Dua Sembilan

1012 Words

Mataku tertusuk cahaya, bukan yang terlalu terang, tapi temaram dan pucat membuatku mampu membiasakan diri dengan cepat hingga bisa membuka kelopak mata perlahan. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan. Sempit, hanya cukup untuk satu ranjang dan sebuah meja besi rusak. Ditambah lagi di sampingku tergantung tirai putih tulang yang mengganggu. Kugerakkan tangan kananku, tertusuk selang infus. Kucoba menggerakkan tangan kiriku yang terasa kaku, tak bisa! Tertahan besi.  Kulirik ke atas borgol mengikatnya. Aku berusaha bangkit, tak bisa, tertahan benda sialan ini. Pintu terbuka, seorang perawat masuk. Ia terkejut melihatku terjaga, menarik sebaris celah pintu lalu berteriak memanggil. Berselang detik kemudian muncul seorang pria bersetelan lengkap. Aku ingat kami pernah bertemu dua kali, di

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD