"Dih, Nathan. Emang kenyataannya begitu. Seharusnya, sesibuk apa pun suami Nadira, dia antar istrinya pulang dulu baru lanjutkan pekerjaan! Kasihan dikit kek sama istrinya, ini udah hampir tengah malam, loh! Kalau itu kamu, emangnya tega biarin istrimu pulang malam-malam sendirian? Namanya hari apes itu nggak ada di kalender!" Pitaloka mencembikkan bibir. Nadira hanya tersenyum ketika melihat bagaimana perempuan itu terus menyudutkan sang suami. Nadira tidak ambil pusing dan lebih memilih untuk diam. Dia juga tidak perlu menjelaskan semuanya karena sudah terlalu lelah menjalani hari ini. "Kalau suamimu masih lama, ikut kita saja!" Pitaloka menawarkan tumpangan kepada Nadira. Nadira terdiam sejenak. Dia pun mulai memikirkan banyak hal mengingat cuaca yang kurang bagus dan pesanan taksiny

