ALKA celingak-celinguk mencari keberadaan seseorang di kantin kampus Dahinya berkerut samar. Ia menunduk, menatap layar ponsel yang menampilkan roomchat-nya dengan salah satu kontak. “Alden mana, ya? Katanya udah di kantin,” gumamnya bingung.
Gadis berambut panjang kecokelatan itu mengalihkan perhatian dari ponsel. Ia berjalan pelan sambil menoleh kanan dan kiri mencari sosok Alden. Alka berdecak pelan dan memilih pergi ke salah satu meja kantin. Namun, langkahnya terpaksa terhenti karena pandangannya tiba-tiba saja berubah gelap karena tertutup sesuatu.
Alka refleks berseru kaget. Ia memegang sesuatu yang menutupi kedua matanya. “Ih, ini apa, sih?”
Terdengar suara tawa kecil dari belakang Alka.
Alka mengernyit bingung. “Siapa, sih, ini? Kenapa pake nutup mata aku segala?” Gadis itu mulai meras geram.
“Coba tebak siapa.”
Alka terdiam saat mendengar suara seseorang dari belakangnya. Ia merasa tidak asing dengan suara tersebut. Langsung saja, ia membuka suara dan menebak, “Alden?”
Tawa kecil kembali terdengar. Bersamaan dengan hal itu, Alka kembali bisa melihat dengan normal. Seseorang di belakang Alka berhenti menutup kedua matanya.
Alka segera berbalik badan. Benar saja dugaannya kalau yang menutup kedua matanya tadi adalah Alden, pacarnya. Langsung saja, ia menghadiahi tepukan di pundak pacarnya itu. Sontak saja, Alden mengaduh. “Ih, nyebelin banget!”
Alden memegang pundak yang baru saja diserang oleh Alka. “Kenapa aku dipukul?"
“Habisnya kamu jahil banget. Nyebelin tau!” Raut muka Alka terlihat kusut. Gadis itu melipat kedua tangan di depan d**a dengan bibir mengerucut.
“Bercanda doang kali, Alk. Serius amat nanggepinnya.”
Alka tidak menjawab. Gadis itu mengalihkan tatapannya ke arah lain, tak ingin menatap Alden. Pura-pura merajuk.
Alden tertawa geli melihat ekspresi Alka yang menahan kesal. Tanpa permisi, tangannya bergerak ke arah puncak kepala Alka. Ia mengacak gemas rambut pacarnya. “Udah, enggak usah cemberut gitu, ah, mukanya. Apalagi, bibir kamu, tuh.”
Alka melirik sinis Alden. Ia mengernyit samar. “Emang ada apa sama bibir aku?”
Alden tersenyum tipis. “Enggak usah maju-maju kayak tadi. Kayak ... mau minta dicucup aja.”
Mendengar kalimat tersebut, kedua mata Alka langsung membulat sempurna. Gadis itu menatap Alden dengan raut terkejut. Berani sekali laki-laki itu berbicara!
PLAK!
Tanpa rasa bersalah, Alka kembali menyerang bahu Alden. Gadis itu memberikan tepukan yang lebih keras dari sebelumnya ke bahu pacarnya. Ia menatap Alden dengan tajam, lalu berkata, “Kamu yang bener aja, deh, kalo ngomong, Ald! Enggak usah aneh-aneh!”
Alden tertawa puas melihat reaksi Alka. Ia mengusap-usap bahu yang menjadi korban serangan pacarnya. “Makanya, enggak usah cemberut, apalagi sampe maju-majuin bibir kayak tadi.”
Alka tidak menanggapi perkataan Alden lebih lanjut. Ia mencebikkan bibir kesal. Gadis itu berdeham. “Kamu habis dari mana, sih? Katanya, udah sampe di kantin dari tadi, tapi pas aku udah sampe sini, kok, aku enggak langsung nemu kamu?”
“Nyarinya enggak pake hati, sih, jadinya enggak ketemu.”
Alka menatap aneh Alden. “Apa hubungannya coba?”
“Ada, lah.”
“Apa emangnya?” tanya Alka dengan sedikit mengangkat dagu.
Alden tersenyum misterius. Laki-laki itu tiba-tiba saja mencondongkan tubuh ke arah Alka dan menyejajarkan bibir dengan telinga gadis itu. “Ada, deh,” katanya, diakhiri dengan tawa kecil.
Alka langsung berdecak kesal mendengar perkataan Alden. “Bercanda mulu, deh, kamu,” sungutnya.
Alden tertawa kecil dan memasukkan kedua tangan di saku celana. “Tadi, aku habis jawab telepon.”
“Kenapa enggak di kantin aja?”
“Rame, Alk. Suaranya enggak bakal kedengeran.”
Alka mengangguk pelan. “Emang ... habis teleponan sama siapa?”
Sayangnya, Alden tidak langsung menjawab. Laki-laki itu terlihat diam dan sedikit menunduk. Ia juga tidak menatap ke arah Alka lagi.
Hal itu membuat Alka mengernyit samar. Ia merasa ada yang aneh. “Teleponan sama siapa, Ald?” Gadis itu terpaksa mengulang pertanyaan.
Alden mengerjap beberapa kali. Laki-laki itu kembali menatap Alka dan tersenyum simpul. Ia menggeleng kemudian. “Cuma ... teleponan sama temen, kok, Alk.”
Kini, giliran Alka yang terdiam. Gadis itu menyelisik ekspresi wajah Alden. Entah mengapa, ia merasa ada sedikit kejanggalan dari jawaban pacarnya. Akan tetapi, gadis itu hanya mengembuskan napas pelan dan mencoba untuk tetap berpikir positif. Mungkin, memang benar jika Alden bertelepon dengan teman tadi.
“Ya udah, kita pulang sekarang aja, yuk.”
Alden mengangguk. Ia dan Alka berjalan menuju area parkir kampus. Tanpa permisi, laki-laki itu mengambil tangan Alka dan menggenggamnya erat. Alka yang merasakan sentuhan itu, refleks menurunkan pandang. Ia menatap tangannya yang bertaut erat dengan tangan Alden. Gadis itu diam-diam tersenyum sambil memandangi Alden dari samping. Ia merasa ... hangat.
Sesampainya di area parkir, Alden segera memasangkan helm untuk Alka. Ia memandangi pacarnya itu dan tersenyum tipis. “Omong-omong, Alk, Sabtu kamu sibuk, enggak?”
Alka menaikkan kaca helm agar bisa melihat wajah laki-laki di hadapannya dengan jelas. “Eum ..., belum tau, deh. Kayaknya, sih, enggak. Paling cuma pulang ke rumah. Itu pun kalo enggak ada kuliah dadakan.”
Alden manggut-manggut mendengar jawaban Alka. Sementara itu, Alka memandangi Alden dengan raut penasaran. “Emangnya kenapa kamu nanya besok Sabtu aku sibuk atau enggak?”
Kedua alis Alden terangkat tinggi mendengar pertanyaan yang baru saja tercetus dari mulut Alka. “Eum ..., rencananya kalo kamu enggak sibuk, aku mau ngajak kamu jalan-jalan gitu. Tapi sayangnya, kamu harus pulang ke rumah, ya, besok Sabtu?”
Alka sejenak terdiam. Gadis berdeham panjang sambil merenung. Hari Sabtu memang sudah menjadi jadwal khusus baginya---juga Delma---untuk pulang ke rumah. Akan tetapi, mendengar perkataan Alden yang ingin mengajaknya pergi jalan-jalan, tentu membuat Alka tergiur.
“Kalo emang enggak bisa, enggak perlu dipaksa, kok, Alk. Nanti kita bisa cari hari yang lain. Gimana?”
Alka menaikkan kedua alis. Gadis itu segera menggeleng. “Eh, enggak gitu. Kalo kamu beneran mau ajak aku jalan-jalan, enggak apa. Aku ayo-ayo aja, kok. Nanti biar aku bilang ke mama, papa, sama Delma kalo besok Sabtu aku enggak pulang ke rumah dulu.”
“Tapi, kalo nanti mereka marah, gimana?”
Alka tersenyum simpul. “Enggak akan. Mereka pasti kasih izin, kok. Sekali-kali, kan, enggak apa-apa.”
“Beneran?”
“Beneran, lah. Tenang aja.” Alka kembali tersenyum.
Melihat ekspresi pacarnya, Alden ikut tersenyum. Tangannya refleks bergerak menuju puncak kepala Alka.
“Eh, kamu mau apa?” Alka langsung bertanya. “Mau ngacak-ngacak rambut aku lagi? Ald, liat yang bener, dong. Kan, aku sekarang udah pake helm.”
Alden baru tersadar akan hal tersebut. Laki-laki menjauhkan tangannya dari kepala Alka yang terbungkus helm. Ia tertawa kecil kemudian. “Kelupaan. Maaf.”
Alka geleng-geleng dengan tingkah pacarnya. “Oh, ya. Emang ... besok Sabtu kamu mau ajak aku ke mana, sih, sebenernya?”
Alden yang baru saja selesai mengenakan helm langsung menatap Alka. Ia tersenyum dan berkata, “Rahasia, lah.”
Alka mengerucutkan bibir begitu mendengar jawaban Alden. “Ah, kenapa jadi rahasia-rahasiaan gini, sih?” sungutnya.
Alden hanya tersenyum geli melihat ekspresi Alka. “Nanti kamu juga bakal tau, kok, Alk. Sabar aja yang penting.”
Alka mengembuskan napas berat.
“Tapi, Alk ....”
Alka melirik Alden, penasaran apa yang akan laki-laki itu katakan selanjutnya.
Alden menatap Alka dengan mimik muka serius. “Kamu ... udah kedatangan tamu belum?”
Pertanyaan Alden tersebut sukses membuat dahi Alka berkerut. Ia merasa heran dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkan oleh pacarnya. Ia sedikit menelengkan kepala saat menatap Alden. “Kedatangan tamu?” ulangnya. “Tamu ... apa maksud kamu?”
Alden terdiam sejenak. Laki-laki merasa ragu untuk melanjutkan pertanyaannya. Ia mengalihkan sejenak tatapannya dari Alka.
Alka semakin penasaran. “Ald? Tamu apa maksud kamu?”
Alden kembali menatap Alka. Laki-laki itu menelan ludah berat. “Maksud aku ....”
Alka menatap Alden dengan raut serius. Ia sungguh penasaran dengan maksud pertanyaan Alden tadi.
Alden mengembuskan napas pelan dan memberanikan diri bertanya, “Kamu udah kedatangan tamu bulanan atau belum?”
Alka langsung membulatkan kedua mata usai mendengar pertanyaan Alden.
BERSAMBUNG
ke
PART 35
Ih, Alden pertanyaannya sungguh-sungguh ambigu, ih!
Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:)
Ikuti juga media sosialku di,
Instagram : pe.naka
TikTok : penaka_
See you and thank you!
Salam Candu♡