Empat Dua

909 Words

Aku terbangun melihat langit-langit pucat di atas kepalaku dan tirai putih yang beterbangan di sisiku. Aku mulai bertanya-tanya pada diriku sendiri. Apakah aku sudah mati? Kuedarkan pandang ke penjuru ruangan, sinar matahari dari jendela segera membuat mataku sakit. Aku tercekat, sedih dan marah. Aku belum mati? Aku masih hidup? Kenapa aku belum mati? Aku bangkit dari baring, tanganku terlilit perban sementara infus darah menetes melewati punggung tanganku. Aku hidup? Sial! Siapa yang sudah menolongku? Aku tidak berharap hidup lagi. Aku  meraih jarum infus di tanganku dan mencabutnya  separuh jalan. Belum sepenuhnya benda sialan itu keluar dari tubuhku, aku mendapati sebuah gangguan kecil. Pintu di hadapanku terbuka, aku tidak tahu siapa yang masuk. Aku enggan melirik hanya terfokus unt

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD