Kartu 26

1313 Words

Aaric pamit setelah sarapan, ia berjalan menyusuri trotoar menuju stasiun bawah tanah dengan terburu-buru. Sesekali ia menoleh ke belakang, siapa tahu ada yang mengenalnya, misalnya Lisa. Tapi yang ada hanya tumpukan salju. Ia terus berjalan menyusuri jalanan yang dingin di pagi hari, uap panas keluar dari mulutnya membentuk kepulan asap. Cuaca memang tidak terlalu bersahabat saat winter. Dingin sekali. Sekitar dua ratus meter lagi menuju stasiun, tiba-tiba menepi sebuah mobil mewah tak jauh dari tempat Aaric berjalan. Awalnya ia tak menyadari, dan terus berjalan. Hingga suara seseorang memanggil namanya. “Aaric!” teriaknya. Mobil berhenti di pinggir jalan, kemudian ke luar seorang gadis dari dalamnya. Aaric menoleh, ia tak mengenali orang berbalut mantel tebal itu, dengan tutup kepal

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD