tiga belas

2388 Words
Pov Soraya Gue buka mata gue lebar lebar serta gue lihat sekeliling gue, tempat yang terasa asing bagi gue,,, Setelah gue sadari gue melihat sosok orang yang gue cintai sedang tak berdaya diikat disebuah kursi dengan mata terpejam... Gue menangis serta memeluknya erat, dan berusaha melepaskan ikatannya, namun tenaga gue tidak cukup kuat untuk melepaskannya. Ini aneh, padahal seperti ikatan biasa... Gue edarkan padangan gue, gue tak tahu tempat apa ini? Semacam tempat p********n, namun tempat ini hanya satu ruangan dan agak berkabut serta temaram, seram. Entah mengapa gue bisa sampai ketempat ini?. Selama ini gue belum pernah ketempat ini, sangat asing?. "Sayang,,,, bangunlah. Apa yang terjadi padamu? Sayang bangunlah, aku mohon,,," kata gue lirih sambil terisak pilu melihat keadaan kekasih gue yang begitu memilukan keadaannya tanpa daya karena bertelanjang d**a. Andai keadaannya baik baik saja, maka yang akan gue lakukan dengannya akan berbeda. "Sayang,,, bangunlah, ku mohon,,,," panggil gue sekali lagi, kali pertama tadi tak ada respon, mungkin lagi pingsan. Tapi gue berusaha untuk membangunkan bagaimana pun caranya. Sambil gue tepuk lembut wajahnya yang lebam karena ada darah yang baru mengering disudut bibirnya. Gue guncang tubuhnya serta gue ciumi bertubi tubi, tapi tetap pacar gue tak ada reaksinya. Gue kehabisan akal dan menyerah serta gue edarkan pandangan gue sekeliling ruangan siapa tau gue bisa keluar dari tempat ini yang seperti kurungan bagi gue karena tidak memiliki pintu sama sekali bahkan jendela juga tidak ada, atapnya juga ada plafonnya, rasanya mustahil bisa keluar dari tempat ini? Bagaimana gue bisa keluar dari tempat ini, gue kesini saja tak tau, tiba tiba saja sudah berada disini, karena gue juga tak melihat pintu masuk? Gue dikejutkan sesosok orang yang tiba tiba ada didekat gue yang entah dari mana datangnya?. Setelah gue teliti baik baik gue tau siapa sosok yang mengejutkan gue. Gue sangat mengenalnya dengan baik, karena gue telah membullynya. "Bening?" ucap gue lirih karena gue sangat mengenalnya. Anak miskin itu tersenyum sinis kearah gue, hal itu membuat hati gue berdebar. Gue mendadak takut melihatnya dengan senyum dinginnya. "Apa Lo yang melakukan semua ini pada kekasih gue? Gue bunuh Lo Bening!" geram gue. Dia hanya mengangguk pelan serta tersenyum dingin. Amarah gue naik dan gue menjadi kalap karena orang yang gue cintai keadaannya cukup mengenaskan, gue tak peduli apapun yang terjadi, gue akan mencakar wajahnya yang dingin itu. Hal yang membuat gue terkejut, yaitu sosoknya tak bisa gue sentuh sama sekali bagai memegang angin saja... "Apa mau Lo hah?" seru gue antara takut dan marah karena gue tidak bisa berbuat apa apa bahkan untuk menyakitinya saja gue tidak bisa, bahkan senyumnya seperti menyeringai ke arah gue, dingin. Gue sudah kehabisan akal karena yang gue lakukan sia sia. Bening masih tetap diam ditempatnya, menatap tajam kearah gue yang mulai ketakutan, padahal gue berdiri dihadapannya, hanya sejengkal, serta gue bisa menggapainya, namun setiap kali gue menyentuhnya seperti angin tak bisa gue pegang. "Siapa Lo sebenarnya?" tanya gue ketakutan setengah mati. Sedari tadi si miskin ini diam, tapi hal itu membuat gue