“GIMANA? Enak?” Trisha mengangguk dengan mulut yang masih penuh oleh es krim. Gadis itu tampak senang diajak ke kedai es krim. Terbukti sudah dua mangkuk es krim ia habiskan. Alden tersenyum melihat ekspresi cerah sang adik. Laki-laki itu sesekali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Timbul sedikit rasa cemas ketika memikirkan seseorang. “Kakak kenapa?” Alden buru-buru memutus perhatian dari jam tangan. Ia tersenyum, lalu menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaan Trisha. “Enggak. Enggak kenapa-kenapa. Ayo, habisin es krimnya. Kan, kamu yang pesen. Enggak baik kalo sampe ada sisa.” Trisha sedikit cemberut, merasa tak puas dengan jawaban Alden. Gadis itu lantas menunjuk mangkuk es krim kakaknya dengan gerakan dagu, lalu membalas, “Tuh, punya Kakak juga habisin, don

