Chapter 3

1166 Words
*** Vivian menghela napas lega. Operasi jantung yang dilakukan Raja berjalan dengan sempurna. Remaja itu sudah sadar dari pengaruh obat bius yang menidurkannya beberapa jam lalu. “Makasih, dokter.” Bibir Raja menggumam lirih, dalam hati mengucap syukur karena Tuhan masih mau menyelamatkannya. Matanya berbinar haru menatap Vivian. “Jangan terima kasih sama saya, kesembuhan ini juga berkat semangat kamu.” “Hm,” Raja menanggapi, tangannya bergerak pelan menyentuh dadanya yang tertutup perban tebal. “Jantungnya ... Kenceng banget mompanya, dok. Agak sakit.” “Karena itu kamu harus istirahat.” Setelah dirasa dirinya selesai memeriksa Raja, Vivian memutuskan keluar dari ruangan itu. “Operasinya lancar,Vi?” Vivian yang masih memegang daun pintu menoleh. Didepannya, berdiri seorang pria dengan snelli seperti dirinya. Senyumnya tampak santai. “Lancar,dok.” Vivian menjawab dengan senyum formal. “Bagus kalau gitu.” Pria itu mangut-mangut. Kemudian menatap Vivian lagi. “Keano udah pergi?” tanyanya.  “Sudah, sejak operasi selesai dan memastikan Raja baik-baik saja. Dia langsung pergi.” “Emang keras kepala, tuh bocah.” Vivian mengulum senyum mendengar umpatan cowok didepannya. Namanya Mahesa, dia dokter ahli bedah sekaligus kerabat dokter Keano. Dokter Mahesa juga orang yang selalu menggantikan posisi dokter Keano, karena dokter Keano tidak bisa selalu stay di rumah sakit untuk memeriksa pasien karena urusan perusahaannya. Vivian sedikit banyak menyukai pembawaan dokter Mahesa yang bersikap santai saat berbicara kepada bawahannya. Tidak kaku dan terkesan sangat formal sampai terasa membosankan. Eh? Dia sedang tidak menyindir atasannya yang sekarang loh, ya. “Kamu mau makan malam? Apa shift mu sudah selesai?” Mahesa bertanya lagi. “Sudah, dok. Shift saya selesai.” Mendengar jawaban Vivian mata Mahesa mengerjap antusias. “Wah, kebetulan kalau gitu. Kita makan di bawah aja gimana?” Maksud ‘bawah’ dari ucapan Mahesa adalah kantin rumah sakit. Kening Vivian mengerut. Ada angin apa tiba-tiba dokter Mahesa mengajaknya makan begini? Dirinya memang sering satu shift dengan dokter Mahesa saat dokter Keano tidak bisa hadir di ruang operasi, tapi tidak sekalipun dokter Mahesa mengajaknya makan bersama seperti sekarang. “Nggak usah curiga gitu, Vi. Saya cuma ngajak makan bareng bukan nge-date.” Mahesa terkekeh di akhir kalimatnya. Membuat pipi Vivian memanas karena sudah ke ge-er an. Kemudian mau tidak mau dia akhirnya menerima ajakan dokter Mahesa. *** Mereka duduk diantara hingar bingar pengunjung. Kantin ini begitu ramai saat malam tiba. Mungkin banyak sanak keluarga pasien yang menginap dan memutuskan mengisi perut mereka disini dari pada makan diluar. “Jadi, Keano pergi buat jemput Rasya?” tanya Mahesa dengan alis menukik tinggi. Mahesa kira tadi sahabatnya pergi terburu-buru karena Saka menyuruh Keano menjaga Abid. “Gila tuh, bocah. Masih aja ngejar-ngejar Rasya. Udah janda juga.” Kepala Mahesa geleng-geleng tak habis pikir. “Dokter Keano kan juga duda, dok.” Vivian mengoreksi. Setahunya, atasannya itu pernah menyimpan rasa kepada dokter Rasya sebelum menikah dengan istrinya. Namun gosip yang beredar menyayangkan kisah cinta dokter Keano yang bertepuk sebelah tangan, sebab saat itu dokter Rasya sudah menikah. Dan sekarang, saat keduanya lajang, belum terdengar kabar hubungan keduanya. “Gini, Vi. Menurut kamu, mungkin nggak seandainya Keano milih balik lagi ke Rasya?” Mahesa membungkukkan tubuhnya. Menumpu kedua siku diatas meja. Matanya menatap Vivian penasaran, seolah ini adalah pertanyaan yang serius. Vivian berpikir sebentar, “Nggak tau, dok. Kan dokter sendiri yang tau gimana sikap dokter Keano ke almarhumah istrinya. Kalau emang beneran cinta, kayaknya nggak bakal balik lagi deh.” Gaya bicara Vivian sudah lebih santai dibanding sebelumnya. “Malem, Mahesa. Malem, Vivi.” Sebuah suara membuat keduanya menoleh bersamaan. Mendapati Rasya dan juga Keano yang berjalan kearah mereka. Mereka serasi. Vivian membatin saat melihat keduanya berjalan bersisian. “Apa kabar lo, Hes?” Rasya langsung duduk disamping Mahesa, memusatkan atensinya kepada dokter muda yang malah memutar mata karena panggilan Rasya. “Jangan panggil ‘Hes’. Gue nggak suka.” Dan itu sukses membuat Rasya tertawa. Ketawanya aja enak didenger. Pantes dulu dokter Keano yang kaku ini ngebet meski udah jadi istri orang. Vivian melirik dokter Keano, yang -karena-tidak-ada-pilihan, duduk disampingnya. “Kamu makan disini juga?” Pertanyaan dokter Keano mengalihkan perhatian Vivian dari Mahesa dan Rasya yang sedang asyik mengejek. “Iya, shift saya baru saja selesai.” “Si Raja udah kamu periksa?” Dokter Keano kembali melontarkan pertanyaan. “Sudah. Jantungnya merespon dengan cepat.” “Bagus.” Lalu hening lagi. Dokter Keano tidak lagi bicara kepadanya. Vivian juga sudah mulai menyimak interaksi antara dokter Rasya dan dokter Mahesa, yang terlihat sangat akrab. Tidak sesuai dengan ucapan dokter Mahesa tadi yang mengatakan kalau dokter Rasya adalah janda. Vivian dapat artian lain dari kata-kata dokter Mahesa, bahwa dokter Keano tidak pantas dengan dokter Rasya karena perempuan itu seorang janda. Ya, kira-kira seperti itu yang dapat Vivian terjemahkan. Bicara tentang interaksi dokter Rasya dan dokter Mahesa, Vivian menoleh ke samping. Memperhatikan ekspresi dokter Keano terhadap keakraban keduanya. Namun atasannya itu hanya tersenyum melihat kedua dokter di depannya masih berdebat soal ‘nama panggilan’ yang tidak disukai dokter Mahesa. Tidak ada tanda-tanda bahwa pria itu cemburu. Mungkin memang benar kata orang-orang, bahwa dokter Keano sangat mencintai almarhumah istrinya, sehingga tidak memungkinkan dirinya untuk kembali pada dokter Rasya. “Oh, iya! Sekalian aja karena Vivi disini, kamu masih bisa gantiin saya beberapa minggu lagi kan? Saya harus ke Singapura besok buat nganterin Sasi berobat.” Vivian mengerjap. Mencoba mencerna kalimat dokter Rasya agar tertampung dikepalanya. Dia kira pekerjaannya akan berakhir begitu dokter Rasya kembali. Bukan dia tidak ingin menjadi bawahan dokter Keano, tapi jujur saja, dirinya mengaku lelah karena hanya dapat pulang dan istirahat selama 7 jam sehari. Dia ingin kembali menjadi dokter biasa, disaat dirinya belum menjadi asisten dokter Keano, jam kerjanya tidak terlalu padat, dia biasa berangkat pagi dan pulang sore seperti pekerja kebanyakan. Jadi, saat dirinya ditunjuk dokter Rasya untuk menggantikannya, Vivian merasa kerepotan karena harus merekap ulang jadwalnya sehari-hari. Dia tidak bisa nonton Marvel bersama Rima lagi setiap malam, tidak bisa bermain dengan Dovy-anjing-peliharaan-Vivian setiap pagi seperti kebiasaannya, karena dia harus pulang setiap jam sembilan malam, dan berangkat ke Rumah sakit lagi pukul empat pagi. Tapi dia enggan menolak, karena Sasi, anak perempuan dokter Rasya yang berumur empat tahun harus dibawa ke Singapura karena putrinya itu mengidap tumor jinak yang harus segera diangkat, agar tidak semakin parah. “Eh, menurut saya, kenapa dokter Keano harus punya asisten? Dokter bedah mana saja bisa membatu seandainya dokter nggak bisa menangani pasien sendiri. Maksud saya, dokter lulusan Hardvard ...” Vivian mendadak bungkam, tidak melanjutkan pertanyaannya ketika wajah-wajah di depannya terlihat tegang. Terlebih dokter Keano, atasannya itu menatap Vivian dengan rahang terkatup rapat, seperti sedang menyembunyikan emosi. Disitu Vivian sadar, bahwa perkataannya barusan adalah sesuatu yang salah. “Vi, kamu kan tau sendiri, bos kita satu yang satu ini kan orangnya sangat perfeksionis. Jadi, apa yang dia mau harus berjalan dengan sempurna.” Rasya menjawab untuk menghilangkan kecanggungan yang baru saja terjadi. Vivian sudah tidak berani membuka mulutnya lagi, hanya menyantap makan malam yang terasa hambar di tengah keramaian yang justru terasa sunyi. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD