Part 10 - Pengertian dan Perhatian

1223 Words
KURANG lebih satu jam kemudian, kereta yang mengantar Alka dan Delma sampai di stasiun pemberhentian. Delma menoleh ke kiri. Ternyata, Alka masih terlelap di atas bahunya. Melihat keadaan Alka tersebut, membuat Delma agak tidak tega untuk membangunkan sahabatnya itu. Sejak tadi pun, ia tidak mengubah posisi sama sekali, padahal bahunya sudah terasa pegal menahan kepala Alka. Namun, sekali lagi, laki-laki itu tidak tega. Delma mengembuskan napas berat. Kepalanya mendongak ke atas tatkala mendengar pemberitahuan agar para penumpang segera turun, bergantian dengan penumpang lain yang akan naik. Laki-laki dengan rambut hitam legam itu kembali menoleh ke kanan. Terpaksa, ia harus mengganggu waktu tidur sahabatnya itu. “Alka,” panggilnya sambil menepuk-nepuk pelan lutut Alka. Beberapa detik berjalan, tidak ada tanggapan sama sekali dari Alka. “Alka.” Delma sedikit mengeraskan volume suara, berharap Alka bisa mendengarnya di tengah mimpi. Namun sayang, Alka tetap tidak bereaksi. Delma kembali mengembuskan napas berat. Tanpa aba-aba, laki-laki itu langsung berdiri, tak memedulikan Alka yang masih bersandar di bahunya. Sontak saja, hal itu membuat tubuh Alka limbung dan kepalanya membentur keras sandaran tangan pada kursi. Gadis itu terbangun dan langsung merintih sakit. Alka mengelus-elus kepala yang terasa berdenyut. Ia mendongak dan menemukan Delma yang sedang menahan tawa. Gadis itu mendesis kesal dan menghunjam tatap tajam pada sahabatnya. “Kamu kurang ajar banget, sih!” sungutnya. Delma tertawa geli. “Lagian, dari tadi aku panggil, kamunya enggak bangun-bangun. Enak banget molornya.” “Ya, tapi jangan bikin kepalaku sampe kejedot juga kali. Sakit, nih!” “Maaf, maaf.” Delma meringis tanpa suara. Kasihan juga. Sandaran tangan pada kursi maksudnya. “Udah, ayo turun. Udah sampe kita.” Alka menatap sekitar. Beberapa kursi penumpang banyak yang kosong. Ia juga mendengar ada pemberitahuan bahwa kereta telah sampai di stasiun tujuannya dan juga Delma. Gadis itu pun berdiri sambil mengelus-elus kepala yang masih terasa sakit. “Sakit, ya?” Delma bertanya begitu mereka berada di luar kereta. Mereka berjalan ke luar dari stasiun, bersiap menunggu angkutan umum untuk pulang ke rumah. Alka memberengut sebal. “Ya, menurut kamu aja gimana,” jawabnya dingin. “Maaf, aku ... sengaja.” Alka langsung melirik sinis Delma yang kini sedang terkikik geli. “Nyebelin, deh!” sungutnya sambil mengelus-elus kepala. “Kalo sampe kepalaku benjut, kamu harus tanggung jawab. Ngerti?” “Iya, aku bakal tanggung jawab kalo sampe kepalamu benjut.” “Baguslah kalo gitu. Entar kalo kecantikanku luntur gara-gara kepala benjut ‘kan berabe.” Delma hanya tertawa kecil. “Entar, Alden enggak mau sama aku lagi.” Raut muka Delma seketika berubah. Tawa darinya lenyap seketika usai Alka menyebut nama sang pacar. Ada sesuatu yang mengusik hati Delma saat Alka membahas Alden di depannya. “Eh, itu angkotnya.” Ucapan Alka memecah lamunan Delma. Laki-laki itu segera tersadar dan menoleh ke kanan. Benar, ada sebuah angkutan umum berwarna hijau dengan kode angka 1---angkutan umum yang lewat di sekitar tempat tinggal Alka dan Delma. Begitu angkutan berhenti, Alka dan Delma segera masuk ke dalamnya. Angkutan sudah penuh sesak. Namun beruntung, masih bisa muat untuk dua orang. Ya ..., walaupun Alka dan Delma harus berdempet-dempetan dengan penumpang lain. Udara pun menjadi agak pengap. Padahal, kaca-kaca angkutan sudah dibuka. Beberapa kali, Alka bergerak tak nyaman karena sesak. Delma yang merasakan hal tersebut agak terusik. Laki-laki itu berdecak pelan. “Kenapa, sih, Al?” Alka memalingkan wajah ke kanan, menghadap tepat ke bahu kiri Delma. Tidak ada jawaban yang gadis itu berikan pada Delma. Delma menatap Alka heran. “Al?” Alka melirik ke atas dan bertemu tatap dengan Delma. “Kamu kenapa?” tanya Delma lagi. Alka mengulum bibir. Kaki gadis itu ikut bergerak tak tenang, gemetar. Petok! Mendengar suara tersebut, Alka refleks memekik dan merapatkan tubuh pada Delma. Gadis itu memejamkan mata rapat-rapat sambil terus memalingkan wajah ke kanan. Ia bahkan tidak sadar telah mencengkeram lengan Delma dengan begitu kuat. Delma tentu terkejut akan tindakan Alka itu. Ia menurunkan tatapan pada lengannya yang dicengkeram oleh Alka. Lantas, mengalihkan tatapan ke arah keranjang yang ada di dekat kaki Alka. Ia baru sadar jika ada ayam di dalam angkutan. Ayam tersebut milik seorang ibu-ibu yang duduk tepat di sebelah kiri Alka. Ah, pantas saja tadi Alka bergerak-gerak tak nyaman saat duduk. Ternyata, gadis itu sedang menahan ketakutannya pada ayam. “Mbak-nya takut ayam, ya?” Ibu yang duduk di sebelah kiri Alka---pemilik ayam---bertanya. Alka tidak menjawab. Gadis itu masih ketakutan. Tubuhnya sampai gemetar. Delma pun angkat suara karena Alka tidak menjawab apa-apa. “Iya, Bu. Sahabat saya emang takut ayam.” “Oh, gitu. Maaf, ya, saya enggak tau. Tapi, ayamnya aman, kok. Kan, Ada di kurungan. Enggak akan matuk.” Delma mengangguk paham. Ia kembali menatap Alka yang masih ketakutan. “Tuh, Al. Ayamnya ada di dalem kurungan, kok. Enggak usah takut.” “Ih, tapi tetep aja aku takut, Ma. Mana ... bersuara lagi tuh ayam.” Petok! Alka kembali memekik kaget. Tangannya lagi-lagi mencengkeram lengan Delma, tanpa sadar. Hal itu membuat Delma terkejut dan memekik tertahan. Cengkeraman Alka sangat kencang, lebih kencang dari yang sebelumnya. “Al ...,” tegur Delma, “sakit tanganku ini.” Alka membuka kedua mata. Buru-buru ia melepaskan cengkeraman tangannya dari lengan Delma. “M-maaf ...,” ucapnya gugup. Delma hanya diam. Laki-laki itu memijat-mijat lengannya yang menjadi korban cengkeraman Alka. Beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba bangun dari posisi duduknya. Hal itu membuat Alka membulatkan mata. “Ma, kamu mau ke mana? Jangan tinggalin aku, dong. Nanti ayamnya---” “Aku enggak ke mana-mana, Al,” potong Delma dengan posisi membungkuk. Tatapannya terpusat pada Alka. Alka menatap Delma dengan wajah kusut. “Terus?” “Aku mau pindah tempat duduk. Kita tukeran posisi. Kamu geser, pindah ke tempat aku. Biar aku yang duduk di sebelah ibu-ibu yang punya ayam itu.” Penuturan Delma tersebut membuat Alka termangu. Tatapannya bertemu dengan milik Delma. Keduanya terdiam satu sama lain. Sejenak, mereka lupa dengan keadaan sekitar. Mereka tidak sadar sedang menjadi pusat perhatian oleh penumpang angkutan umum yang lain. “Cieee ...,” sahut ibu pemilik ayam. Alka dan Delma segera tersadar dan mengalihkan tatapan masin-masing. “Ya udah, buruan geser, Al,” kata Delma. Alka mengangguk dan bergeser ke kanan, membiarkan Delma mengambil alih posisi duduknya. Gadis itu kini merasa lebih tenang karena tidak lagi berdekatan dengan ayam. Namun, suara kokokan ayamnya masih terdengar beberapa kali, membuat Alka kadang terlonjak kaget. Delma membuka tas dan mencari sesuatu di dalam sana. Ia mengeluarkan ponsel dan juga earphone. Ia berikan benda tersebut pada Alka. Alka menatapnya dengan dahi berkerut. “Earphone? Buat apa?” Delma tersenyum tipis. “Pake aja.” Alka mengernyit heran. Namun, ia tetap menerima earphone pemberian Delma dan segera mengenakannya. Kedua telinganya kini sempurna tertutup. Beberapa detik kemudian, terdengar musik yang mengalun dari earphone tersebut. Volumenya cukup keras, setidaknya mampu menyamarkan suara di sekitar Alka. Gadis itu spontan menatap Delma dari samping. Alka paham sekarang. Delma menyuruhnya mengenakan earphone agar ia tidak mendengar suara kokokan ayam yang membuatnya takut. Gadis itu merasa tersentuh. Betapa beruntungnya ia memiliki sahabat yang begitu pengertian dan perhatian seperti Delma. Bibir Alka melengkung ke atas, membentuk senyuman tanpa sadar. Makasih, ya, Delma. BERSAMBUNG ke PART 11 Hayo, ada yang mleyot lagi karena Delma, enggak?:D Jangan lupa ♡ dan komen untuk IHYILY, ya:) Ikuti juga media sosialku di, Instagram : pe.naka TikTok : penaka_ See you and thank you! Salam Candu♡
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD