Part 17 - Curi-curi Kesempatan

1477 Words
ALDEN hanya bisa meringis kesakitan saat Alka mengobati luka yang menghias paras tampannya. “Aw! Sakit, Alk!” keluhnya. Alka terus menyentuhkan es batu yang dibalut sapu tangan ke bagian wajah pacarnya yang lebam. Ia melakukannya penuh kelembutan, tetapi Alden tetap saja mengeluh sakit. “Makanya, enggak usah berantem-berantem kayak tadi!” omel Alka. “Buat apa coba, hm? Mau sok jadi jagoan?” Bukannya menjawab, Alden malah diam. Tangannya menyentuh sudut bibir yang terluka. Ada noda darah di sana. Dalam hati, laki-laki itu mengumpat karena terlihat buruk di mata Alka sekarang. “Maaf, tapi aku berantem juga ada alasannya, Alk.” Alka menurunkan tangan dari wajah Alden dan menatap laki-laki itu dengan ekspresi datar. “Apa emangnya?” Alden balas menatap pacarnya. “Aku berantem buat belain kamu, Alk. Omongan Dava kurang ajar banget. Enggak sopan!” Embusan napas berat keluar dari mulut Alka. Ya, Alka sadar, Alden tidak berbohong karena ia juga mendengar sendiri apa yang dibicarakan pacarnya dengan Dava. “Kamu percaya aku, ‘kan?” Alka mengerjap beberapa kali, tersentak dari lamunan. Gadis itu mengangkat bahu dan berdiri. Ia menurunkan pandang, menatap datar Alden. “Jangan banyak ngomong dulu. Bibir kamu, tuh, masih luka.” Refleks, Alden kembali menyentuh sudut bibirnya yang masih mengeluarkan darah. “Bu, plester kecil sama tisu basah ada?” pinta Alka pada seorang wanita paruh baya yang menjaga warung. “Ada, Mbak. Sebentar.” Alka mengangguk dan menunggu. Usai perkelahian antara Alden dan Dava, Alka melerai kedua laki-laki itu. Ia menarik Alden keluar dari rumah Dava. Sampai di luar, ia langsung memarahi pacarnya itu. Namun, Alden terus membela diri dengan mengatakan bahwa Dava yang pertama mencari perkara. Ia pun memutuskan mengajak Alka pergi saja. Di sinilah mereka berdua sekarang, sebuah warung di pinggir jalan perumahan. Alka yang meminta untuk singgah sejenak di tempat ini. Tentu, untuk mengobati luka fisik yang didapat Alden. “Ini, Mbak.” “Oh, ya. Terima kasih, ya, Bu. Nanti saya bayar,” ucap Alka, tersenyum ramah. “Iya, Mbak.” Setelah mendapat apa yang diperlukan, Alka kembali duduk di sebelah Alden. “Sini, aku obatin dulu luka di bibir kamu.” Alden hanya mengangguk. Ia menggeser duduknya lebih dekat dengan Alka agar gadis itu lebih leluasa untuk mengobati lukanya. Laki-laki itu kembali meringis, merasa nyeri saat Alka menyentuhkan tisu basah ke sudut bibirnya. Melihat reaksi Alden yang kesakitan membuat Alka tertawa geli. Alden mengernyit heran. “Kenapa?” Alka langsung menggeleng dan kembali fokus membersihkan darah yang mengalir dari sudut bibir Alden. “Enggak apa-apa, kok. Cuma ... lucu aja. Kamu tadi berantem sok ye banget. Giliran diobatin gini, ngaduh kesakitan. Hehe.” “Ya ..., namanya juga sakit. Coba kamu yang kayak gini, kamu pasti juga sama,” balas Alden. Alka hanya menanggapinya dengan tawa kecil. Gadis berambut gelap sebahu---lebih sedikit---itu dengan telaten menyentuhkan tisu basah ke bagian yang luka. Setelah dirasa bersih, ia menutup bagian yang luka itu dengan plester kecil. Butuh kejelian agar plester itu terpasang dengan tepat. Alden diam memperhatikan wajah Alka yang kini begitu dekat dengannya. Laki-laki itu beralih menatap jari lentik Alka yang berusaha memasang plester di sudut bibirnya. Entah sudah berapa detik ia memandang Alka diam-diam seperti ini. Dirinya seolah terbius akan pesona gadis yang telah menjadi pacarnya selama satu tahun itu. Tangan Alden terangkat, perlahan bergerak mendekati wajah Alka. Ia menyingkirkan beberapa helai rambut Alka yang jatuh, menutupi paras gadis itu. Ia selipkan rambut itu ke belakang telinga Alka. Alka membeku di tempat. Matanya melirik kaku ke arah Alden yang tengah menatapnya begitu lekat. Ia baru sadar jika wajahnya berhadapan tepat dengan wajah Alden. Jaraknya pun cukup dekat. Tangan Alka bergerak turun secara perlahan begitu selesai memasang plester. Namun, matanya terus tertuju pada Alden. Jantung Alka berdegup kencang. Tatapan Alden begitu teduh, membuatnya terbuai dan lupa dengan sekitar. Seolah, hanya ada mereka berdua saja di dunia ini. “Kamu cantik ...,” puji Alden lirih. Dua kata tersebut sukses membuat Alka menegang. Ia diam, tak berkutik sama sekali. Ia bahkan lupa bagaimana caranya berkedip. Apa ... ia tidak salah dengar? Apakah Alden benar-benar sedang memujinya? Tatapan dua insan itu masih saling terkunci. Tatapan penuh perhatian dan juga ... rasa. Entah sadar atau tidak, Alden dengan penuh keberanian memangkas jarak di antara wajahnya dan juga Alka. Embusan napasnya menyapu kulit wajah Alka dengan lembut, membuat gadis itu merasakan desiran aneh dalam diri. Alka menelan ludah susah payah saat merasakan pucuk hidungnya bersentuhan dengan pucuk hidung Alden. Tanpa sengaja, Alka teringat dengan momen beberapa hari yang lalu, saat ia pulang dari pasar malam bersama Alden. Suatu pertanyaan tebersit di pikiran Alka. Apakah Alden akan kembali melakukan ‘hal itu’ padanya? Jarak terus terpangkas mendekati kata habis. Namun begitu, Alka segera menguasai diri. Gadis itu memalingkan wajah ke kanan, menghindari Alden. Alden cukup tertegun dengan reaksi Alka yang tiba-tiba itu. “Jangan di sini, Ald,” ucap Alka lirih. “Nanti ... diliatin orang-orang.” Alden mengerjap beberapa kali. Ia lantas menjauhkan wajahnya dari Alka. Laki-laki itu juga memalingkan wajah ke arah lain. Alka berusaha menenangkan diri. Bisa ia rasakan jantungnya yang berdegup kencang. Gadis itu memejamkan mata dan meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah merasa lebih tenang, ia berdiri untuk membayar apa saja yang sudah dibeli pada penjaga warung. Setelahnya, ia berbalik badan menatap Alden. “Kamu sebenernya mau ajak aku pergi ke mana?” Sengaja Alka bertanya seperti itu untuk melupakan momen absurd tadi. Alden menoleh dan tersenyum tipis pada pacarnya. Laki-laki itu berdiri, menghadap Alka. Ia memasukkan tangannya ke saku celana, lalu mengeluarkan dua lembar kertas dari sana. “Tara! Tiket nonton film di bioskop,” ucapnya dengan raut semringah. Alka yang melihat dua tiket tersebut ikut semringah. “Kamu mau, ‘kan, nonton bareng aku?” Tanpa ragu, Alka mengangguk dengan semangat. “Ya udah. Kita pergi sekarang?” “Boleh. Eh, bentar,” cegah Alka sejenak. “Omong-omong, kamu mau ngajak nonton film apa?” Alden menatap Alka dari samping. Laki-laki itu tersenyum dan menunjukkan tiket bioskop pada Alka. Alka menerimanya dan segera membaca tulisan-tulisan yang ada di kertas tersebut. Alangkah tertegunnya gadis itu saat membaca judul film yang rencananya akan ia tonton bersama Alden hari ini. Ia dengan kaku menatap Alden. “Ki-kita ... nonton film ini?” Alden mengangguk yakin. “Gimana? Kamu pernah bilang pengin nonton film itu, ‘kan? Kebetulan, di bioskop ternyata masih nayangin film itu.” Alka kembali menatap tiket bioskop di tangan. Ia jadi merasa tidak enak hati pada Alden. Pasalnya, sebelum Alden mengajaknya untuk menonton film ini, ia sudah menontonnya lebih dulu bersama Delma beberapa hari yang lalu. Ya, film yang rencananya akan ditonton Alka dan Alden adalah film “Frozen 2”. Alden menelengkan kepala, menatap Alka dengan raut heran. Dahinya pun sampai berkerut samar. “Al? Kenapa?” Alka tersentak dari lamunan. Ia mengerjap beberapa kali dan menatap Alden. "Eum ..., sebenernya ....” Gadis itu menggigit bibir bawah, ragu untuk berkata yang sejujurnya pada Alden. Alden menatap Alka dengan lekat. “Kenapa?” “Eum ..., sebenernya, aku ....” Alka menatap Alden. Gadis itu semakin gugup melihat ekspresi pacarnya. Ia cemas membayangkan reaksi yang akan ditunjukkan laki-laki itu. “A-aku ... sebenernya udah pernah nonton film ini, Ald.” Setelah mengungkapkan hal tersebut, Alka memejamkan mata. Kedua tangannya saling bertaut erat, merasa gugup. Alden termangu usai mendengar pengakuan Alka. Ia terdiam beberapa saat. “Aku minta maaf, Ald. Aku---” “Kapan kamu nontonnya?” sela Alden. Ia menatap pacarnya dengan ekspresi datar. Alka menelan ludah susah payah. Gadis itu memberanikan diri mengangkat wajah dan menatap Alden. “B-beberapa hari yang lalu.” "Sama Delma?” duga Alden. Alka termangu dan mengerjap beberapa kali. Bagaimana bisa Alden menebak hal itu? “Iya, Al?” Alka mengangguk pelan, membenarkan dugaan Alden. “Aku minta maaf, ya, Ald.” Alden terdiam beberapa saat. Laki-laki itu berdeham. “Ya udah, kita nonton film yang lain aja. Gampang, kok,” ucapnya dengan nada bicara agak tak ikhlas. Alka menahan lengan Alden sebelum laki-laki itu pergi. “Enggak usah. Kita nonton film ini aja enggak apa-apa, kok, Ald. Daripada keluar uang lagi. Aku enggak keberatan, kok, nonton film ini dua kali. Lima puluh kali pun aku enggak masalah.” Alden menatap Alka. Ekspresi gadis itu menyiratkan keseriusan. Ia mengembuskan napas berat dan mengangguk pelan. Alka tersenyum tipis. Gadis itu tiba-tiba mendekati Alden dan memeluknya erat. Ia memejamkan mata sejenak. Sungguh, ia merasa bersalah karena telah membuat Alden kecewa. “Maafin aku, ya, Ald.” Alden termangu saat Alka memeluknya. Ia tidak menyangka kalau gadis itu akan seberani ini, memeluknya di tempat umum. Tangan Alden bergerak, mendarat di puncak kepala Alka, lalu mengelusnya lembut. “Enggak perlu minta maaf, Alk. Enggak ada yang salah, kok, di sini.” BERSAMBUNG ke BAB 18 Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD