21

1011 Words
Seorang laki-laki baru saja menginjakkan kaki di Heathrow Airport. Ia berjalan menyusuri bandara. Sesekali ia melirik ponsel, tetapi pesan yang ditunggunya tak juga muncul. Penampilannya yang tampan, tak pelak menjadi perhatian orang-orang di sekitarnya. Ia berambut pirang, dan berkulit putih bersih bak porselen. Wajahnya oval, dengan jenggot dan kumis tipis. Atribut wajahnya memang rupawan, dengan sepasang mata lebar beriris zamrud, serta hidup mancung dan pipih. Ia mengenakan jaket kulit cokelat yang membungkus tubuhnya yang ideal. Laki-laki itu masuk ke dalan sebuah taksi yang beroperasi di dalam bandara. "Mau ke mana, Sir?" tanya pengemudi taxi, melirik spion. "Hotel?" Laki-laki itu mengangkat kedua ujung bibirnya sedikit. "Bisa antarkan aku ke Axton Tower?" "Tentu, Sir." Pengemudi tersebut pun melajukan taksi melintasi jalanan di bandara. *** Sementara itu di Axton Tower, Ashley Hampton, dan Tammy Jayden telah kembali di ruangan. Tammy mengerling pada Ashley, memberi isyarat agar Ashley menghampirinya, dan menjauh dari Kimberly. "Kenapa, Tam?" tanya Ashley berbisik pada Tammy Jayden. "Dia tidak juga pergi. Tapi kalau pun pergi, pasti membawa ponsel," tukas Tammy Jayden. Ashley berpikir sejenak. "Kamu benar, Tam. Bodoh sekali aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya," ujar Ashley Hampton. Kedua ujung bibir Tammy terangkat tinggi, menampilkan deretan giginya yang putih dan berjajar rapi. "Jangan khawatir." Tammy menepuk bahu Ashley. "Serahkan padaku." Meskipun tidak paham maksud Tammy Jayden, tetapi Ashley menganggukkan kepala. "Tentu saja, Tam." Tammy Jayden pun kembali ke tempat duduknya. Selama beberapa menit ia berada di mejanya, sambil sesekali melirik Kimberly. Akhirnya pada saat Kimberly memegang ponsel, ia datang menghampiri, sembari membawa minuman. "Hai, Kim," sapa Tammy Jayden. "Oh, halo Tam." Ekspresi Kimberly tampak terkejut. Wajar, karena selama ini Tammy belum pernah mendatanginya. "Ada yang bisa aku bantu?" "Ah, iya. Pendahulumu dulu menyimpan file yang kubutuhkan di komputer ini. Bisa tolong carikan?" pinta Tammy Jayden, merapatkan tubuhnya pada Kimberly. "Oke, Tammy. Kamu tahu disimpan di mana?" tanya Kimberly. "Mmm ... kalau tidak salah ada di Drive D." Tammy Jayden menjawab. "Akan kucari." Kimberly berkata. Baru saja Kimberly bergeming, Tammy Jayden sengaja menumpahkan minumannya pada Kimberly. "Kim! Auw ... maaf, a-aku tidak sengaja." Tammy Jayden buru-buru mengambil tisu, dan menyeka pakaian Kimberly yang basah. "Tidak usah, Tam. Aku ti—" "Tidak, tidak. Ini karena kecerobohanku." Tammy Jayden melirik ponsel yang digenggam Kimberly. "Oh, Tuhan! Ponselmu basah! Biar aku bersihkan!" "Tidak perlu—" "Jangan begitu. Aku akan menjadi semakin tidak enak hati." Tammy mengambil ponsel dengan sedikit memaksa, kemudian mengelapnya. "Ponselmu sudah tidak basah lagi," tukasnya, meletakkan ponsel Kimberly di atas meja. "Ayo sekarang ikut aku ke kamar mandi." Tammy menarik Kimberly, tak memberi kesempatan Kimberly menolak. Melihat Tammy Jayden berhasil membawa Kimberly pergi, Ashley Hampton tak menyia-nyiakan kesempatan dan segera mengambil ponsel Kimberly dari atas meja. "Untung saja belum terkunci." Ashley segera mengirim pesan pada Arthur. 'Aku tunggu pukul tujuh tiga puluh malam ini, sepulang kantor di Redhill Hotel kamar 501, yang berada di dekat sini.' Tak lama kemudian ia mendapat balasan. 'Oke.' 'Jangan hubungi aku lagi. Ponselku sebentar lagi habis baterai.' Ashley membalas, kemudian memblokir nomor Arthur di ponsel Kimberly. Tak lama kemudian, Kimberly dan Tammy sudah kembali. "Kim, maaf aku ceroboh sekali," tukas Tammy Jayden. Kimberly tertawa kecil. "Kamu sudah mengucapkannya ratusan kali, Tam. Jangan khawatir, aku sama sekali tidak memasalahkannya." "Kamu baik sekali. Well, kalau begitu aku harus kembali bekerja." Tammy berkata, kemudian mengerling pada Ashley yang mengedipkan sebelah mata. Detik berdetak, menit berganti, jam pun berlalu. Tatkala Ashley tengah menunggu, ada seorang pria yang berjalan di ruangan itu. Ya, itulah pria yang baru saja tiba di London. Ketampanan pria itu mengundang perhatian Tammy. "Ash, tampan sekali laki-laki itu," ujar Tammy Jayden kagum. Ashley memandang sekilas, kemudian mengalihkan pandangan. " Tidak bagiku, Ta—" "Hei dia ke sini!" sergah Tammy Jayden. Tak lama kemudian, laki-laki itu telah tiba di depan mereka. "Bisakah saya bertemu dengan Mr. Grissham?" tanyanya ramah. "Maaf dengan siapa, Sir?" Tammy balas bertanya. Laki-laki itu tersenyum ramah. "Darren ... Darren William." "Ada keperluan apa biar saya sampaikan? Karena saya harus menanyakan kesediaan beliau untuk menemui Anda." Tammy Jayden berkata. "Katakan saja padanya pesanku 'Swiss '19.'" Laki-laki berwajah tampan yang bernama Darren William menjawab. "Oke ...." Mendengar itu, Tammy Jayden merasa aneh, tetapi ia segera menanyakan kesediaan Clive. Tak lama kemudian ia menyampaikan jawaban tersebut pada Darren William. "Sir, silakan ditunggu di ruangannya. Mari saya antar." "Terima kasih." Tammy Jayden pun mengantarkan Darren William ke ruangan Clive. "Tammy, kamu boleh melanjutkan pekerjaanmu." Clive berujar, seraya pandangannya menyelisik Darren William. "Baik, Sir." Setelah Tammy keluar ruangan, Clive segera bertanya pada Darren William. "Swiss '19 ... hanya dua orang yang mengetahui soal itu. Siapa dan apa keperluan Anda?" tanya Clive, penuh selidik. Darren William mengangkat kedua ujung bibirnya terangkat. "Benar hanya dua orang yang mengetahui Swiss '19. Tapi itu dulu. Sekarang menjadi tiga orang." "Apa maksud Anda?" tanya Clive terkejut. "Well, kita memang tidak pernah bertemu. Tapi aku sangat mengenalmu, karena kakakku sering bercerita tentangmu, Clive," tukas Darren William. Clive terhenyak. "Jadi kamu ...." Darren William tersenyum. "Benar. Aku adalah adik mantan tunanganmu, Crystal William." Mendengar nama Crystal disebut, kebekuan di wajah Clive luntur. ia segera menghampiri Darren William. "Oh, Tuhan! Aku tidak menyangka momen ini terjadi. Sudah bertahun-tahun aku mencarinya, tetapi ia seperti menghilang ditelan bumi! Bagaimana kabarnya? Apakah aku bisa menemuinya?" Clive memberondong Darren dengan berbagai pertanyaan. "Dengarkan aku, Clive." Darren William berkata tajam dan lamat-lamat. "Kedatanganku ke sini bukan untuk memberitahu di mana keberadaan kakakku, maupun berbaik-baik denganmu." Clive tersentak. "Apa maksudmu?" Darren William menunjukkan setengah seringai. "Kamu pikir setelah apa yang kamu, dan sahabatmu lakukan pada kakakku, aku akan diam saja?! Tidak ... tidak ... bukan hanya aku. Seluruh keluarga William tidak akan tinggal diam." Darren William menatap tajam pada Clive. "Sudah beberapa tahun ini kakakku harus dirawat di Rumah Sakit Jiwa. Karena itu, kedatanganku untuk menyampaikan, kalau dalam beberapa tahun ke depan, kami akan menghancurkan kamu, Arthur, dan juga ... Axton Group." Darren William berjalan ke arah pintu. "Sementara ini, nikmati hari-hari kalian sebelum kami datang menghancurkan kalian." Kemudian keluar dari dalam ruangan Clive. Clive membeku, tak percaya dengan kejadian yang baru saja terjadi. Entah mengapa, kecemasan menyergapnya seketika itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD