Waktu berlalu begitu cepat, dan semburat kebahagiaan semakin nyata menyelimuti keluarga Kalandra. Satu bulan setelah kelahiran Arjuna, persiapan pernikahan akbar antara Candra dan Anya telah mencapai puncaknya. Seminggu menjelang hari bahagia itu, Candra mengambil cuti khusus untuk menjemput harta paling berharganya yang jauh-jauh datang dari Jombang, Jawa Timur. Di peron Stasiun Gambir, Candra berdiri tegap dengan kemeja batik yang rapi. Matanya mencari-cari sosok wanita bersahaja yang telah membesarkannya dengan cucuran keringat. Begitu melihat wanita berhijab teduh bernama Ibu Cahaya keluar bersama seorang gadis remaja cantik bernama Gendis, Candra langsung menghambur dan mencium tangan ibunya dengan takzim. "Anakku, Candra... kamu sudah jadi orang besar sekarang," bisik Ibu Cahaya

