Samana menarik napas panjang, memejamkan matanya dan mengingat banyak hal, luka, penghianatan dari beberapa orang yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri. Ada banyak kekecewaan yang sengaja Samana tutupi, ia tidak ingin memaksa seseorang untuk bisa menalar kata-kata Samana. Ia sadar setiap manusia dibekali kualitas otak yang berbeda-beda. Terkadang Samana menjumpai orang sederhana namun punya etika, kadang bertemu dengan orang berpendidikan tapi minim empati, ada juga orang yang cerdas dan juga memiliki etika dan empati. Semua ini tergantung hati, sifat atau karakter seseorang. Kualitas hati seseorang bisa sangat terlihat dari lisan dan juga cara ia memperlakukan seseorang. ''Wah jika kasusnya seperti ini sudah beda makna. Berarti kesimpulannya memang ada yang menyulut api,'' ucap

