Pagi-pagi sekali Illeana sudah pergi dari rumah Jasmine tapi sebelum itu dia menyiapkan sarapan untuk sang sahabat, dan satu lagi dia siapkan untuk bosnya itu. Illeana kini berdiri di depan pintu rumah William, menghela napas panjang. “Dia belum bangun jam segini,” pikir Illeana menatap pintu itu kosong. Beberapa jam lagi dia harus pergi ke kantor jadi tidak bisa berlama-lama di sana karena harus bersiap dulu, dan lagi jarak apartemennya cukup jauh, sekitar dua puluh lima menit. Di pagi hari ketika matahari saja belum tampak apakah ada taksi lewat? Illeana meminjam mobil Jasmine. “Aku tidak akan sempat pulang kalau begini,” keluhnya. Mata setelah menghela napas, Illeana menekan tombol lonceng yang ada di dekat pintu tapi dia menyembunyikan dirinya dan menaruh tas kecil di depan pin

