Sementara itu, di tempat lain di pusat kota, suasana di klub malam Dragonfly terasa begitu membara. Lampu-lampu laser berwarna-warni menyambar-nyambar di udara mengikuti dentuman musik EDM yang menggelegar dari meja DJ. Ratusan orang menari dan bersenang-senang, larut dalam kegelapan malam dan kebebasan yang ditawarkan oleh alkohol.
Di area VIP yang berada di lantai dua, suasananya sedikit lebih privat namun tetap riuh. Gilang Admaja duduk di sofa kulit hitam paling tengah. Di sampingnya duduk Reno dan tiga orang pria paruh baya berkebangsaan asing yang merupakan para investor dari Singapura.
Di atas meja kaca di depan mereka, terhidang puluhan botol minuman keras kelas atas bernilai ratusan juta rupiah. Beberapa wanita pemandu bernampilan sangat seksi dengan gaun serba terbuka tampak duduk menemani para investor tersebut, memanjakan mereka dengan senyuman dan minuman.
"Cheers, Mr. Gilang! Kesepakatan yang sangat luar biasa!" seru salah satu investor asing sambil mengangkat gelas kristalnya yang berisi whisky.
Gilang tersenyum tipis, mengangkat gelasnya perlahan lalu menyesap minuman beralkohol tinggi itu hingga tandas. "Terima kasih, Mr. Chen. Dokumen resminya akan disiapkan oleh tim hukum saya besok pagi di kantor."
"Ha-ha-ha! Luar biasa! Gilang Admaja memang tidak pernah mengecewakan dalam berbisnis!" sahut Reno penuh semangat sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
Namun, di balik senyuman dingin dan sikap profesionalnya saat membicarakan proyek triliunan rupiah tersebut, pikiran Gilang sama sekali tidak berada di ruangan itu.
Fokusnya telah terpecah total sejak ia melangkahkan kaki keluar dari apartemennya.
Setiap kali Gilang melihat wanita-wanita seksi di klub malam itu—wanita yang memakai pakaian sangat terbuka, menari menggoda, dan sengaja mendekati dirinya—Gilang sama sekali tidak merasakan desiran gairah apa pun. Benda di balik celananya yang tadi menegang hebat kini kembali 'mati', dingin, dan lemas tanpa rasa.
Tatapan mata Gilang menerawang jauh. Bayangan wajah Sekar yang menangis, kepolosan gadis itu yang terancam, bentuk dadanya yang padat berisi saat gaunnya terobek, serta kehangatan kulit leher sekretarisnya itu terus berputar-putar menguasai isi kepalanya.
Rasa lapar yang belum tuntas itu makin menjadi-jadi di dalam dadanya. Alkohol yang diminumnya bukannya memadamkan gairah itu, melainkan justru makin menyulut api obsesinya terhadap Sekar.
Reno yang menyadari perubahan raut wajah sahabatnya itu menyenggol lengan Gilang pelan.
"Ada apa denganmu, Lang? Kau kelihatan tidak tenang dari tadi," bisik Reno penasaran. "Proyek sudah kita amankan. Wanita-wanita paling cantik di klub ini siap menemanimu kalau kau mau. Kenapa wajahmu makin ditekuk begitu?"
Gilang melirik Reno dengan tatapan mata yang pekat dan dingin. Ia meletakkan gelas kristalnya di atas meja dengan dentingan cukup keras.
"Aku tidak tertarik dengan wanita-wanita di sini, Reno," jawab Gilang datar.
Reno tertawa kecil, menganggap ucapan sahabatnya sebagai lelucon lama. "Ah, aku lupa... penyakit lama 'kan? Kau masih belum bisa terangsang juga? Padahal lihat wanita di sebelah Mr. Chen itu, bentuk tubuhnya luar biasa seksi. Kau benar-benar tidak merasakan apa-apa?"
Gilang tidak menjawab pertanyaan Reno. Ia memilih bangkit berdiri dari sofanya, merapikan jasnya yang terpasang sempurna.
"Urus sisanya, Reno. Pikirkan draf kontraknya dengan tim Singapura. Aku harus pulang sekarang," kata Gilang tanpa bisa dibantah.
"Hei! Kau mau pergi sekarang? Acara baru saja dimulai, Lang!" seru Reno terkejut.
"Urusanku di rumah jauh lebih penting daripada acara minum-minum ini," sahut Gilang dingin.
Tanpa membuang waktu lagi untuk berpamitan pada para investor, Gilang berbalik arah dan melangkah lebar meninggalkan ruangan VIP tersebut. Pikirannya kini hanya tertuju padha satu hal: kembali ke apartemen mewah tempat Sekar dikurung, dan menuntaskan gairah panas yang sempat tertunda malam ini.