Promises

2417 Words
Yang pertama kali ingin kulakukan begitu sampai rumah adalah berlari ke rumah Caleb dan meminta maaf padanya. Tentu saja setelah memeluk Mom dan mengatakan betapa aku merindukannya. Tapi, begitu aku melangkah menjauhi kerumunan saling memeluk itu, Dad menahan pinggangku dan menggendongku di bahu seperti penculik dalam film ke kamar. Dia menurunkanku di tempat tidur sambil berkata, “Tidak ada yang keluar dari rumah ini lagi setelah lewat jam tujuh malam.” Aku ingin protes, tapi nggak berani. Wajah Dad seperti berkata, “Cari masalah denganku dan aku akan meledak.” Jadi, aku kembali ke tempat tidur untuk marah-marah, hal normal yang dilakukan remaja kalau keinginannya nggak terpenuhi. Aku baru berhenti melempar barang saat Mom datang Sebenarnya, kami keluar dari penginapan itu sekitar jam sebelas pagi. Kami bisa sampai rumah jam dua siang sebenarnya, tapi Dad mampir ke apotek untuk membeli beberapa suplemen. Dia nggak membawa obat dan suplemen yang seharusnya diminum hari ini. Lalu, Archie merengek minta ke pantai sebentar. Dia tahu aku buru-buru pulang karena ingin bertemu Caleb. Dia sengaja merengek agar kami nggak pulang cepat. Begitu Dad mengabulkan keinginannya, bibirnya tersenyum penuh kemenangan. Kalau bukan karena Dad merangkuk bahuku, sudah kutenggelamkan anak itu. “Aku senang sekali melihat kalian tertawa bahagia seperti itu?” kata Dad sambil bersandar di kursi malas sewaan, berjemur dengan memakai mantel panjang lengkap seperti orang nggak waras. “Kalian?” semburku. “Dad lihat nggak mukaku? Apa aku tertawa? Apa aku bahagia?” Dia menurunkan kacamata hitamnya dan melihatku, lalu memperbaiki letak kacamatanya dan berbaring lagi di kursi malas. “Kamu bahagia.” Aku menjerit keras sekali sampai penjaga pantai datang mengira ada yang nggak beres. Daddy tahu, sama seperti Archie dan Dean kalau aku sangat ingin bertemu Caleb. Bahkan menelepon Caleb saja aku nggak boleh. Waktu aku meminjam HP Dad untuk meneleponnya, Dad dengan sengaja merendam HP-nya ke mangkok cream soup yang sedang dimakannya. “Maaf, Claire. Tanganku licin,” katanya dengan wajah penuh senyum kemenangan. Kuambil HP di mangkok itu dengan kesal. Aku tahu HP Dad nggak akan mati karena direndam sup saja. Kubersihkan HP itu dengan serbet. Lalu, Archie dengan jahatnya menarik HP itu dari tanganku dengan jaring Spiderman buatannya. Jaring itu bisa menarik benda sampai seberat tiga kilogram. Dia menarik HP Dad, tapi meleset hingga HP itu terpental menabrak jendela restoran sampai pecah dan terlindas mobil yang amat sangat kebetulan lewat. “Jangan khawatir. Besok aku akan membeli ponsel yang tidak bisa dilindas tank,” kata Daddy Drey santai sambil mengangkat tangan memanggil pelayan untuk mengganti kaca yang pecah dan minta cream soup baru. Mereka memang sial! Ah! Aku ingin memasukkan mereka ke dalam kotak besar, lalu kurendam mereka dengan air sabun sampai mengembang. Paginya, aku membalas perbuatan mereka dengan mendorong Archie saat dia memberi makan kucing-kucing kami. Dia jatuh ke mangkuk makanan dan pakan kucingnya berantakan. Yang membuatnya kesal pasti tawa refleks Mom. Anak itu benci ditertawakan. Rasakan! “Kita harus bicara setelah ini, Claire,” kata Daddy Drey saat aku sampai meja makan. Tapi aku sudah mengambil sepotong french toast dan membawa segelas s**u sapi hangat. Kucium pipi Dad sebelum pergi ke rumah Caleb sambil memakan roti itu di jalan. Bisa kubayangkan setelah pulang sekolah nanti Mom bakal ceramah dua jam. Yang penting, aku ketemu Caleb dulu. Sambil menghabiskan s**u dengan tangan kanan, aku menggedor pintu belakang rumah Caleb dengan tangan kiri. Mereka biasanya sarapan di belakang. Jadi, bisa lebih cepat dibukakan kalau lewat belakang. Tapi, nggak ada yang membukakan pintu untukku. “UNCLE FRED! AKU DI SINI? CAL! KAMU TIDAK BISA NGAMBEK TERUS!” Nggak ada yang membukakan pintu untukku. Aku berlari ke bagian depan. Mobil mereka nggak ada. Apa mereka sudah pergi? Kakiku ditabrak sesuatu. Mobil-mobilan. Di halaman rumah kami, Daddy Drey memegang remot kontrol mobil-mobilan. Tampangnya membuatku sangat ingin meremukkan gelas yang kupegang. Dia mengejek sekali! “Apa yang kamu cari di sana?” tanyanya dengan pengeras suara yang ada pada mobil-mobilan itu. “Mereka tidak di rumah sejak semalam. Mereka bersama Neptune Rockwood. Fred punya urusan dengannya, sekaligus mencari sponsor untuk proyek terbarunya. Cal ambil bagian dalam proyek itu.” Aku benar-benar ingin melempar gelas di tanganku padanya. Aku berjalan marah kembali ke rumah, sangat ingin merusakkan salah satu mobilnya. Semalam Dad tahu kalau Caleb bakal pergi, makanya dia menahanku agar nggak keluar kamar. Dia nggak mau aku membuat salam perpisahan dengam Caleb. “Hei, Claire! Claire! Kenapa marah padaku? Bukan aku yang mengajak pacarmu pergi.” Aku diam saja. Aku berlari mencari Mom dan menangis di pelukannya. Mendengar ceritaku, Mom melotot pada Dad dan ikut menangis untukku. Beginilah keluargaku. Ayah dan adik yang sangat usil dengan ibu yang mudah menangis. Kalau orang lain yang menjadi aku di keluarga ini, mungkin nggak bakal tahan. Percaya, deh. Lagipula, aku nggak akan membiarkan orang lain menggantikan posisiku di keluarga ini. Enak saja! Mereka keluargaku yang sangat kusayangi. Kami terlambat ke sekolah karena kami berhenti di tengah jalan untuk memberi makan kucing yang kelihatannya kelaparan. Nggak jauh dari kucing itu, ada anjing yang tertabrak. Kelihatannya kaki belakang anjing itu patah. Daddy Drey memintaku menyelimuti anjing itu dengan handuk olahraga yang dibawanya karena dia akan terapi fisik seperti biasanya. Uhm, nggak, sih. Biasanya terapisnya yang ke rumah. Kali ini Dad dan Mom yang ke rumah sakit. Mom ingin keluar rumah katanya. Kami membawa anjing itu ke klinik hewan terdekat yang jaraknya agak jauh dari sekolah. Anjing itu selamat dan kucingnya kami laporkan agar dijemput oleh klub penyayang binatang di sekitar sini. Daddy suka menolong binatang, tapi nggak sudi kalau harus memungut binatang liar. Kucing-kucingku saja nggak boleh keluyuran di rumah. Mereka tinggal di kamar sendiri yang sudah dilengkapi arena bermain. Kalau ada yang nggak pernah kena masalah dan selalu bergembira di rumah kami ya kucing-kucing itu. Mereka cuma kenal makan, minum, dan bermain tanpa lelah, nggak seperti kami yang sepertinya memang magnet masalah. Dalam perjalanan ke sekolah, Dad mendapat telepon dari Heath yang sepertinya tentang masalah serius. Nggak ada dari kami yang mendengar karena Dad menerimanya dengan earpod. Setelah telepon ditutup juga sepertinya Dad nggak mau mendiskusikan masalah ini dengan siapa pun. Dia diam saja, saat melambaikan tangan pada kami juga dia diam saja. Cuma senyumnya saja yang nggak selebar biasanya, tanda dia menyimpan masalah. “Kira-kira apa?” tanya Archie. Aku mengangkat bahu. “Semoga bukan hal yang serius.” “Heath nggak pernah nggak serius.” “Mungkin tentang Glacie.” “Kehamilan tante Glacie? Ada apa dengan calon adik iparku?” Aku menggeleng, sama nggak tahunya dengannya. Apa pun yang terjadi padanya, kuharap bukan hal yang buruk. Setelah melaporkan keterlambatan kami di ruang murid, kami berjalan ke ruang kelas kami masing-masing. Di persimpangan koridor, Archie memanggilku. “Jangan lari lagi. Sekalipun kamu bakal dipenjara atau dimakan godzilla, jangan lari lagi. Sekalipun Caleb nggak ada di sekolah ini lagi, jangan pernah berpikir kamu sendirian.” “Aku tahu. Kamu pasti akan melindungiku kalau ada godzilla yang datang.” Dia tersenyum. “Aku akan menjadikanmu tumbal agar godzilla itu kenyang dan nggak ganggu aku.” Aku memutar mata, lalu berbalik. “Claire? Kamu sudah taubat, ya. Kok kamu nggak balas aku?” tanyanya waktu kutinggalkan. Taubat? Dia kira aku siapa? Kutarik napas dalam-dalam, lalu berteriak, “ARCHIE JATUH CINTA PADA SERAPHINE.” Guru kelas dua memang keluar dari kelas dan memarahiku, tapi itu nggak seberapa. Tatapan terkejut Archie atas serangan itu membuatnya membeku di koridor. Sebentar lagi dia akan diejek Dean dan seisi kelasnya. Saat Seraphine pulang nanti, dia pasti bakal berterima kasih padaku. Itulah gunanya saudara. Begitu aku naik tangga, bel pergantian pelajaran pertama berbunyi. Kesempatanku untuk langsung masuk ke pelajaran kedua. Tapi, aku berhenti di ruang loker. Jade berdiri di depan lokernya yang terbuka. Dia menangis. Aku nggak berani menyapanya. Aku khawatir ini cuma permainan yang dilakukannya untuk menjebak seseorang. Paling buruk kalau yang dijebak itu aku. Kuakui, aku memang sial. Jade berbalik, tepat melihatku. Wajahnya berantakan. Make up yang biasanya terlihat indah di wajahnya sekarang sudah berantakan. Dia menunjuk wajahku. “Apa yang kamu lakukan?” Tentu saja aku bingung apa maksudnya. “Ti-tidak ada. Aku hanya akan lewat.” “Kamu membuat keluargaku melarat. Kamu yang melakukan semua ini.” Kenapa jadi aku yang dituduh. Memangnya kenapa dia? “Aku? Sumpah, aku tidak melakukan apa-apa. Aku baru dari Santa Monica kemarin. Aku tidak melakukan apa-apa.” Dia terisak sebentar. “Mereka mengambil semuanya. Mereka meninggalkanky. Wayne meninggalkanku.” “Wayne? Dia memang berengsek, kan?” “Keluarga Wayne bangkrut. Dia sudah tidak bersekolah lagi dan pergi ke Alabama. Apa yang kamu lakukan pada kami?” Aku nggak mengerti yang dikatakan Jade. Aku buru-buru berlari ke kelas, menghindari perkelahian yang nggak kumengerti. Begitu sampai di kelas, baru aku tahu ternyata keluarga Jade dan Wayne bangkrut. Ada yang melaporkan penyelewengan pajak keluarga Monaghan dan keluarga Brooke mengalami krisis karena nggak bisa membayar bunga dari utang mereka. Ayah Wayne dituduh menggelapkan uang. Ini seperti yang dikatakan Alice di depan Jade. Apa Alice juga punya andil dalam masalah ini atau dia hanya mencuri dengar obrolan bapak-bapak? Seperti pertemanan palsu yang ada di film-film, teman-teman Jade pergi begitu tahu Jade nggak punya apa-apa lagi. Kasihan cewek itu. Dia nggak akan bisa kuliah, apalagi jadi artis Hollywood. Perlu banyak modal untuk jadi artis. Bukan hanya kemampuan dan pakaian bagus saja, kalau mau cepat terkenal, orang harus punya koneksi kuat, followers media sosial banyak, dan pintar menyenangkan orang lain. Semua itu butuh uang yang sekarang nggak dimiliki Jade. Saat kami pulang sekolah, Jade juga dijemput mobil biasa warna putih kusam. Kelihatannya dia malu sekali. Sebelum naik mobil, dia berbalik padaku yang akan berjalan ke mobil Daddy Drey. “Kamu senang?” tanyanya tajam. Tatapannya benar-benar penuh kebencian padaku. “Tidak,” jawabku jujur. “Tapi, aku berharap kamu mengambil pelajaran dari yang kamu alami. Paling tidak, agar kamu ingat untuk tidak menganggap rendah orang lain.” “Dan kamu merasa dirimu benar sudah menyakitiku?” “Jade, kalau kamu selalu merasa benar dalam semua masalah, kamu tidak akan belajar apa pun,” kataku menirukan Daddy Drey. Aku senang bisa mengucapkannya. Rasanya, kalimat itu bukan hanya untuknya, tapi juga untukku. Aku berjanji akan mengingat kalimat itu sampai kapan pun. * Caleb nggak juga pulang sampai tiga hari setelah itu. Aku baru tahu begini rasanya merindukan orang yang bukan siapa-siapaku. Buruknya, Dad belum membelikanku HP baru untuk menghubungi Caleb. “Daddy saja tidak beli ponsel baru, kenapa kamu ribut meminta ponsel baru?” komentar Dad dengan santainya saat aku merengek minta HP. “Tenang saja, Claire. Selama ini kan kamu bisa hidup tanpa ponsel.” Kalau jadi aku, apa yang akan kalian lakukan? Setiap melihat jendela kamarnya, aku mendongak, berharap dia muncul untuk mengagetkanku. Lalu, aku merasa kecewa karena nggak ada siapa-siapa di situ. Kadang, kulemparkan berry atau anggur yang sedang kumakan. Buah-buahan itu menempel di kaca jendelanya, membuat noda yang sepertinya butuh pembersih ekstra untuk membersihkannya. Hari keempat barulah Caleb pulang. Aku baru pulang sekolah waktu itu. Daddy Drey dan Mom ada di belakang untuk berlatih menggunakan senapan berburu. Archie berlari-lari ke kamarku mengabarkan kepulangan Caleb. Tanpa menyelesaikan membuka seragam, aku berlari ke halaman. Aku nggak peduli Caleb masih membawa dua tas besar. Aku melompat ke pelukannya. Untuk pertama kalinya, aku menciumnya, sebuah ciuman yang membuatku seperti nggak menginjak tanah. Saat aku membuka mata, memang kakiku benar-benar nggak menginjak tanah. Caleb mengangkatku. “Aku merindukanmu,” kataku setelah melepas ciuman kami. “Sudah kubilang rindu itu tidak enak. Rasanya pahit dengan terlalu banyak getir dari air mata.” Dia tersenyum. “Aku juga,” katanya. Setelah menurunkanku, dia mengeluarkan benda mirip cokelat bar berwarna silver. “Titanium alami yang belum dipoles apa pun. Akan kujadikan cincin untuk melamarmu. Aku akan membuat berlian untukmu.” Aku merasa wajahku panas dan ada gelitik di dalam perutku. Semua kesal yang kupendam selama beberapa hari belakangan ini seperti hilang, menguap saat melihat semua ini. Dia akan membuatkan berlian untuk melamarku. Dia belum berhasil dengan hasil yang memuaskan sih selama ini, tapi aku yakin dia akan berhasil. Dia akan membuatkan satu yang paling indah untukku. “Anak lima belas tahun tidak menikah.” “Aku mau menunggu. Selama apa pun aku mau menunggu untukmu, Claire Johansson yang keras kepala.” Dia menciumku lagi. Dibandingkan ciumanku, ciumannya terasa begitu intens. Mommy benar. Rasanya seperti ada kupu-kupu kurang ajar yang masuk ke perutku dan terbang ke sekeliling tubuhku. Rasanya aku merinding dan antusias sekaligus. Aku menariknya mendekat, berharap mendapat lebih banyak ciuman untuk mewujudkan rindu ini. Suara senapan meletus. Kami terlonjak kaget sampai gigi kami bertabrakan. Daddy Drey berdiri di halaman, menembakkan senapan berburunya ke atas.  Wajahnya garang mirip John Wick yang baru kehilangan anjingnya. “Jangan harap kamu bisa hidup setelah ini, Nak.” “Oh, s**t! Oh, s**t!” Caleb mengangkat tangan panik. Aku lebih panik lagi. “DADDY! APA YANG KAMU LAKUKAN?!” “MENYELAMATKANMU.” “DADDY YANG MENAKUTIKU.” “TERSERAH!” Dia mengarahkan senapan pada Caleb. Anak itu berlari pontang-panting ke dalam rumah. Aku berlari ke arah Daddy Drey. “APA DADDY NGGAK TAHU KALAU ITU KETERLALUAN?!” “APA?! AKU TIDAK MENDENGARMU, CLAIRE. AKU DALAM PERJALANAN MEMBUNUH PACARMU.” “DAD! DADDY! ASTAGA! DAD!” Aku berlari mengejarnya. Di antara tawa Archie, Seraphine, dan Uncle Fred serta jerit ngeri Mommy, aku menjerit-jerit pada Daddy Drey yang mengisi peluru senapan berburunya lagi. Kekacauan biasa yang terjadi di rumahku. Sepertinya, kekacauan ini akan terjadi berkali-kali lagi sampai aku dan Caleb benar-benar menikah nanti. Tidak apa-apa, kok. Aku tahu itu caranya mencintaiku. Semua ayah akan selalu begitu, mengkhawatirkan anak gadisnya. Semua ayah akan selalu cemburu pada siapa pun yang mendekati anak gadisnya karena dia nggak mau anak gadisnya diperlakukan buruk sama orang lain. Ah, Daddy lupa. Cinta itu memang buta. Cinta datang pada siapa saja tanpa melihat latar belakang orang itu. Tapi, cinta nggak membutakan. Nggak seperti nafsu, cinta membukakan mata dan memberikan rasa malu. Kalau Caleb mencintaiku, dia pasti akan menjagaku seperti semua lelaki di keluarga kami menjaga orang yang dicintainya. Iya, Archie juga. “Claire,” panggil Archie saat aku mencoba kostum drama sekolah yang akan kupakai di depan Mom dan Dad. “Ya? Kamu terkesan denganku?” Kukibarkan rok panjangku yang berwarna merah marun di depannya. “Apa kamu sudah bilang pada Caleb untuk memakai rompi antipeluru di pementasan drama nanti? Aku khawatir aja Romeonya mati sungguhan waktu adegan ciuman.” Aku menelan ludah. Daddy Drey bereaksi seperti baru ingat sesuatu yang terlupa. Lalu, dia tersenyum manis hingga lesung pipinya terlihat pada pipinya yang baru dicukur. “Aku hanya akan membawa silverbullet-ku,” katanya tenang. Mati aku!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD