- "Aku benci. Tapi kenapa justru semakin merindu?" - *** "Aduh!" Navino memekik lirih karena kepalanya sukses membentur tembok depan kamar Lila. Dia baru saja memanjat pohon lalu melompat ke balkon kamar mantannya. Entalah, Navino hanya sedikit khawatir dengan gadis itu. Pintu kaca Lila ternyata tidak terkunci. Ruangan kamarnya sangat remang-remang karena hanya dapat sinar dari tempelan glow in the dark di atap kamar. Namun, meski dalam remang-remang, wajah Lila tetaplah terlihat bercahaya. Navino dapat menyaksikan langsung Lila yang tertidur tidak nyenyak. Gadis itu terus menggerakan badannya dan mengganti posisi tidurnya. Navino mendekat ke arah Lila yang dibalut piyama ungu pastel panjang. Dia menempelkan punggung tangannya di dahi Lila. Panas. Itu yang dirasakan Navino meski ba

