mengganggunya. Padahal niatnya datang ke rooftop rumah sahabatnya, untuk mencari suasana yang tenang.
"Nggak bisa, dan nggak akan pernah bisa," jawab Arabelle sambil tersenyum dengan begitu manisnya.
"Nggak jelas," decak kesal Aksa dan ingin segera pergi begitu saja, tapi tangannya langsung di tahan oleh gadis itu.
"Eh mau kemana? Tanya Arabelle, " aku masih pengen ngborol loh."
"Bukan urusan kamu." jawab Aksa.
Cup
Aksa seketika melotot ketika dengan tiba-tiba kepalanya di tarik dan langsung di cium oleh gadis yang tidak ia kenal itu. Ketika mendapatkan kesadarannya kembali, Aksa langsung mendorong Arabelle agar menjauh darinya.
"Kamu gila? Marah Aksa, "berani-beraninya kamu mencium saya seperti ini."
"Aku waras kok," jawab santai Arabelle yang membuat Aksa semakin kesal.
"Orang waras, nggak akan pernah mencium orang lain, dengan sembarangan. Apalagi dengan posisi kita yang nggak saling mengenal," balas Aksa sambil menatap tajam Arabelle, tapi sama sekali tidak membuat Arabelle takut.
"Kamu aja yang nggak kenal, aku siapa. Tapi aku kenal kamu siapa, kamu Aksa Bradley seorang CEO yang di jodohkan dengan Chalondra James kan?" Ucap Arabelle tapi sama sekali tidak membuat Aksa kaget, karena yang ia tahu pasti gadis di depannya ini mengetahui semuanya lewat beritanya dan Chalondra yang sudah sering tersebar di media.
"Semua orang juga tau tentang itu," ucap Aksa dan setelah itu melangkah pergi meninggalkan Arabelle yang kali ini tidak mencegahnya seperti tadi. Tapi kalimat yang di utarakan oleh gadis itu tiba-tiba, membuat Aksa seketika menghentikan langkahnya.
"Aku mencintaimu, Aksa Bradley. Aku udah kenal kamu sebelum kita bertemu hari ini. Mulai sekarang, aku akan berjuang untuk mendapatkan cinta kamu buat aku," ucap Arabelle dengan nada bicara yang di buat sesungguh-sungguh mungkin.
"Jangan pernah bermimpi!" ketus Aksa.