Payung

1116 Words
    "Semangat!" Satu kata dengan makna mendalam itu berulang kali diucapkan Aalea. Gadis itu meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia bisa. Tadi pagi ayahnya juga telah memberikan semangat. Begitu pula sang ibu.     Aalea menunduk. Menatap name tag-nya yang berisi foto, nama lengkap, serta asal sekolah. Melihat name tag ini membuat Aalea sedikit merasa percaya diri. Gadis itu percaya bahwa ia bisa menang di olimpiade tingkat provinsi ini dan mewakili DKI Jakarta ke tingkat nasional. Karena tak ada hasil yang mengkhianati usaha, kan?                                                                             ...     "Hasil seleksi olimpiade akan diumumkan besok di sekolah masing-masing. Selamat siang dan sampai jumpa!" pengawas olimpiade keluar dari ruangan. Sementara Aalea masih sibuk mengemaskan barang-barangnya.     Peserta olimpiade keluar satu per satu meninggalkan ruangan ini. Aalea segera menggendong tas ranselnya di pundak. Tentu saja tasnya tak seberat saat sekolah. Tasnya ringan. Terlampau ringan malah. Isinya hanya sebuah kotak pensil.     Aalea berjalan meninggalkan ruangan. Menyusuri koridor balai perpustakaan daerah, tempat seleksi olimpiade ini diselenggarakan. Langit begitu teduh dan angin yang berhembus lembut membuat Aalea tersenyum dalam diamnya. Ia bersyukur, karena hari ini ia tak perlu berpanas-panas menuju halte bus. Setidaknya ia bisa berjalan dengan tempo yang sedikit santai. Sekalian menjernihkan otaknya yang sudah terlalu lelah menghadapi soal-soal fisika.     Srasssshhh. Hujan deras turun begitu saja. Untung koridor yang sedang disusuri Aalea memiliki atap. Sehingga gadis itu tak kebasahan. Namun sialnya ... bagaimana caranya Aalea pergi ke halte bus jika hujan seperti ini? Aalea menghentakkan kakinya sebal. Ia sudah lelah dan ingin segera berbaring di ranjang sederhananya.     Aalea berdecih beberapa kali. Tadi pagi sang ibu telah menyuruhnya membawa payung. Namun karena penyakit lupanya, Aalea tak membawanya. Gadis itu tak punya pilihan lain, ia harus pergi ke halte bus. Menerobos rintik hujan yang sudah pasti akan membasahi bajunya. Aalea tak apa. Asal ia segera sampai di rumah.     Gadis dengan pita rambut warna hijau itu menghembuskan napasnya. Seolah menyiapkan diri untuk bersentuhan secara langsung dengan titisan sang dewi hujan. Aalea berlari kecil. Air hujan resmi membasahi kulit dan tubuhnya. Aalea harus berlari sekencang mungkin agar ia cepat sampai di halte yang terletak di ujung jalan sana.     Drap. Drap. Drap. Langkahnya pendek namun pasti. Air hujan juga terus membasahi. Diiringi bunyi knalpot kendaraan bermotor yang memekakkan telinga sesekali. Sampai pada akhirnya Aalea tak lagi kebasahan. Tidak. Hujan masih terus menuruni langit. Bahkan makin deras. Guntur juga terdengar beberapa kali. Lalu, mengapa Aalea terlindung dari hujan?     Aalea menoleh ke sampingnya. Terlihat seseorang sedang berusaha menyamakan langkahnya dengan Aalea. Sorot matanya yang seteduh lembayung senja kini menatap lurus ke depan. Memastikan bahwa langkahnya tak akan tersandung batu atau penghalang lainnya. Tangannya dengan kuat menggenggam gagang payung. Mempertahankan posisi payung agar tak terbang kena angin.     Cih. Si Pangeran Sekolah lagi-lagi sok baik! Emang dia pikir gue bakal terkesan apa? Gerutu Aalea dalam hati. Pangeran sekolah. Ya, memang Arjuna. Si tampan baik hati bahkan pada kentang introvert yang berulang kali mengacuhkannya.     "Gimana? Tadi susah nggak soalnya?" tanya Arjuna.     "Bukan urusan lo," singkat Aalea.     Arjuna hanya menanggapi jawaban ketus Aalea dengan senyum merekah. Senyuman yang bisa membuat siapa saja meleleh seperti es krim di siang hariㅡkecuali Aalea.     "Gue nggak butuh bantuan lo." Aalea berlari. Keluar dari lindungan payung yang sebenarnya ia butuhkan. Aalea terlalu tak sudi untuk menerima bantuan dari seseorang seperti Arjuna.     Arjuna sendiri bingung bukan main. Dari sekian ratus murid SMA Nusantara yang menyukai dan menghormatinya, mengapa Aalea terlihat begitu membencinya? Ini bukan kali pertama bantuan Arjuna ditolak. Aalea juga pernah menolak kamus kimia yang Arjuna pinjamkan.     