Calon mertuaku membuka isi rantang dan menyuruhku makan bersama di meja makan. “Ini kamu yang masak?” dia bertanya seakan aku telah menciptakan suatu produk yang mengagumkan.
“Aku dan Mam, Mah.”
“Mam?” Sebelah alisnya terangkat.
“Mamahku, maksudku, Mah.” Aku nyengir tak beraturan.
“Kalau nanti kamu sudah resmi jadi istri Vino, kamu harus bisa masak sendiri. Mengurus suami dan melayaninya dengan sepenuh hati. Dan kamu tidak boleh membiarkannya makan di luar kecuali jika kamu sakit. Jangan membangkang suami, kamu harus nurut sama suami—” suara calon mertua samar-samar terekam di otakku. Membayangkannya saja membuat aku bergidik ngeri apalagi ketika aku menjadi istri Vino. Masak untuknya? Tidak boleh makan di luar? Apa calon mertuaku ini pelit ya sampai menuntut aku untuk bisa masak?
“Sudahlah Mah, Gita dan Vino sudah sama-sama dewasa. Biar mereka menentukan segalanya sendiri. Kita sebagai orang tua tidak usah ikut campur.” kata Papah, calon mertua yang sepertinya—bijak.
“Pah, sebagai orang tua kita wajib mengatur mereka sebelum Gita dan Vino mengerti betul tentang kehidupan pernikahan. Jangan sampai Vino lepas dari Gita dan mencari sosok istri yang lain.” balasnya dengan tajam.
Mencari sosok istri yang lain? Oke, jika aku boleh mengemukakan suara hatiku, aku akan berkata pada calon mertuaku yang tersayang itu, ‘aku harap Vino akan mencari istri baru agar aku bisa bercerai dengannya dan kembali hidup bebas tanpa terbebani oleh Anda dan juga aturan Anda nanti. Calon mertuaku yang tersayang, Menikah dengan Vino bukan keinginanku, tapi keinginan Pap. Aku rasa begitu juga dengan Vino dan aku akan merencanakan perceraian’.
“Mah, percaya, deh, sama Vino dan Gita. Kita tidak akan bercerai dan Vino percaya dengan Gita, walaupun kami baru beberapa hari kenal. Vino dan Gita tidak akan mengecewakan orang tua kami masing-masing. Iya, kan, Git?”
Bicara apa kamu Vino?
“I-iya, Mah.” Aku tersenyum lebar memperlihatkan gigi gingsulku.
***
“Awas ya, nanti kalau kita sudah resmi menikah jangan pernah menyentuhku, secuil pun!” kataku dengan nada tajam saat aku dan Vino berada di mobilnya. Vino menatapku sekilas dan kembali fokus pada kemudinya.
“Kenapa? Kita, kan, sudah sah menjadi suami-istri.”
“Ih, pokoknya aku tidak akan membiarkanmu menyentuhku. Berstatus menjadi suami-istri bukan berarti kita juga melakukan hubungan intim ya. Aku dan kamu menikah karena keterpaksaan bukan karena cinta. Awas saja kalau sampai kamu berani menyentuhku.” Seruku dengan nada lebih tajam dan mengancam.
“Memang kamu mau apa kalau aku menyentuhmu? Mau lapor polisi, hahaha.” Vino terkekeh.
Aku mengernyitkan dahi, kesal.
“Tenang saja, kamu bukan seleraku. Kalaupun aku sampai jatuh cinta pasti ada yang salah dengan mata dan otakku.”
“Memangnya aku terlalu jelek apa?” Gumamku kesal.
“Aku tidak bilang kamu jelek. Tapi, kalau kamu menyadarinya, syukurlah.”
Aku merasa darahku naik sampai ke ubun-ubun. Angin beliung mengamuk di dadaku. Ini namanya penghinaan. Mentang-mentang Tuhan menganugerahkannya wajah tampan, seenaknya saja menghinaku. Dia pikir wajah tampannya untuk disombongkan?!
“Turunkan aku di sini.” Pintaku tajam. Vino menoleh sekilas.
“Aku cuma bercanda, jangan marah. Mamah menyuruhku untuk membawamu ke kantor.” Katanya tenang.
“Kenapa kamu selalu menuruti keinginan Mamahmu sih? Kamu golongan darahnya A ya?” Aku mulai penasaran dengannya.
“Aku sayang Mamah. Aku tidak mau Mamah sakit lagi. Ketika aku tahu dia terkena serangan jantung karena aku, aku benar-benar merasa bersalah. Aku berjanji pada diriku sendiri untuk menuruti segala permintaannya. Termasuk perjodohan konyol ini.” Aku melihat guratan penyesalan yang tergambar jelas di wajah Vino.
“Memang golongan darah A itu kenapa? Kamu bisa membaca karakter orang dari golongan darahnya?” Dia menoleh dengan dahi mengernyit.
“Tidak juga. Aku hanya pernah membaca artikel tentang golongan darah saja. Ehmm, Memangnya apa sih kesalahan yang kamu lakukan?” Belum sempat Vino menjawabnya ponsel Vino berdering. Dia mengangkat ponselnya.
“Apa dia di kantor?”
***
Kantor Vino begitu tinggi menjulang. Cukup menakutkan bagiku yang jarang masuk ke knator besar dengan lantai yang—berlipat-lipat. Layaknya gedung-gedung pencakar langit lainnya di Jakarta. Namun, meskipun berada di kota metropolitan, Gedung ini begitu asri. Sepanjang jalan menuju gedung terdapat banyak sekali tanaman-tanaman yang menyegarkan mata.
“Papah yang minta agar sekeliling kantor penuh dengan tanaman.” kata Vino seolah membaca isi pikiranku saat mataku memandang bingung tanaman-tanaman itu.
“Konsepnya go green, ya?” tanyaku menyamai langkah kaki Vino.
“Mungkin.” balasnya yang mengarah ke arah tatapan ‘terserah mau kasih nama konsep apa’. Ketika kami berada tepat di dalam gedung. Vino menghentikan langkahnya. Tatapan yang penuh arti dan bermakna begitu dalam ditujukan ke mata wanita yang berpapasan dengannya. Tepat di depan Vino. Wanita cantik dengan postur tinggi semampai dan bibir penuh nan seksi berwarna merah semerah buah cherry. Untuk beberapa saat aku menatap sepasang mata yang bersitemu itu.
Wanita itu menatapku sekilas, aku melempar senyum kecil tapi wanita cantik itu tidak membalasnya. Lalu dia kembali menatap Vino sekian detik dan melanjutkan langkahnya keluar dari kantor. Vino membeku sesaat, sebelum dia menyadari keberadaanku di sampingnya. Sepertinya Vino dan wanita itu punya hubungan khusus. Tatapan mata mereka sulit diartikan oleh mata telanjangku. Namun, aku masih mampu menangkap tatapan mata Vino yang tampak bersalah dan pedih kepada wanita itu.
***
Pernikahan terburu-buru diasumsikan ada sesuatu, seperti udang di balik batu. Kenyataannya memang tidak ada sesuatu di antara kami, aku dan dia hanya terjebak dalam keinginan orang tua.
***
“Siapa dia?” Kami melanjutkan langkah menuju ruangan Vino di lantai berapa gitu, pokoknya lantai paling atas.
“Katrina Syafa. Tahu, kan?” Ia menjawab dengan wajah muram.
“Tidak. Memangnya dia kerja di bagian apa?” Aku bertanya polos.
“Punya tv tidak, sih? Masa kamu tidak kenal Katrina?!” Aku mengedikkan bahu karena terkejut mendengar nada suaranya yang meninggi.
“Memangnya dia siapa? Artis?” Komentarku dengan nada tinggi, efek dari emosi yang tiba-tiba menyelinap di kepala. Nada tinggi Vino menaikkan darahku sampai ke ubun-ubun.
“Iya,” sahutnya, terdengar menyebalkan.
Sejujurnya, aku tidak peduli wanita itu artis atau bukan. Aku kan hanya bertanya kenapa Vino menjawab dengan nada tinggi, seolah menekankan kalau wanita itu sosok selebriti yang terkenal dan suatu kesalahan bagiku karena tidak mengenalnya.
Setibanya aku di ruangan Vino. Sosok lelaki berahang kukuh mendekat, menjabat tanganku dengan ramah. “Roy.” Ia tersenyum lebar, sampai aku takut kalau bibirnya terlepas dari wajahnya. Saking lebarnya senyuman itu. Hihihi.
“Gita.” jawabku membalas senyumnya seramah mungkin.
“Roy ini asisten pribadiku. Bisa dibilang, dia itu sahabat, teman dan rekan kerjaku juga. Intinya Roy ini orang yang serba guna.” Jelas Vino, terkekeh.
“Iya, begitulah aku. Kalau Vino nakal padamu, kamu bisa bilang ke aku. Meskipun, aku belum tentu akan membelamu, hahaha...” Kali ini tawanya menggelegar seperti guntur, membuatku nyaris terloncat dari lantai yang aku pijak. Namun, akhirnya canda Roy berhasil membuatku tertawa kecil.
“Roy memang punya tawa yang mengaggetkan.” kata Vino santai.
“Silahkan duduk.” Aku duduk di sofa berwarna camel disusul Roy. Vino terlihat fokus menatap ke arah jendela seolah sedang melakukan perenungan.
Dekorasi ruangan ini sangat mengaggumkan. Desainnya membuatku nyaman berlama-lama di dalam ruangan. Furniture-nya terkesan klasik dan elegan.
“Kantor ini kan sebentar lagi akan menjadi milikmu juga. Jadi sering-seringlah ke sini dan jangan lupa berbaur dengan karyawan sini.” Ujar Roy ramah. Senyumnya seperti tidak lepas dari wajahnya. Jika diperhatikan lebih lagi, wajah Roy seperti permen karet. Lucu dan rasanya ingin menarik pipinya. Apalagi ketika ia tersenyum. Benar-benar menyerupai permen karet yang elastis.
“Apa rencana kalian setelah menikah? Aku dengar kalian akan bulan madu ke Eropa, ya?” seketika mataku berbinar cerah mendengar pertanyaan Roy. Benarkah aku akan jalan-jalan ke Eropa? Kedua daun bibirku sedikit terbuka, tidak tahu akan berkomentar apa. Aku saja tidak tahu tentang rencana bulan madu itu.
“Tentu Roy. Tapi bukan Eropa, aku dan Gita akan bulan madu di Hutan sss tepatnya di kedalaman Sungai Amazon.“ Sahut Vino dengan nada suara serius. Aku dan Roy terkejut mendengar jawabannya. Vino kembali menatap ke arah luar jendela, seakan apa yang dikatakannya barusan adalah hal biasa.
“Memangnya aku ini berang-berang apa?” Gerutuku.
“Hahaha.” Roy tertawa keras. “Kalian ini lucu sekali!” lanjutnya. Aku menatapnya heran. Apanya yang lucu?
“Roy, aku memang akan menikah dengan Gita. Tapi, kamu tahu, kan, aku dan Gita tidak saling mencintai. Kami tidak akan bulan madu atau semacamnya.” Vino berhasil membungkam Roy. Mataku yang berbinar lenyap seketika mendengar ucapan Vino. Roy melirikku canggung. Aku hanya bisa menganggukan kepala, membenarkan ucapan Vino.
Bagiku membicarakan keaslian perasaan Vino dan perasaanku adalah hal yang sensitif. Dan sejujurnya aku tidak suka Vino mengatakannya pada Roy. Aku ingin hanya aku dan Vino yang tahu tentang kami.
***