Illeana terdiam ketika pertama kali melihat William. Satu minggu setelah ayah dan ibunya di kebumikan secara berasamaan dan dia melewati semua prosesnya hingga selesai dengan di temani Nenek Aliza. Pemuda itu tampak berantakan, dengan rambut hitam yang dicar merah sebagian. Wajah tampannya itu tampak jutek, jelas sekali tak terima di buang oleh orang taunya, bahkan yang mengantarkannya itu hanya sekretaris ayahnya. Wanita tua yang masih tampak segar bugar itu menghela napas melihat sang cucu seraya menggelengkan kepalanya. “Kalau begitu, saya permisi Nyonya,” ucap sekretaris Alan itu. “Ya. Hati-hati dalam mengemudi, jangan lupa untuk mengabari bila sudah sampai di sana, Max,” kata Nenek Aliza. “Baik, Nyonya. Sama permisi.” Max pun undur diri. William menatap sang nenek angkuh,