Arjuna tak ingin menerka-nerka dan berprasangka buruk. Ia yakin Aalea bukanlah seseorang yang jahat. Ia baik dan pasti punya alasan mengapa ia membenci Arjuna. Arjuna yakin itu.     Pemuda bersurai hitam pekat itu berlari menyusul Aalea yang sudah cukup jauh. Di bawah lindungan payung transparan berbahan plastik yang ia beli beberapa hari lalu di supermarket. Arjuna menggenggam pergelangan tangan Aalea. Memindahkan payung yang ada di tangannya ke tangan Aalea.     "Nih, pakai aja. Halte bus masih jauh," kata Arjuna. Oh, jangan lupakan senyuman manisnya itu.     Setelah memberikan payung pada Aalea, Arjuna segera berlari kembali menuju balai perpustakaan daerah. Tak peduli pada air hujan yang berjatuhan membasahi dirinya.     Aalea masih diam di tempat sambil memegang payung yang diberikan Arjuna. Jujur, Aalea sama sekali tak ingin dapat bantuan dari Arjuna. Aalea ingin menghempaskan payung itu dan meninggalkannya di sana begitu saja. Tapi jika dipikir-pikir, halte bus masih sangat jauh.     "Ya udah, deh. Terpaksa," desisinya lalu kembali berjalan.                                                                                 ...     Nyesss. Daging mentah yang menyentuh bara api menimbulkan suara khas. Arjuna membalik- balik daging yang sedang ia panggang dengan arang di belakang rumah. Kelihatannya lezat. Belum lagi bau yang ditimbulkan juga tak kalah khas. Di hadapannya, ada Robian. Sang kakak sedang sibuk melahap daging hasil karya Arjuna. Sesekali ia mengangguk-angguk. Seakan memberitahukan betapa lezatnya daging yang dibakar oleh Arjuna.     "Enak, Jun!" puji Robian. Arjuna hanya memamerkan senyum bangganya.     "Gimana? Lo udah ketemu sama cewek yang bikin lo balik ke SMA Nusantara itu?" tanya Arjuna.     Robian mengangguk. Memang benar ia telah menemukan gadis yang membuatnya kembali ke SMA Nusantara. Gadis itu tak lain adalah Aaleasha Cleonnaㅡcinta pandangan pertama milik Robian.     "Namanya siapa, Mas?" Arjuna kembali bertanya.     'Yang duduk di sebelah lo kemarin!'. Ingin rasanya Robian menjawab dengan kalimat itu selantang mungkin. Tapi ia tak melakukannya. Robian tak mau adiknya tau sebelum dirinya mendekati dan mendapatkan hati Aalea seutuhnya.     "Ada, deh!"     "Oh? Jadi lo gitu sekarang? Main rahasia-rahasiaan, Mas?" sindir Arjuna.     Robian tertawa di sela-sela kegiatan makannya. Sindiran sang adik terdengar begitu lucu di telinga Robian.     "Enggak gitu! Suatu saat bakal gue kenalin ke lo, kok. Tapi nggak sekarang," jelas Robian.     Arjuna memamerkan pandangan yang seolah berkata, 'terserah'. Ia kembali ke pekerjaannya, membakar daging. Hingga sesuatu merasukki pikirannya. Sosok Aalea dan sifatnya yang aneh menggentayangi Arjuna.     "Mas, gue mau cerita, nih," tutur Arjuna.     "Cerita aja."     Arjuna menyajikan daging hasil bakarannya ke piring. Kemudian ia duduk di hadapan Robian.     "Gue punya temen satu sekolah. Dan dia nggak pernah mau nerima bantuan gue. Niat gue kan baik, tapi kenapa selalu ditolak, sih?" Arjuna bercerita.     "Kadang ada orang yang beranggapan kalau menerima bantuan dari orang lain itu lemah. Mungkin dia tipe orang yang kayak gitu. Kalau emang dia bukan tipe orang kayak gitu, berarti dia benci sama lo. Menurut lo, dia masuk golongan mana?" respon Robian.     Arjuna menopang dagunya. Ia berpikir kira-kira Aalea masuk dalam golongan mana. Namun sepertinya pemikiran Arjuna sia-sia. Ia tak tau Aalea berada dalam golongan mana walau ia berpikir. Karena apa? Karena ia belum mengenal Aalea sepenuhnya.     "Gue nggak tau, sih. Soalnya gue nggak begitu kenal dia. Tapi gue rasa dia benci gue."     "Ya elah, lo. Kalau lo belum kenal banget sama dia, jangan salah sangka dulu. Bisa jadi dia bukannya nggak mau nerima bantuan lo. Mungkin lo bantu dia pas mood-nya lagi kacau atau mungkin pas dia lagi PMS. Jadi gak usah salah sangka dulu," hibur Robian.     Arjuna mengangguk.     Ya. Mungkin Aalea nggak benci gue.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD