“Dokter Karte, apa Anda setelah ini sibuk?” tanya kepala rumah sakit. Selepas keluar dari ruang operasi, ia diberitahu untuk menghadap kepala rumah sakit. Yang tak lain adalah Profesor Kopfman, dosen killer saat ia berkuliah. Meski penampilannya kini sudah jauh lebih tua dari saat Aaric masih duduk di bangku perkuliahaan tingkat satu hingga tingkat empat, tapi secara kesehataan, Profesor Kopfmann masih terlihat bugar. “Ada dua operasi lagi yang harus aku tangani, tetapi masih ada waktu. Apakah ada masalah, Profesor?” tanya Aaric. “Bulan depan kita akan kedatangan 5 orang dokter residen, limpahan dari rumah sakit lain. Kebetulan seorang diantaranya mengambil pendidikan spesialis bedah. Aku tidak memaksakaan Anda untuk mendampingi mereka, namun aku sudah merekomendasikan namamu sebagai p

