Dengan sobekan bagian dalam bajuku, kuambil potongan paling besar. Anak-anak itu akan mati kalau berani menyentuhku. Nggak ada yang boleh menyentuhku. Nggak ada. Setelah mengatur napas di depan pintu, aku menguping lagi. Suara anak-anak cowok itu nggak terdengar. Mungkin mereka bersembunyi. Kuangkat tangan dengan posisi siap tusuk seperti yang diajarkan Drey. Kata Drey, Mom hebat dalam menusukkan pisau. Sekarang giliranku mencobanya. Pintu kubuka. Anak-anak itu menatapku kaget. Anak paling besar membawa botor spray. Mereka kelihatannya masih sangat muda. Mungkin cuma seumuran aku. Tinggi mereka juga sama denganku. Kenapa mereka sudah punya pikiran buruk begitu? “Kalian buat masalah ke cewek yang salah,” kataku berusaha tegas biar mereka nggak mendengar getar di suaraku. Mereka diam, s

