WISNU “Ada bandrek dalam limun. Tirex, ngapain lo ngelamun?” “Eh, f**k you!” Umpatan langsung gue layangkan ke Erfan yang sudah berani-beraninya menghapus lamunan gue pagi ini. Iya, pekerjaan langka yang gue lakukan pagi ini adalah melamun. Gue sendiri bingung harus fokus ke mana lamunan gue, kayak ada sesuatu yang hilang yang gue sendiri sulit menemukan jawabannya. Erfan tergelak, lalu duduk di sebelah gue sambil memasang bando hitam untuk menahan poni rambutnya. “Lo ngapa, sih? Abis ketawa-ketawa teleponan sama bini, tiba-tiba kusut gitu muka lo.” “Justru gue telepon Keyfa buat nyari hiburan.” Saat ini cuma dia yang jadi alasan kenapa gue ada di sini, dalam situasi seperti ini, dalam keadaan seperti ini. “Sedep amat tuh mulut ngomong. Udah tobat beneran lo?” Ekspresi wajahnya sungg