malah takut. Kembali, si gembel miskin menyeringai serta tersenyum dingin dengan mata tajam menatap gue. Gue sudah kehabisan akal... "Aku ingin tidak melakukan hal ini padamu Raya, namun kau sudah keterlaluan. Sebenarnya, aku kasihan padamu juga pacarmu yang sok kuat itu. Pelajaran pertama dariku, terimalah balasan dariku. Aku akan membuatmu tak berani berada ditempat umum. Ha ha ha,,,," ucapnya sinis dengan tawa sarkasnya dan dingin. Setelah itu mendekati gue, gue tak berdaya, karena setiap gue akan menghindarinya selalu berada didekat gue. Hal yang di luar dugaan gue, apa yang dilakukannya pada gue... "Auhhh,,, aakkkhhhhh,,,?!" jerit gue karena gue tidak menyangka kalau si miskin itu berani melakukannya pada gue. Wajah gue yang kiri dicakarnya. Sungguh terasa perih dan sakit sekali. Gue kini hanya bisa menangis sejadi jadinya karena gue tak bisa melawannya. Ini memang sangat aneh, karena gue seperti boneka. "Ampu Bening. Maafkan gue,,,hiks hiks hiksss...." mohon gue karena rasanya perih dan sakit. Gue baru sadar kalau ini balasan buat gue, karena telah menyakiti serta menyiksanya. Dia tampak sinis, menyeringai. Tatapannya tajam, dingin kearah gue.... "Percuma kau memohon Raya. Itu belum seberapa atas perlakuanmu padaku. Kau manusia tidak punya hati dimuka bumi ini. Lebih baik kau mati saja dari pada hidup!" ancamnya. Lemas sudah tubuh gue mendengarnya. Sepertinya Bening tidak main main dengan ancamannya. Cakarannya di wajah gue yang tadi mulus kini berbekas, sangat perih dan sakit karena ada darahnya. Tentu saja hal itu membuat gue ketakutan dan menangis serta memohon maaf padanya. "Kesini kau w***********g!" bentaknya, menarik gue kuat membuat gue tak berdaya karena cengkeramannya sangat kuat. Entah dari mana datangnya, kini telah ada kursi padahal tadi gue lihat keadaan ruangan ini kosong, gue berpikir pun tak sampai. Bahkan kini gue duduk disebuah kursi dan terikat kuat, bahkan tangan dan kaki. Bening tampak tersenyum sinis sambil menyeringai dengan tatapan tajam, berdiri dihadapan gue. "Sayang, tangan yang mulus ini harus tergores!" ucapnya dingin. Tentu saja hal itu membuat gue ketakutan setengah mati. Wajah gue sudah terluka serta perih, kini tangan gue yang akan dilukainya. Gue semakin meraung ketakutan serta menangis sejadi jadinya... "Hiks, hiks, hiks,,,, Bening, maafin gue. Gue mohon jangan sakitin gue. Lepaskan gue dari tempat ini Bening" isak gue penuh permohonan, namun sepertinya Bening takkan mendengarkan gue, malah tersenyum dingin kearah gue. "Menangislah Raya. Tak kan ada yang bisa menolongmu disini. Di dunia mimpi ini. Ha ha ha,,,,. Rasakan ini Raya!" serunya tertawa senang, mirip tawa gue ketika gue membullynya. Kini gue sadar apa yang telah gue lakukan padanya berdampak sangat buruk buat gue dan gue telah menerima balasannya. Rasa nyeri dan perih menyergap gue ketika secara bergantian kedua lengan gue yang terikat dicakarnya, hal itu membuat gue makin bergetar. Rasanya nyawa gue mau melayang karena tiba tiba setelah melukai kedua tangan gue kini Bening mencekik leher gue, rasanya sangat sakit dan gue sulit untuk bernafas. Apakah ini rasanya mati? Karena gue merasa kan semua mendadak menjadi gelap gulita... Rasa sakit, perih juga nyeri bercampur menjadi satu... Hal itu terasa cukup lama, hingga gue merasa megap megap karena tak bisa nafas ... Selang berikutnya hal itu sudah tak gue rasakan lagi? Mungkinkah gue meninggoy!??? Pov Soraya end! Jm 24 september 2021 _______________ ____________________ Sementara itu dirumah Angga terjadi kehebohan karena Khatijah dan Rahman menanyakan tentang Bening anaknya yang sampai isak belum juga pulang. Tentu saja keduanya sangat khawatir karena putra nya belum juga pulang... "Angga kemana mas-mu, kenapa pulangnya gak bareng?" tanya Khatijah bingung, tentu saja Rahman ingin tau hal yang sebenarnya terjadi karena Angga yang ditanyai pun tampak kebingungan. " Bu,, Bu,, de,, tadi, tadi mas Bening diajak belajar kelompok dirumah temannya. Aku disuruh pulang duluan. Katanya kalau aku nunggu dan bareng akan lama. Makanya, harus diberitahukan, karena kalau belum selesai mas Bening akan nginap,,," katanya berasalan, walaupun hatinya berdebar karena telah berbohong pada mereka karena tak ada pilihan lain. "Siapa temannya Ga?" cerca Khatijah masih belum puas. Tentu saja wajahnya terlihat sedih serta hampir menangis. Angga memilih untuk bungkam karena tak ada lagi untuk beralasan. "Sudah Bu, benar kata Angga. Gak usah khawatir, kan Bening sudah besar. Pasti nginap dirumah temennya. Baiknya kita istirahat saja besok harus bangun pagi pagi karena harus kerumah boss" ajak Rahman pada istrinya. "Tapi aku tetap khawatir mas. Entah mengapa perasaanku tak enak. Aku merasa ada sesuatu terjadi" Khatijah masih saja khawatir karena memang keadaan Bening sedang tidak baik. Seandainya Rahman tau keadaannya Bening itu memprihatinkan maka ceritanya akan lain. Memang naluri seorang ibu itu sangat kuat ketika anaknya sedang ada masalah. Angga pergi untuk tidur, namun tetap saja matanya tak bisa terpejam, masih kepikiran tentang Bening yang dikurung digudang sekolah dalam keadaan terikat. Pikirannya melayang layang entah kemana? Hingga sampai larut malam, barulah Angga bisa tertidur, dan tidurnya tak bisa nyenyak, tetap saja dia sering terjaga. *Maafkan aku mas Bening* ____________ Keesokan harinya.... Rumah kediaman Sanjaya, Mahendra Sanjaya menjadi heboh karena istrinya yang bernama Kinasih Sanjaya berteriak histeris karena menemukan putranya dalam keadaan pingsan. Tentunya kedua orang tua Riko menjadi sangat panik bahkan dokter pribadinya yang bernama dokter Miko dipanggil kerumah untuk memeriksa keadaan putra kesayangan mereka. "Bagaimana keadaan putra saya dokter Miko?" tanya Kinasih disertai isak tangis melihat putra kesayangannya hanya diam bagaikan mayat. "Dokter Miko, lakukan apapun untuk kesembuhan putra saya, berapapun biaya akan saya bayar. Tolong, sembuhkan putra ku dok,,," ratap Mahendra sedih, air matanya menetes, hatinya pilu melihat keadaan putranya yang tak bergerak. Istrinya sudah meraung histeris dipinggir bad milik Riko. Keadaan Riko kini ditutupi selimut tebal karena semula dalam keadaan t*******g, hingga mamanya pun mengetuk pintunya tapi tak ada sahutan karena biasanya Riko akan mempersilahkan mamanya untuk masuk. Namun, kali ini terasa berbeda karena Kinasih memanggilnya tak ada sahutan cukup lama hingga berinisiatif untuk membukanya dengan kunci cadangan yang dimilikinya. Hingga menemukan putranya yang dalam keadaan pingsan bahkan dibangunkan pun tak bergerak sama sekali hingga membuat Kinasih menjadi panik dan berteriak histeris di pagi buta disaat para pembantunya datang. "Riko,,, bangun sayang. Ini mama sayang,,," isak Kinasih menatap anaknya yang masih diam. "Ibu Kinasih, bapak Mahendra tenang. Ini masih saya periksa" dokter Miko menenangkan mereka karena sedang memeriksa keadaan Riko. "Lakukan yang terbaik dok" potong Kinasih sedih, tak sabar karena melihat anaknya belum juga siuman. Setelah diperiksa, nampak dokter muda bernama lengkap Miko Afriansyah hanya menggeleng pelan, karena merasa heran karena merasa baru kali ini menemui kasus seaneh ini. Ini dari 1000:1 dari kasus yang pernah dihadapinya. "Kenapa dok?" tanya Mahendra ingin tahu keadaan putra nya. "Anak ini koma. Namun aneh, baru kali ini saya menemui kasus sakit seperti ini?" desahnya pelan sambil mengernyitkan dahinya, setelah memeriksa keadaan Riko. "Apa dok, koma? Sebenarnya apa yang terjadi dok, kenapa bisa terjadi seperti ini?" seru Mahendra hampir kalap. "Tenang pak, Bu. Saya perlu mendianogsa, apa yang di alami Riko?" terangnya karena Mahendra dan Kinasih tidak puas dengan pernyataan dokter Miko. "Riko mengalami mati suri. Itulah sebenarnya yang terjadi pada Riko, pak Mahendra" jelasnya karena melihat mereka yang khawatir. "Sebaiknya kalian juga cari jalan pengobatan alternatif karena medis belum tentu bisa menangani hal seperti ini. Tapi keduanya harus berjalan baik medis maupun alternatif" saran dokter Miko karena tak ada yang bisa dilakukannya lagi mengenai hal yang dialami Miko itu bukan sakit maupun penyakit, karena itu mengenai hal supranatural. "Pa, siapa yang melakukan ini pa? Apa mungkin putra kita punya musuh pa?" ucap Kinasih masih terisak pilu terlebih menatap anaknya yang kini sedang koma. Kini Riko sudah ada selang infus ditangan kirinya namun keadaannya masih pingsan, hanya nafasnya saja yang masih teratur... Mendadak dokter Miko ditelpon seseorang.... "Halo dokter Carmila ada apa?. Iya, saya juga menemukan kasus yang sama. Saya segera kesana!" usai menutup sambungan telpon nampak dokter Miko berkemas dan bersiap tentu saja hal itu didengar oleh Mahendra dan Kinasih. "Apa yang terjadi dok? Kenapa dokter buru buru?" tanya Kinasih penasaran karena dokter Miko pamitan. Tapi rasa penasarannya cukup tinggi terlebih keadaan anaknya belum sadar. Mahendra juga diam karena agak bingung dengan sikap dokter Miko yang mendadak pergi... "Teman saya dokter Carmila juga menangani pasien seperti yang di alami oleh Riko. Kalian pasti tau kan Raya pacarnya Riko. Raya juga mengalami hal yang sama seperti yang dialami oleh Riko, saat ini!" jelas dokter Miko membuat keduanya mengerti sekali menjadi tanda tanya. "Apa ini ada hubungannya dengan Riko putra kami dok?" tanya Mahendra penasaran. "Kemungkinan bisa saja terjadi, karena hal yang dialami Raya sama persis seperti apa yang dialami oleh Riko putra kalian" terangnya kembali. "Harap dijaga putra kalian, jangan ditinggal karena hal buruk bisa saja terjadi padanya" setelah itu dokter Miko pamitan pada keluarga Sanjaya. "Bi Ros, bi Ijah,,,!" teriak Kinasih pada pembantunya yang sedari tadi berada diluar karena tidak berani masuk ke kamarnya Riko karena Riko selalu berpesan tidak ada seorang pun yang boleh memasuki kamarnya tanpa seizinnya. Kedua pembantunya pun datang tergopoh karena panggilan majikan mereka... "Iya Bu, ada apa?" tanya Rosmalia karena takut ada kesalahan yang dibuat. Khatijah hanya diam mematung ditempatnya karena ia masih baru kerja disini. "Bi Ros, bi Ijah tolong kalian jaga putra saya Riko, gaji kalian akan saya naikan dua kali lipat. Dan kalian nginap disini saja, jangan pulang hingga Riko sadar!" ucap Kinasih pada pembantunya. Tentu saja Rosmalia dan Khatijah merasa senang karena gajinya dinaikan dua kali lipat, tapi harus menjaga Riko hingga Riko putra majikannya sadar kembali. Disisi lain, Khatijah yang mendapat tugas untuk menjaga putra majikannya menjadi murung sekaligus sedih serta khawatir karena Bening anaknya belum ada kabarnya... "Baik Bu,,," jawab Khatijah lesu. "Bu, pak sarapannya sudah siap" ucap Rosmalia bersemangat karena gajinya akan dinaikan, dan juga dia yang dipercaya untuk memasak dikeluarga Sanjaya. "Tidak bi, terima kasih, nanti saja, saya belum lapar" balas Kinasih karena melihat putranya masih tak sadarkan diri. Ibu mana yang tak kan sedih melihat anak kesayangan nya dalam keadaan mati suri dan tidak bisa berbuat apa apa untuk menolongnya terlebih membuatnya sadar kembali, karena tak ada yang bisa dilakukannya. "Ma, ayo sarapan. Mama harus sarapan, ini untuk Riko. Kalau mama sakit siapa yang bakal menjaga Riko, nanti?" ucap Mahendra pada istrinya yang tidak mau sarapan. Kinasih masih saja terisak dalam tangisan karena melihat keadaan Riko yang belum juga sadar. Mahendra memapah istrinya menuju ruang makan yang berada dilantai bawah. Rumah keluarga Sanjaya memang sangat luas, bagus dan mewah. Kamar Riko kini menjadi sepi karena memang dilarang untuk berisik... "Mbak, apa yang terjadi pada Den Riko, kok diem gitu. Mana tubuhnya kayak kena cakar gitu" bisik Rosmalia bergidik ngeri melihat kondisi anak majikannya yang koma. "Entahlah Ros, tapi,,,?" "Tapi apa mbak?" sahut Rosmalia tetap tapi tetap menjaga suaranya biar tidak berisik, ia begitu penasaran sepertinya mbak-nya tau sesuatu hal. Keduanya tidak mengetahui hal yang sebenarnya karena mereka berada diluar dan dilarang untuk masuk terlebih mendengar percakapan dokter Miko, hingga membuat keduanya kebingungan terlebih melihat keadaan Riko yang koma... "Ini seperti mati suri. Yah,,, ini seperti perbuatan seseorang. Apa mungkin ini perbuatan Bening anakku. Tidak mungkin,,, Bening tidak mungkin melakukan hal itu?" gumam Khatijah lirih setelah mengamati keadaan Riko yang tak bergerak dengan selang infus ditangannya. "Apa mbak? Mbak ngomong apa? Mati suri? Ini ada kaitannya dengan Bening, apa maksudnya mbak?" cerca Rosmalia penasaran karena mendengar pernyataan mbak yang bikin penasaran, terlebih mengenai ucapannya yang mati suri membuat Rosmalia makin bingung. "Gak, lupakan saja Ros" cegahnya supaya Rosmalia tak membahasnya lagi karena Khatijah mengisyaratkan untuk diam takut nanti kena teguran karena suara berisik mereka. Rosmalia memilih untuk diam, dalam rasa penasarannya yang mendalam, mengenai apa yang dikatakan mbaknya,,, Semua itu penuh misteri???. #bersambung.... Sb 25 September 2021.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD