Bab 2: Siapa dia

1323 Words
Waktu makan malam tiba, Cindy sebagai keponakan Nyonya tua Baskoro, makan bersama keluarga Baskoro dengan suasana yang harmonis. Hanya Farrel yang duduk sendiri, raut wajahnya tegang, pria itu tidak berselera makan. Tasya Haryasa pergi begitu saja dengan Bagas Indrawan tidak membawa apa pun, termasuk uang dua ratus juta dan vila yang Farrel berikan kepada wanita itu. "Di mana Tasya? Mengapa dia tidak turun untuk makan?" Tanya Direktur Rudi Baskoro dengan heran. "Aku dan Tasya Haryasa telah bercerai, perjanjian sudah ditandatangani." Jawab Farrel sambil menundukkan mata, "Kami akan menyelesaikan prosedur pada hari tertentu dan mendapatkan sertifikat perceraian. Rudi Baskoro kaget, "Cerai? Mengapa?!" "Ayolah, Om Rudi, saya sudah bilang padamu, Farrel dan Tasya sebenarnya tidak cocok satu sama lain, mereka hanya dijodohkan oleh Kakek saja,” ucap Cindy. Nyonya Baskoro, Ratna menghela napas, "Anak itu menderita selama tiga tahun, sekarang dia akhirnya bebas dan membiarkan Farrel dan dia bahagia masing-masing. Ini sebenarnya hal baik untuk kedua anak itu. Kamu juga tahu, hati Farrel selalu untuk Cindy." "Farrel, pernikahan bukan mainan, kamu tidak bisa seenaknya..." "Ayah, kami sudah menandatangani perjanjian perceraian, Tasya juga telah meninggalkan tempat ini, meninggalkan semua kewajiban. “ujar Farrel mengernyit kesal. "Hei, gadis kampung itu cukup berani ya." Gita Baskoro, adik tiri dari Farrel tertawa dingin, "Tasya tidak menggunakan trik pura-pura menderita, kan? Nanti dia tidak boleh berkeliaran menyebut-nyebut bahwa keluarga Baskoro memperlakukannya dengan tidak adil." Ketika Farrel mendengar itu, ada ekspresi kesal di wajahnya. "Farrel, kali ini kamu terlalu gegabah, Kakek masih sakit, bagaimana kamu akan menjelaskan padanya?" Rudi Baskoro khawatir ini bisa membuat Kakek marah, dan ekspresinya menjadi gelisah. "Saya akan bicara dengan kakek dan bulan depan saya akan mengumumkan berita pernikahan secara resmi, saya akan menikahi Cindy." Cindy menatap Farrel dengan pandangan manis, matanya penuh dengan kelembutan. "Kamu benar-benar kacau! Jika kamu tidak terlihat bersama dengan Tasya, citramu akan hancur, apa lagi jika berita ini tersebar!" "Saya tidak peduli dengan reputasi semu itu, Tasya Haryasa bukanlah wanita yang saya inginkan." Ucap Farrel tegas tanpa penyesalan. "Om Rudi, tolong jangan salahkan Farrel, kalau harus menyalahkan, salahkan saya." Cindy bersandar di bahu Farrel, berkata sambil meneteskan air mata, "Saya yang bersalah, tidak seharusnya muncul di depan Farrel.” “Saya akan kembali pergi keluar negeri besok pagi. Farrel, kamu sebaik segera berbaikan dengan istri kamu, saya tidak ingin menjadi penyebab perpisahan kamu." Farrel dengan tajam menatap Cindy, meraih tangannya dengan lembut, "Saya dan Tasya sudah berakhir sepenuhnya, kamu sudah menahan diri selama tiga tahun, saya tidak akan membiarkan Anda menderita lagi." Angin malam yang sejuk menyegarkan. Bagas membawa Natasha ke Pantai, duduk di pinggir pantai, sambil menikmati pemandangan langit malam yang penuh bintang. "Kakak, apakah kamu sedang mencoba menghancurkan hatiku!" Natasha melihat sekeliling, melihat beberapa pasangan yang sedang berduaan, "Ini adalah tempat berkencan pasangan! Biasanya aku tidak berani datang kesini tahu!" "Benarkah? Kalau begitu, kita harus menyalahkan Dimas. Dia bilang akan menyalakan kembang api di sini tepat pukul delapan." Bagas lalu melirik ke arah jam yang ada di pergelangan tangannya "Lima, empat, tiga, dua, satu." Terdengar suara ledakan keras, sebongkah kembang api merah ungu raksasa meletup di langit. Semua pasangan yang ada di tepi pantai itu serentak mengarahkan pandangan ke langit dan melihat langit malam yang terang dengan begitu indahnya oleh kembang api warna-warni. "Kak Dimas benar-benar kreatif dan luar biasa,” ucap Natasha takjub melihat indahnya kembang api yang menghiasi langit malam, apa yang dilakukan kakaknya membuat Natasha begitu terharu. "Pikirkanlah semua hadiah aneh yang pernah kamu terima selama bertahun-tahun, ini sudah kemajuan." Ucap Bagas sambil memeluk bahu adiknya, merangkulnya dengan lembut. “Hari ini hadiahmu tidak hanya ini, semuanya sudah disiapkan untukmu, dan kamarmu sudah penuh dengan hadiah. Natasha, banyak orang yang mencintaimu, berikan cinta dan waktumu kepada orang yang pantas." Natasha tiba-tiba merasa hidungnya terasa pedas, perasaannya begitu terharu. Pada saat yang sama, mobil Maybach hitam berhenti di luar kerumunan. Farrel turun dari mobil dengan menggandeng tangan Cindy, angin malam berembus dengan sejuk, dan wanita itu masuk ke dalam pelukan Farrel. "Wah, kembang api yang bagus! Cepat, lihatlah, Kak Farrel!" Cindy sering memperlihatkan kepolosan gadis muda di depan Farrel dan itu juga yang merupakan salah satu hal paling disukai oleh Pria itu. Sebaliknya bagi Farrel, Tasya Haryasa terlihat murung dan membosankan, dengan kepribadian yang terlalu kaku, tidak sesuai dengan selera pria itu. Selama tiga tahun ini, satu-satunya kelebihannya Tasya hanya kepatuhan dan ketaatannya. Tapi apa gunanya, Tasya Haryasa sama sekali bukan wanita yang diinginkan Farrel. Mereka berdua berjalan lebih ke tepi pantai, tiba-tiba, empat kembang api mekar bersamaan, membentuk empat kata di udara — Selamat Ulang Tahun! "Oh, jadi ada yang sedang ulang tahun, aku tidak tahu siapa yang bisa mendapatkan hadiah seperti ini, tetapi dia sungguh beruntung." Cindy tidak bisa menahan kekagumannya. Farrel mendadak memiringkan iris mata hitamnya, hatinya tercekik oleh kekuatan tak terlihat, dan bibirnya yang tipis merenggang menjadi sebuah garis, pria itu teringat sesuatu. Hari ini, adalah hari ulang tahun Tasya Haryasa, jadi apakah kembang api ini adalah hadiah ulang tahun yang diberikan oleh seseorang padanya? Tiba-tiba, suara yang jernih dan merdu masuk ke telinga Farrel, begitu akrab! Farrel menoleh dan matanya menyipit untuk melihat sepasang pria dan wanita. Seseorang yang dia kenal. Itu adalah Tasya Haryasa dan seorang pria yang Farrel kenal sebagai Bagas Indrawan. "Eh? Itu Kak Tasya! Pria di sebelahnya sepertinya agak dikenal, dan hubungan mereka terlihat sangat akrab." Kata Cindy pura-pura bertanya dengan wajah polos dan tidak berdosa. Farrel dingin menatap Tasya dengan tajam, tangan mengepal erat sehingga menunjukkan urat biru yang menonjol. Tentu saja! Mereka bahkan belum resmi bercerai, tapi wanita ini sudah terburu-buru berbagi malam bersama orang lain. Apa arti tangisan menyedihkan di depannya sore itu? Kembang api telah usai, langit kembali gelap hanya dihiasi oleh bintang-bintang. Beberapa orang mulai meninggalkan pantai dan pantai mulai sepi Bagas juga mengajak Natasha untuk meninggalkan pantai karena udara malam semakin dingin. Pria itu baru saja merangkul Natasha ketika mendengar sebuah suara. “Tasya Haryasa.. !” Mendengar panggilan itu, seluruh tubuh Natasha seketika tegang, wanita itu mengenali suara yang memanggilnya. Dia berputar sedikit demi sedikit dan melihat Farrel yang mendekatinya dengan langkah besar, wajah tampan pria itu masih memukau hati Natasha. Tapi apa gunanya, cinta Natasha akhirnya tetap dihancurkan oleh pria yang memesona ini, cintanya selama tiga belas tahun terakhir tidak ada gunanya, dan sekarang dia sudah tidak bisa mencintai lagi. "Siapa dia?" Wajah Farrel bersikap dingin dan menekan. "Pak Farrel, tampaknya ingatan Anda kurang baik.” Bagas memeluk erat adiknya, senyumnya tenang dan ringan, "Di dunia bisnis, kita sudah saling bersaing tidak hanya sekali." "Tasya jawab pertanyaanku." Farrel langsung mengabaikan Bagas, dia mendekat langkah demi langkah. "Kita sudah bercerai, Farrel. Pria ini adalah siapa, tidak ada urusanmu." Bibir merah muda Natasha terbuka, dengan dingin dan tegas membalas pertanyaan Farrel Ekspresi Farrel berubah kaget, dia tidak percaya Natasha yang selama ini selalu lemah lembut dan ramah, bisa bicara dengan nada seperti ini! "Kita belum resmi bercerai, dan kamu sudah terburu-buru bersama pria lain?" Apa- apa ini. Farrel yang pertama kali berselingkuh dalam pernikahan, dan pria itu berbicara dengan nada seperti ini?! Bagas mengecilkan matanya, hendak maju, tapi dihentikan oleh Natasha. Natasha bahkan membela pria lain? Ini semakin membuat Farrel tidak senang! "Kita belum resmi bercerai, tetapi Pak Farrel sudah tidak sabar bersama dengan cinta pertama Anda, jadi apa hak Anda menghalangi saya untuk bersama orang lain?" Rambut hitam Natasha berkibar di udara, bibir merahnya membentuk senyuman mengolok yang memukau, namun sangat liar, "Bagaimana mungkin hanya Anda yang diizinkan melakukan hal-hal nakal, dan saya sebagai mantan istri tidak diizinkan.” Ucapan itu sangat kasar, membuat Farrel tidak tahu harus berkata apa! Cindy yang melihat hal tersebut sangat kesal, wanita itu melihat Farrel terlihat masih perhatian dengan Natasha. Cindy mengentakkan kakinya dengan keras sehingga membuat hak sepatunya patah dan membuatnya terjatuh. "Ah! Kak Farrel! Kakiku sangat sakit!" Jerit Cindy manja. Baru saat itu Farrel kembali sadar diri dan pria itu segera berbalik untuk membantu Cindy yang terjatuh. Ketika Farrel menoleh kembali ke arah Natasha, wanita itu bersama dengan Bagas Indrawan sudah lenyap tanpa jejak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD