Kereta api perlahan bergerak, membelah kesunyian pagi. Elvina melambaikan tangan sampai bayangan kereta itu hilang ditelan tikungan rel. Seketika, hatinya terasa kosong. Separuh jiwanya seolah terbawa pergi menuju ibu kota.
Kehidupan di Yogyakarta kembali ke rutinitas semula, namun bagi Elvina, semuanya terasa hambar. Saat ia berdiri di depan kelas, menjelaskan teori-teori komunikasi kepada mahasiswanya di kampus UMY, pikirannya sering melayang ke Jakarta.
Sedang apa Mas Reza sekarang? Apakah dia sedang rapat? Apakah dia sudah makan siang?
Setiap malam, Elvina meringkuk di sisi ranjang yang biasanya ditempati Reza. Dia akan memeluk bantal yang masih menyisakan sisa parfum maskulin suaminya. Ruang tamu rumah minimalis mereka terasa terlalu luas untuknya sendiri.
"Mas, kangen banget..." bisik Elvina pada layar ponselnya saat melihat foto pernikahan siri mereka.
Namun, di seberang sana, frekuensi komunikasi mereka mulai berubah. "Maaf Sayang, aku lagi rapat sama Presdir," atau "Lagi ada meeting makan malam sama klien besar, nanti aku telepon balik ya," menjadi jawaban yang sering Elvina terima melalui pesan singkat.
Elvina mencoba mengerti. Dia tahu posisi Manajer Operasional di perusahaan sebesar Kalandra Wahyu Perkasa menuntut dedikasi total. Dia bangga memiliki suami yang hebat dan pekerja keras seperti Reza. Dia tidak pernah menaruh curiga sedikit pun bahwa di Jakarta, "rapat sama Presdir" terkadang berarti makan malam romantis di restoran mewah bersama Anya Dian Safitri, istri sah Reza secara hukum negara.
Kerinduan Elvina tumbuh menjadi sebuah pengharapan yang menyakitkan. Setiap dering telepon membuatnya melonjak kegirangan, dan setiap pembatalan janji temu di akhir pekan karena alasan "pekerjaan mendadak" membuatnya menangis sendirian di pojok kamar. Elvina tetap menjadi istri yang penurut dan penuh doa, menjaga kesucian dan cintanya di Yogyakarta, tanpa tahu bahwa dia hanyalah sebuah rahasia yang disimpan rapat-rapat oleh Reza di balik jas mahalnya.
Jakarta tidak pernah tidur, begitu pula ambisi Reza Mahardika.
Suara bising klakson di jalanan Sudirman terdengar samar dari lantai 25 gedung PT Kalandra Wahyu Perkasa. Di balik meja kerja mahoni yang berkilat, Reza duduk dengan setelan jas custom-made seharga puluhan juta rupiah. Dia bukan lagi Reza yang santai dengan kaos oblong di Malioboro. Di sini, dia adalah Sang Manajer Operasional yang disegani—atau lebih tepatnya, menantu emas sang pemilik perusahaan.
Pintu ruangan terbuka tanpa ketukan. Seorang wanita cantik dengan gaun branded dan tas tangan Hermes masuk dengan langkah anggun. Anya Dian Safitri.
"Sayang, sudah selesai? Papa sudah menunggu di restoran bawah untuk makan siang," suara Anya manja, tangannya melingkar di leher Reza.
Reza tersenyum, senyum yang sudah ia latih di depan cermin selama bertahun-tahun. Ia mengecup punggung tangan Anya. "Sebentar lagi, Honey. Laporan logistik dari cabang Surabaya sedikit berantakan. Aku harus beresin dulu biar Papa nggak kecewa."
Anya tertawa kecil, mengelus rahang Reza yang tegas. "Kamu itu terlalu rajin. Papa nggak akan marah kalau kamu telat lima menit demi istrinya sendiri."
Reza terdiam sejenak. Istri. Kata itu kini memiliki dua wajah di kepalanya. Di Yogyakarta, ada Elvina yang menunggunya dengan daster sederhana dan masakan hangat. Di Jakarta, ada Anya yang memberinya kunci menuju takhta kekuasaan.
Dulu, Reza hanyalah staf biasa di departemen logistik. Dia pintar, tapi tanpa koneksi, kepintarannya hanya akan membawanya sampai posisi supervisor. Hingga dia bertemu Anya di pesta ulang tahun perusahaan. Anya jatuh cinta pada ketampanan dan cara bicara Reza yang manis. Demi jabatan ini, Reza rela mengubur harga dirinya, menikahi Anya, dan membiarkan dunia mengira dia adalah suami yang paling beruntung.
"Oke, ayo jalan. Aku nggak mau bikin mertua tersayangku menunggu," ucap Reza sambil merangkul pinggang Anya. Di dalam hati, dia merasa seperti seorang p*****r intelektual yang menjual cintanya demi kursi empuk di lantai 25.
Malam harinya di apartemen penthouse mereka di kawasan Senopati, Reza terus memainkan perannya. Dia tahu betul bahwa Anya adalah kunci posisinya. Jika Anya bahagia, Pak Wahyu Kalandra—ayah Anya—akan terus memercayakan operasional perusahaan padanya.
"Capek ya, Yang?" tanya Anya sambil menyodorkan segelas wine.
Reza menarik Anya ke dalam pelukannya di sofa besar menghadap gemerlap lampu Jakarta. "Lumayan. Tapi kalau lihat kamu, capeknya hilang."
Reza bersikap sangat manis. Dia adalah tipe suami yang akan membawakan bunga tanpa alasan, yang akan mengingat setiap tanggal penting, dan yang selalu memuji masakan Anya meskipun koki pribadi yang menyiapkannya. Semua perhatian itu adalah "pajak" yang harus dia bayar untuk menutupi rasa bersalahnya—dan tentu saja, menutupi keberadaan Elvina.
"Papa tanya, kapan kita mau program hamil lagi? Belum ada tanda-tanda ya?" Anya bertanya dengan nada sedikit sedih. Mereka sudah menikah dua tahun, namun rahim Anya belum juga memberikan tanda kehidupan.
Reza mengecup kening Anya, berusaha menenangkan. "Sabar, Sayang. Mungkin Tuhan mau kita pacaran dulu. Aku juga masih sibuk banget sama proyek baru di Jawa Tengah itu, kan?"
"Ah iya, proyek yang bikin kamu harus ke Yogyakarta tiap akhir pekan itu ya?" Anya cemberut.
"Iya, Honey. Itu investasi besar buat kita. Aku mau buktikan ke Papa kalau aku bisa bangun bisnis sampingan yang sukses juga di sana bareng teman-teman kuliahku dulu. Biar Papa makin bangga punya menantu kayak aku," bohong Reza dengan lancar. Kata-katanya begitu meyakinkan sampai-sampai dia hampir memercayai kebohongannya sendiri.
Rutinitas Reza telah tertata rapi seperti mesin yang diminyaki dengan baik. Senin sampai Kamis adalah waktunya menjadi eksekutif muda di Jakarta. Jumat sore, dia akan membawa koper kecilnya, berpamitan pada Anya dengan alasan "mengecek gudang dan bisnis ekspedisi di Yogyakarta," lalu terbang menuju Adisutjipto.
Di Yogyakarta, dia kembali menjadi Reza yang dipuja Elvina. Dia menghabiskan hari Sabtu dan Minggu dengan penuh cinta di rumah minimalis yang dia beli untuk Elvina. Di sana, tidak ada tekanan dari Pak Wahyu Kalandra, tidak ada tuntutan gaya hidup mewah Anya. Hanya ada Elvina yang mencintainya tanpa syarat.
"Mas, kok setiap ke sini bajunya cuma dikit? Apa aku perlu beliin lemari yang lebih besar buat baju-baju kerjamu?" tanya Elvina suatu sore saat mereka sedang santai di teras.
Reza tertawa, menarik Elvina ke pangkuannya. "Nggak usah, Sayang. Di sini aku maunya santai. Baju-baju kantor biarlah tinggal di Jakarta. Di Jogja, aku cuma mau jadi suamimu yang paling sederhana."
Anya tidak pernah menaruh curiga. Kenapa harus curiga? Setiap kali pulang dari Jogja, Reza selalu membawa oleh-oleh bakpia kesukaan Anya, atau kain batik tulis mahal yang dia klaim dibeli dari pengrajin rekan bisnisnya. Reza sangat teliti; dia punya dua ponsel, dua kartu kredit, dan dua kepribadian yang dipisahkan oleh jarak 500 kilometer.
Baginya, ini adalah solusi sempurna. Dia mendapatkan kekuasaan dan harta di Jakarta, dan dia mendapatkan cinta sejati di Yogyakarta. Dia merasa seperti raja yang memiliki dua kerajaan, dan dia yakin bisa menjaga rahasia ini selamanya.
Suatu sore di bulan ketiga pernikahan siri mereka, Reza sedang berada di kantornya di Jakarta ketika ponsel rahasianya bergetar. Sebuah pesan dari Elvina.
“Mas, bisa telepon? Ada hal penting yang harus aku kasih tahu.”
Jantung Reza berdegup kencang. Dia segera mengunci pintu ruangannya dan menelepon balik.
"Halo, El? Ada apa? Kamu sakit?" suara Reza penuh kecemasan yang tulus.
Di ujung telepon, terdengar isak tangis bahagia. "Mas... aku tadi ke dokter... aku telat dua minggu. Mas, aku hamil. Kita bakal punya bayi."
Reza terdiam. Dunianya seolah berhenti berputar sejenak. Ada gelombang kebahagiaan yang luar biasa menghantam dadanya—perasaan yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Anya. Keturunan. Sesuatu yang sangat diinginkan keluarga Kalandra namun belum bisa diberikan Anya, justru diberikan oleh Elvina, wanita yang dia nikahi secara sembunyi-sembunyi.
"Mas? Kamu di sana?" tanya Elvina cemas karena Reza terdiam lama.
"Iya, Sayang... Aku di sini. Ya Tuhan, El... Aku... aku bahagia banget. Kamu beneran hamil?"
"Iya, Mas. Dokter bilang usianya baru enam minggu. Kamu kapan ke Jogja? Aku mau kita rayain bareng."
"Besok! Besok aku langsung terbang ke sana. Aku nggak peduli ada rapat apa pun. Aku sayang kamu, El. Sayang banget."
Setelah menutup telepon, Reza menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Dia tertawa sendiri, tawa yang penuh kemenangan namun juga mengerikan. Dia merasa telah memenangkan permainan hidup. Di Jakarta dia berkuasa, dan di Yogyakarta dia akan segera menjadi seorang ayah.
Anya nggak bisa kasih aku anak, tapi Elvina bisa, batinnya licik.
Reza tidak sadar bahwa benih yang tumbuh di rahim Elvina adalah awal dari kehancuran menara gading yang dia bangun. Kehamilan itu akan mengikatnya lebih dalam dengan Yogyakarta, sementara di Jakarta, mata Anya mulai memperhatikan pola suaminya yang semakin sering melamun dan tersenyum pada ponselnya. Badai sedang menuju ke arah mereka, dan Reza Mahardika tidak punya tempat untuk bersembunyi.
yogyakarta pagi itu terasa lebih hangat bagi Elvina. Ia berdiri di depan teras sebuah rumah minimalis modern di kawasan asri Sleman. Rumah itu tidak terlalu besar, namun setiap sudutnya dipilihkan oleh Reza dengan penuh perhatian. Ada taman kecil di depan dengan tanaman mawar kesukaan Elvina, dan sebuah ayunan kayu untuk mereka bersantai di sore hari.
"Mas, ini terlalu mewah buat aku," ucap Elvina saat Reza menyerahkan kunci rumah itu kepadanya.
Reza memeluk bahu Elvina, tangannya yang hangat mengusap perut Elvina yang kini sudah mulai terlihat sedikit menonjol di usia kehamilan tiga bulan. "Nggak ada yang terlalu mewah buat ibu dari anakku, Sayang. Aku nggak mau kamu capek urus rumah besar Paman Ahmad terus. Di sini, kamu bisa istirahat. Aku sudah bayar asisten rumah tangga untuk datang setiap pagi biar kamu nggak perlu cuci baju atau ngepel."
Elvina menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Di matanya, Reza adalah sosok suami idaman yang sempurna. Bertanggung jawab, mapan, dan sangat menyayangi calon anak mereka. Setiap akhir pekan, Reza selalu membawakannya vitamin terbaik, baju hamil yang nyaman, dan buku-buku tentang pola asuh anak.
"Mas Reza itu anugerah terindah buat aku," bisik Elvina sambil menyandarkan kepala di d**a bidang suaminya.
Reza mencium puncak kepala Elvina, namun matanya menatap kosong ke arah jalanan. Di dalam hatinya, rumah ini adalah "sangkar emas" yang ia bangun untuk memastikan Elvina tetap aman dan tidak banyak bertanya tentang kehidupannya di Jakarta. Ia merasa telah menjalankan kewajibannya sebagai pria sejati, tanpa menyadari bahwa fondasi rumah ini dibangun di atas tumpukan kebohongan yang mulai membusuk.