Pernikahan ini akan melukai dua orang yang saling mencintai. Aku adalah kendala kebahagiaan sebuah cinta. Sejujurnya aku pun terluka dengan pernikahan ini.
***
Vino dan Roy berbicara dengan ekspresi serius. Aku tidak bisa mendengar perbincangan mereka karena jarak yang cukup jauh. Mereka berdua berdiri di pojok sebelah kiri dekat dengan rak tempat file-file yang sangat banyak.
Kruyuk...
Perutku berbunyi. Ya, aku belum makan. Hanya meminum Coffe Latte. Gadis yang baru pingsan itu menatapku, rupanya bunyi perutku terdengar olehnya. Aku tersenyum canggung padanya karena malu. Melihat gadis ini dari jarak dekat, membuatku merasa inferior. Dia cantik.
“Kamu belum sarapan ya?” Tanyaku memulai setelah sekian lama aku dan dia hanya menatap sekilas beberapa kali.
“Sudah.” jawabnya skenanya. Kalau belum makan, kan, kita bisa makan bareng. Apa dia benar-benar sedang sakit ya? Wajahnya terlihat biasa saja, tidak pucat cenderung seperti ekspresi yang baru mendapatkan kabar baik, seperti mendapat hadiah undian misalnya.
“Aku lapar.” ucapku spontan setelah Roy dan Vino menghampiri kami di sofa.
“Kamu mau makan apa?” Tanya Roy. Sebenarnya calon suamiku itu siapa sih? Kenapa Roy lebih perhatian?
“Apa saja yang penting enak. Sepertinya perutku me-request Nasi Kuning.”
“Oke, akan kubelikan. Bagaimana denganmu, Katrina?” tanya Roy, menatap Katrina.
“Tidak. Aku sudah sarapan.” Ia mengulas senyum di bibir tebalnya yang seksi. Roy tidak membalas senyum Katrina. Ia berbalik dan berlalu pergi begitu saja. Sepertinya Roy lebih menghargaiku daripada Katrina.
“Aku rasa, aku harus pergi sekarang.” Katrina bangkit dari sofa, menatapku dan Vino secara bergantian.
“Aku antar.” ujar Vino. Aku mendongak padanya.
“Tidak usah. Aku rasa aku bisa pergi sendiri.” Katrina menatapku seolah merasa tidak enak. Aku yang memiliki naluri kemanusiaan tidak tega membiarkan Katrina pergi dalam keadaan setelah pingsan. Ia membutuhkan seseorang untuk mengantarkannya pulang.
“Vino, antarkan saja Katrina pulang. Aku tidak apa kok.” kataku tersenyum kepada Katrina. Mendapat ucapan seperti itu dariku Katrina tidak menolaknya. Sebelum mereka pergi ada hening yang datang sejenak.
Aku menatap mereka dari balik punggung mereka sampai menghilang di balik pintu. Mereka sepertinya saling mencintai? Aku bisa mendeteksi perasaan cinta di antara mereka berdua dengan radarku.
***
Selesai makan, Vino tidak kunjung kembali. Aku memutuskan untuk pulang ke kontrakan Agni. Hari Rabu Agni biasanya off kerja. Sebelum ke kontrakannya, aku mengiriminya pesan terlebih dahulu untuk memastikan kalau dia ada di kontrakannya.
Ting!!
“Aku sedang santai di rumah. Aku tunggu.” Balasnya.
Aku membalas, “Oke.”
Aku menatap Roy yang sedang sibuk memeriksa laptop Vino di meja kerja Vino. Aku meraih tas anyaman berpita warna biru dan berjalan mendekat padanya. Ia mengangkat wajahnya. “Mau kemana?” tanyanya dengan mata yang mengarah ke tasku.
“Aku mau pergi ke rumah sahabatku.”
“Tapi, Vino belum datang.”
“Biarkan saja, aku bosan di kantor. Aku pergi ya.”
Roy memutar kedua bola matanya. “Bukankah hari ini kalian akan fitting baju pengantin.”
Aku berpikir sejenak. Tiba-tiba wajah calon mertuaku itu hadir. Entah kenapa di bayangan itu ia memperlihatkan gigi-giginya yang tajam. Gigi-giginya bertaring seperti ikan hiu. Aku begidik ngeri. “Sepertinya ayah calon mertuaku itu lebih ramah daripada ibu calon mertua.” Tanpa sadar aku bergumam sendiri.
“Apa?” Roy bertanya dengan wajah bingung.
“Tidak.” Aku menggeleng cepat.
“Yasudah, aku antar ya?”
“Ah, tidak usah. Aku duluan ya, dah!” Aku melambaikan tangan dan berbalik lalu berjalan meninggalkan Roy.
***
Agni sedang duduk santai dengan tv menyala.
“Bawa apa?” tanyanya melihat dua kantong plastik putih di tanganku.
“Tadi aku membeli telur gulung dan otak-otak.” Aku mengangkat kedua plastik putih itu dengan wajah berbinar seolah baru mendapat pacar baru.
“Jajanan anak kecil. Sekali-kali bawalah pizza atau tiramisu, sebentar lagi, kan, kamu akan menjadi Nyonya Movie Billionaire.” Katanya tanpa menoleh ke wajahku.
Aku mengembuskan napas dengan kesal. Entah menguap kemana kosa kataku itu, seolah tidak bisa membalas ucapan Agni. “Kamu pikir aku suka dengan sebutan Nyonya Movie Billionaire?!” Mendadak suaraku meninggi hingga Agni mengedikkan bahunya karena terkejut.
“Jangan memasang wajah seperti itu. Aku tidak suka wajah jelekmu. Oke, otak-otak untukku saja. Lagian aku cuma bercanda kok, hehe.” tawa Agni langsung mencairkan suasana yang mendadak mencekam. Ia menarik kantong plastik yang berisi otak-otak. Aku baru menyadari ucapanku. Entah berapa ratus kali aku berkata dengan nada tinggi semenjak bersahabat dengan Agni.
Sifatku yang introvert membuatku tidak memiliki sahabat lain selain Agni. Meskipun, wajahku ini lebih sering mengumbar senyum dan ceria tapi sesungguhnya aku lebih banyak merenung. Agni seorang sahabat yang benar-benar istimewa di mataku. Dia salah satu malaikat kepercayaan Tuhan yang disusupkan ke bumi untuk menemani hari-hariku yang cukup rumit ini. Seberapa sering aku marah dan membentaknya, ia tidak pernah pergi. Dan aku baru saja memikirkannya... aku tidak mau marah-marah kepadanya. Aku harus berubah. Aku harus move on dari emosi yang selama ini mengendalikanku.
“Agni, aku mau minta ma’af. Selama bersahabat denganku pasti kamu sering terluka karena emosi yang tidak bisa aku kontrol. Seharusnya aku menyadari kalau kamu hanya bercanda, tapi, entah kenapa bercandamu itu selalu membuatku marah.” Wajah Agni berubah kaku. Lalu dia tersenyum lembut.
“Kamu itu sahabatku. Aku sayang kamu, Git. Seberapa banyak pun kita bertengkar atau kamu marah semarah-marahnya padaku, aku tetap sahabatmu.” katanya dengan senyum yang kian melebar. Aku membalas senyumnya selebar mungkin sehingga gigi gingsulku tampak.
Agni memakan otak-otaknya dan aku juga melahap telur gulungku. “Kamu sudah makan?” Aku bertanya dengan tangan meraih otak-otak dari plastik.
“Tadi pagi aku makan soto ayam. Kenapa? Mau traktir?” Agni menyeringai berharap.
“Ckck... aku kan tidak kerja, uang darimana untuk mentraktirmu. Harusnya, kamu yang mentraktir aku.”
Ponselku berdering. Tertera nama dilayar Vino.
“Siapa?” tanya Agni.
“Vino.”
“Angkat.” seru Agni, menyuruhku.
“Halo.” sapaku.
“Kamu di mana? Aku, kan, sudah bilang hari ini kita akan fitting baju.”
“Vino, ehmm... sebenarnya kapan kita akan menikah? Kamu jangan berpikir aneh-aneh dulu, aku hanya belum tahu kapan pernikahan itu berlangsung.” Aku menggigit bibir bawah. Ada rasa khawatir Vino akan berpikir macam-macam. Kalimat yang aku lontarkan terasa aneh.
“Mamah belum memberitahumu ya?”
“Mam juga tidak membahas kapan pernikahan akan berlangsung.” Hatiku tiba-tiba berdebar-debar mengatakan ‘pernikahan’.
“Seminggu lagi kita akan menikah.” jawabnya santai. Aku melongo, terkejut. “Seminggu lagi? Secepat itu? mendadak sekali.” Agni menguping di sampingku.
“Kamu di mana?” tanyanya.
“Di rumah Agni.”
“Agni siapa?”
“Agni, sahabatku.”
“Di mana alamatnya? Hari ini kita akan fitting baju.” Dua kali ia mengatakan hari ini di telepon, ‘kita akan fitting baju’ seolah kalimat itu begitu penting. Setelah aku menyebutkan alamat Agni, Vino memutuskan teleponnya secara sepihak. Sama sekali tidak menghargaiku, cih!
***