''Kak say, kenapa menyuruh aku pulang belakangan. Adakah sesuatu yang ingi disampaikan?'' Ranu tampak gelisah, berulang kali memegangi jari tangan dan bergerak beradu kuku. Ada rasa takut yang ia tutupi dari Samana. Ranu khawatir jika Samana sampai membahas apa yang pernah ia lakukan kemarin. Lebih tepatnya setahun yang lalu. ''Tentu saja.'' Tersenyum menoleh ke arah Ranu. ''Aduh aku jadi ngeri, apakah ada sangkut pautnya dengan kisah horor tadi?'' Ranu terlihat serius, sesekali menyeka keringatnya yang sudah menumpuk di kening dan lehernya. ''Ayo ikuti aku, kita ngobrol santai,'' ajak Samana. Ia yang sudah berjalan beberapa langkah harus berhenti, menoleh ke arah Ranu yang masih terpaku di kursi biru. ''Kemana? Apa Kak say sudah longgar. Tadi ada banyak tamu, apa sudah pulang semu

