Waktu terus berjalan, hari, bulan bahkan tahun ke tahun telah berganti angka. Dan yang pasti usia Samana bukan remaja lagi. Sekian tahun yang lama berada dalam persembunyian dia melakukan banyak hal untuk kembali menutup senjata batinya. Walaupun telah lama menutup ketajaman intuisinya namun dia tetap tidak bisa menghilangkan kelebihan yang ada dalam dirinya. Tirai yang sengaja dia pakai untuk melindungi dirinya serta menutupi kelebihannya di singkap kan beberapa orang.
Awalnya seseorang bisa sangat baik dan mendekat karena membutuhkan pertolongan serta kesembuhan. Lalu setelah keinginannya terpenuhi, dia pun pergi begitu saja Seolah-olah enteng sekali mematahkan tali silaturahmi. Dan kisah itu berawal dari Gading Hastanta, seseorang yang menjadi jembatan silaturahmi antara Ranu Candramaya dan Samana. Tepatnya ini terjadi setahun silam.
Ranu Candramaya berada di negara yang berbeda dengan Samana. Ranu seorang pasien yang sudah menjadi anak Samana dalam dunia Healing Soul. Samana adalah Mother Of Healing, penyembuh bagi mereka. Di sebut ibu, karena orang yang sudah bisa mengobati. Namun Samana yang lebih muda dari Ranu dianggap sebagai adik dalam dunia nyata. Memang umur Samana lebih muda dari Ranu Candramaya.
Dreeeeerttdd … dreeeeerttdd …, notifikasi getaran handphone di tangan Samana yang menandakan ada pesan masuk dari aplikasi w******p.
Kebetulan sekali Samana sedang memegang handphonenya. Ia sedang asyik searching berselancar mengelilingi Dunia menggunakan transportasi aplikasi Google favoritnya. Fokusnya dalam membaca tautan pun mulai teralihkan, karena banyak sekali pesan yang muncul di handphonenya.
Samana tampaknya agak risih dengan chat w******p yang masuk dari nomor yang tidak tersimpan di handphonenya. Ia memang tidak terbiasa merespons chat atau panggilan suara dari nomor baru yang tidak dikenalnya. Ia sibuk menutup chat yang muncul di bagian atas handphonenya.
Samana berulang kali menghilangkan pesan yang muncul dengan mengibaskan jari telunjuknya ke layar handphonenya dan menggeser ke atas. Alhasil nihil, karena yang ia lakukan tidak membuat chat-chat itu berhenti muncul. Beberapa saat Samana terlihat masih asyik dan terus membaca di aplikasi google. Makanya mengabaikan privasi chat w******p dari nomor yang tidak dikenalnya. Karena lama-lama merasa sudah sangat tidak nyaman, akhirnya menyentuh layar handphonenya dengan jari telunjuknya dari atas layar ke bawah untuk melihat dan membaca pesan-pesan yang masuk itu.
+62 824 2894 ×××× : Say …
+62 824 2894 ×××× : Maaf kalau aku ganggu, minta waktunya sebentar ya.
+62 824 2894 ×××× : Ini aku Gading, kita pernah dua kali bertemu pas aku lagi main di tempat Nadia Ranum, ingat apa gak?
+62 824 2894 ×××× : Say. Jawab chatku, Say!
+62 824 2894 ×××× : Sayyyyy!
+62 824 2894 ×××× : Tolongin aku! Ini teman aku yang sakit aneh!
+62 824 2894 ×××× : Balas chatku. Duh malah gak di read.
Pesan w******p dari Gading Hastanta.
Samana berpikir sejenak untuk mengingat kembali siapa itu Gading Hastanta. Samana memang pernah sekilas bertemu dengan orang ini namun mereka tidak pernah mengobrol. Jadi heran juga kenapa Gading Hastanta berani privasi chat ke Samana. Lalu Samana membuka phone book dan mengetikkan beberapa pesan untuk seseorang.
Anda: Hai Ranum, lagi apa?
Anda: Kebetulan sekali kamu pas online.
Anda: Ranum! Hayo chat sama siapa? Dari tadi aku wa malah ga buka chatku.
Anda: Hai, holla ...
Anda: Suit ... suit?
Ceklis dua tertanda pesan masuk, nampaknya Nadia Ranum sedang sibuk atau penting dengan chat yang lain. Buktinya pesan w******p dari Samana tidak langsung di bacanya.
Nadnad Rum: Lagi duduk santai sama ibu bapakku.
Nadnad Rum: Eh apa sih?
Nadnad Rum: Chat sama siapa? Ehhhhhh, biasa kok sama si itu?
Setelah lima menit berlalu chat dari Janitra Samana centang dua dan berwarna biru yang mengartikan bahwa Nadia Ranum sudah membuka pesannya.
Nadnad Rum: Ada apa Samana?
Nadnad Rum: Tumben jam segini chat.
Balasan dari pesan w******p. Nadia Ranum kepada Samana.
Anda: Oh lagi santai ya, enaknya jam segini sudah bisa santai-santai.
Anda: Hehehe, salam ya sama ibu bapakmu.
Nadnad Rum: Ok, say!
Nadnad Rum: Jadi ada apa ini, apa mau curhat masalah cowok atau curhat masalah hantu.
Anda: Ahhhhh, kamu ini bisa aja!
Anda: Hahaha.
Nadnad Rum: Hantu gak usah di curhatin. Jadi bahas yang lain saja ya.
Anda: Aku mau nanya, Mas Gading kok w******p ke aku, apa kamu yang beneran kasih nomorku ke dia?
Samana melanjutkan chating w******p dengan Nadia Ranum.
Nadnad Rum: Iya!
Nadnad Rum: Maaf ya, habisnya Gading maksa!
Anda: Ohh!
Nadnad: Sorry ya say!
Anda: Ho’ooh.
Nadnad Rum: Maaf ya, habisnya tadi Gading Hastanta maksa banget. Katanya darurat, ada temennya yang sakit, jadi dia ada perlu sama kamu Samana?
Nadia Ranum kembali membalas pesan dari Samana.
Anda: Oh, gitu ya. Ehmmm, lain kali jangan share nomor aku. Tahu sendiri aku gak gampang respon. Gak enak aja kalau misalnya ada yang chat trus aku cuekin.
Anda: Padahal aku gak ingin ada orang yang tahu jika aku ....
Anda: Tapi sudah terlanjur, ya udah deh.
Nadnad Rum: Kenapa? Kamu kan memiliki kemampuan spiritual. Wajar jika ada orang yang mencari dan meminta bantuan.
Anda: Ya, kamu tahu jika aku tidak sembarangan menggunakan itu. Aku juga tidak membuka praktek pengobatan.
Anda: Kenapa mencari ku, meminta bantuan kepada bocah ingusan ini.
Anda: Ini Mas Gading chat aku tapi belum aku balas.
Balas Samana.
Nadnad Rum: Sebaiknya kamu balas dulu, sepertinya chat Gading Hastanta itu darurat banget.
Nadnad Rum: Mungkin tentang seseorang yang dalam kesusahan.
Pesan w******p dari Nadia Ranum.
Anda: Baiklah Nadia Ranum.
Anda: Nanti sambung lagi ya.
Balas Samana.
Nadnad Rum: Ok, Samana.
Tutup chat dari Nadia Ranum.
Merasa tidak enak hati dengan Nadia Ranum sahabatnya, akhirnya Samana membalas pesan w******p dari Gading Hastanta. Samana mengetik pesan untuk Gading.
Anda: Kok, bisa chat kesini, gimana caranya. Hayo siapa yang kasih nomornya. Mas Gading dapat nomor ku gimana caranya.
+62 824 2894 ×××× : Maaf ya, aku minta nomor telepon kamu sama Nadia Ranum.
+62 824 2894 ×××× : Penting bin darurat soalnya ini. Sedikit memaksa seseorang agar mau memberikan nomor kamu untuk ku.
+62 824 2894 ×××× : Apa aku boleh kerumah kamu, sekarang?
+62 824 2894 ×××× : Samana
+62 824 2894 ×××× : Balas yuk!
Anda: Duh!
Anda: Itu ... aku ada urusan.
+62 824 2894 ×××× : Tunggu!
+62 824 2894 ×××× : Samana, jangan pergi. Balas dulu.
Anda: Maaf, Mas Gading.
Aduhhhh! Mampus. Responnya Samana kurang bagus. Aku, kan sudah sopan. Kamu di telfon, juga gak diangkat, batin Gading.
Gading kembali mengetik pesan.
+62 824 2894 ×××× : Aku darurat banget! Tolongin aku Samana.
Pinta Gading Hastanta, sembari memohon kepada Samana.
Anda: Ada apa sih Mas?
Samana kembali bertanya.
+62 824 2894 ×××× : Aku ceritakan sedikit disini ya. Jangan pergi dulu, kumohon baca dulu.
+62 824 2894 ×××× : Jadi gini ya, aku itu kan punya teman posisinya di luar negeri.
+62 824 2894 ×××× : Dia kondisinya memperhatikan, dia itu sudah berobat ke mana-mana dan di obati banyak orang pula.
+62 824 2894 ×××× : Yang ngobati itu ada yang dari dalam negeri dan luar negeri tapi belum sembuh juga temenku itu.
+62 824 2894 ×××× : Kamu tolonggginn ya, lihatin. Janitra aku minta tolong dengan sangat.
+62 824 2894 ×××× : Tolonglah.
Ungkap Gading Hastanta.
Anda: Mas Gading Hastanta! Kok minta tolong ke Samana sih.
Anda: Aku tidak bisa apa-apa, mas Gading.
+62 824 2894 ×××× : Jangan merendah, kamu ini.
+62 824 2894 ×××× : Aku juga gak tahu kenapa tiba-tiba mikirnya ke kamu dan merasa yakin saja untuk membahas ini sama kamu Samana.
Percakapan via chating antara Samana dan Gading Hastanta terus berlangsung. Gading sedikit memaksa kepada Samana, agar mau membantu.
Bersabarlah, setiap orang punya waktunya masing-masing. Pelan-pelan saja, sambil terus berusaha. Jika sudah waktunya, kamu pun bisa mengecap nikmatnya sukses yang sudah kamu perjuangkan.