Empat Tujuh

1432 Words

Aku terjaga dari tidur dengan menghirup aroma rambut Runa yang tercium samar-samar menyentuh hidungku. Kupikir semua ini hanya mimpi, hingga aku sempat takut terjaga dari tidur. Namun saat tubuhnya yang hangat memeluk tubuhku, aku sadar tak ada yang perlu aku takutkan lagi, dia tidak akan menghilang seperti mimpiku sebelumnya. Kubuka mataku perlahan, Runa terbaring di sisiku dengan wajah teduh yang sepertinya hanyut dalam mimpi yang kuharap adalah mimpi yang indah. Aku merangkul tubuhnya lalu membubuhkan ciuman di keningnya sambil menikmati panas tubuh kami yang bertukar. Saat aku masih hendak menikmati waktu istirahat kami setelah bercinta, telpon di sakuku yang tergeletak di lantai berdering. Aku menengok sejenak ke belakang punggungku lalu bangkit perlahan dari tempat tidur agar t

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD