SELAMAT MEMBACA Wiliam menggaruk tengkuknya ketika Lily serta Sehan telah kembali malam hari dengan ekspresi yang membingungkan. Lily melewati Wiliam dengan ekspresi marah dan juga sedikit rona di pipinya sedangkan Sehan kini berjalan melewatinya dengan wajah lesu diikuti sudut bibir yang sedikit terluka. "Hei! Bagaimana kencanmu?" Wiliam mengekori Sehan hingga memasuki kamar. "Manis dan pahit, sudahlah lebih baik aku tidur," tukas Sehan kemudian menaiki kasurnya tanpa niat membersihkan diri serta berganti pakaian. Wiliam mendengus kesal kemudian memilih keluar untuk mencari teman yang bisa ia ajak berbincang. "AH! Auranya terasa begitu dekat!" Sehan tersentak ketika aura ayahnya terasa tak jauh dari mansion Lily. Sehan segera bangkit dari tidurnya dan membuka jendela kamar sebelum akh

